Rabu, 24 Juli 2013, 14:28 –
Kementerian Agama Sumbar Latih Konselor Perkawinan dan Keluarga

Padang, Humas – Sebagaimana angka nasional, angka perceraian di Sumatera Barat dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Tahun 2010 di Sumatera Barat angka perceraian berjumlah 4929 kasus meningkat menjadi 4984 tahun 2011. Jumlah itu mencapai 10% dari angka nikah pada tahun yang sama yakni 52480 kasus. Hal ini telah menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Kementerian Agama (Kemenag) sebagai wakil pemerintah yang diserahi tugas pokok mengurusi pembangunan kehidupan beragama dituntut berperan dalam mencarikan solusinya. Terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi)nya dalam pembinaan keluarga sakinah, Kantor Wilayah Kemenag Prov. Sumatera Barat melatih tenaga konselor perkawinan dan keluarga selama 3 (tiga) hari dari tanggal 22 s.d 24 Juli 2013 di ediTel Bundokandung Padang. Drs. H. Asaad, M. Pd selaku Ketua Panitia menyampaikan tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan SDM konselor perkawinan dan keluarga serta membangun konsolidasi konselor untuk menekan angka perceraian di Sumatera Barat. Hadir sebagai peserta pada pelatihan adalah tenaga konselor perkawinan di KUA kecamatan se Sumatera Barat sebanyak 40 (empat puluh) orang. Tenaga konselor tersebut dari berbagai latar belakang, yakni pengurus BP4 kecamatan, Penghulu dan Penyuluh Agama Fungsional. Kakanwil Kemenag Sumatera Barat dalam arahannya menyampaikan, bahwa salah bentuk kesuksesan Kemenag dalam pembangunan kehidupan beragama adalah terwujudnya keluarga sakinah di tengah-tenga masyarakat. Untuk itu pendidikan agama di keluarga dan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Dalam konteks inilah salah satunya peran tenaga konselor dibutuhkan. “kita memandang tenaga konselor adalah tenaga pendidik agama bagi keluarga muslim”. “Maka peran konselor tidak terbatas ketika terjadi kasus-kasus perkawinan dan keluarga saja. Yang penting dipikirkan konselor adalah pendidikan agama masyarakat secara terus menerus. Hal ini dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk dan dengan memanfaatkan berbagai media yang ada”. Imbuhnya.

Masih banyak masalah

Sementara itu, Drs H Damri Tanjung MA selaku narasumber menekankan pentingnya sinergi konselor dalam melaksanakan tugas penasehatannya. Sebab persoalan perkawinan dan keluarga sangatlah kompleks. Terkadang pendekatan agama saja tidak cukup. Pendekatan ekonomi, psikologi dan kesehatan sangat dibutuhkan. Menurut Kabid Urais dan Binsyar ini, inilah yang menjadi tantangan tenaga konselor yang ada saat ini. Sebab pada umumnya mereka berlatar belakang pendidikan agama. “Sebab itu, ke depan bidang Urais dan Binsyar akan terus memperhatikan peningkatan SDM konselor dengan ilmu dan keterampilan khusus sesuai kebutuhan penasehatan di lapangan”. Tutupnya. (w3l)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 1.373713 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.68
Jumlah pengunjung: 926611
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.