Selasa, 2 Agustus 2011, 11:00 –
Kompetensi Penyuluh Agama

Oleh : Dra. Hj. Artina Burhan, M.PdWidyaiswara BDK Padang

I. PendahuluanBerdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, diantaranya adalah Rumpun Keagamaan. Salah satu Rumpun Keagamaan Jabatan Fungsional Penyuluh Agama Islam. Penyuluh Agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa agama. Tugas Pokok Penyuluh Agama diatur dengan Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 54/Kep/MK. WASPAN/9/1999 melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Menurut KMA No. 516 tahun 2003 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsioanal Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa kenaikan pangkat dan Jabatan Penyuluh Agama semenjak 1 April 2000 disyaratkan dengan angka kredit disamping syarat lain sesuai peraturan. Angka kredit adalah suatu angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi kerja yang telah dicapai oleh seorang Penyuluh Agama dalam melaksanakan butir-butir rincian kegiatan. Melalui angka kredit dapat dilihat perkembangan atau prestasi seorang Penyuluh Agama. Angka kredit didapat melalui Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) yang disusun oleh penyuluh sendiri. Jumlah angka kredit diperoleh melalui proses penilaian terhadap DUPAK oleh Tim Penilai, sedangkan Tim Penilai memberikan penilaian berdasarkan bukti fisik dan kelengkapan dokumen yang dilampirkan dengan Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) tersebut. Oleh sebab itu setiap Penyuluh dituntut untuk mempunyai kompetensi dalam penyusunan DUPAK.

II. Kompetensi Penyuluh AgamaUntuk melaksanakan tugas bimbingan dan penyuluhan, maka Penyuluh Agama dituntut memiliki kompetensi sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat secara umum dan secara khusus oleh masyarakat didaerah atau lokasi binaan. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Penyuluh Agama, berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannyaHal tersebut sesuai dengan Modul Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan tingkat III tentang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia halaman 5 pada huruf D, menyebutkan bahwa “….. Sumber Daya Manusia (SDM) semakin penting dan mempunyai peranan yang sangat strategis, bahkan dapat dikatakan menjadi kunci keberhasilan organisasi dalam setiap proses pelaksanaan kegiatan-kegiatannya. Agar SDM dimaksud dapat berperan, berfungsi dan mampu kompetitif, maka kompetensi SDM merupakan prasyarat yang tidak dapat diabaikan karena melalui kompetensi yang berkualitas akan menunjukkan kemampuan (competency) sebagaimana diharapkan.Penyuluh Agama minimal memiliki dua kompetensi, yaitu kompetensi substantif dan kompetensi manajerial. Kompetensi substantif adalah kemampuan dalam memberikan bimbingan agama dan penyuluhan pembangunan, kemampuan melakukan pembinaan terhadap kelompok penyuluhan agama, kompetensi dalam melakukan pembinaan kepada lembaga keagamaan, dankompetensi dalam pemberian penerangan tentang pembangunan.Sedangkan kompetensi manajerial adalah berupa kemampuan dalam membuat perencanaan meliputi rencana operasional, rencana tahunan dan rencana lima tahun, dan kemampuan dalam mengorganisir tugas, dan kemampuan melakukan pengkoordinasian, dan kemampuan menggerakan semua potensi yang ada, serta kompetensi dalam melakukan pengawasan. Boyatzis memberikan batasan kompetensi secara luas yaitu sesuatu yang mendasari karakteristik seseorang. Kompetensi dapat berupa “ suatu motif, sifat, keterampilan, aspek self image seseorang atau peran social, ataupun suatu pengetahuan yang digunakan oleh seseorang”Kompetensi menurut Rotwell dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:1. Kompetensi Teknis (Teknical Competence), yaitu kompetensi mengenai bidang yang menjadi tugas pokok organisasi;2. Kompetensi Manajerial (Managerial Competence) adalah kompetensi yang berhubungan dengan berbagai kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam menangani tugas-tugas organisasi;3. Kompetensi Sosial (Sicial Competence) yaitu kemampuan melakukan komunikasi yang dibutuhkan oleh organisasi;4. Kompetensi Intelektual/Strategik (Intelektual/Strategic Competence) yaitu kemampuan untuk berfikir secara stratejik dengan visi jauh kedepanDalam kaitan pengembangan kompetensi, pada hakikatnya, kompetensi Penyuluh Agama dapat dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok yaitu: kompetensi umum artinya dalam level organisasi yang eselonnya setingkat (setara) walaupun substansi/tugas pokok organisasinya berbeda, namun jenis kompetensi umum yang dibutuhkan atau yang yang dimiliki dapat disamakan, yang kedua adalah kompetensi khusus, artinya setiap Penyuluh Agama tidak dapat disamakan jenis kompetensinya, karena latar belakang teknis substantif.Kompetensi teknis meliputi tugas teknis/tugas subtantif. Kemampuan teknis meliputi kemampuan dalam memberikan bimbingan (konsultasi) agama, kemampuan dalam melakukan penyuluhan agama, kemampuan dalam membina kelompok penyuluh agama, kemampuan dalam membinaan lembaga keagamaan, dan kemampuan dalam memberikan penerangan tentang pembangunan.Kemampuan manajerial meliputi kemampuan membuat perencanaan, perencanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang, kemampuan dalam mengorganisir tugas-tugas pokok yang akan dilaksanakan, dan kemampuan dalam melakukan sinergi atau menserasikan antara pelaksanaan tugas dengan tugas lain yang sejenis, serta kemampuan dalam menggerakan anggota dalam daerah /kelompok binaannya.)Kompetensi Penyuluh Agama meliputi kemampuan teknis (technical Competence) dan kemampuan Intelektual/Strategik (Intelektual/Strategic Competence), dalam melaksanakan tugas pokok baik unsur utama ataupun unsur penunjang dan kemampuan untuk berfikir secara strategi dan jauh kedepan. Bukan hanya melaksanakan butir-butir kegiatan saja tapi juga mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam mengadministrasikan surat-surat atau bukti fisk dari kegiatan yang menjadi tugasnya.Penyuluh Agama sebagai jabatan fungsional dibentuk untuk lebih memberikan jaminan karier dan kepangkatannya karena kenaikan pangkat dan jabatan Penyuluh Agama melalui angka kredit yaitu pengharagaan atau prestasi dalam melaksanakan butir-butir kegiatannaya. Bidang dan Unsur kegiatan Penyuluh Agama yang dapat dinilai dan diberikan angka kreditnya adalah : a. Unsur utama dan butir kegiatannya. Unsur utama Pendidikan, meliputi mengikuti Pendidikan sekolah dan memperoleh ijazah/gelar; mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional di bidang penyuluhan dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTP). Kegiatan pendidikan dalam jabatan sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 untuk meningkatkan pengetahuan. Adapun jenis diklat penyuluh agama terdiri dari 5 jenis:1) Diklat Calon Penyuluh Agama2) Diklat Penyuluh Agama untuk diangkat fungsional tingkat dasar dan tingkat lanjutan yaitu Diklat yang dipersyaratkan harus diikuti oleh setiap calon Penyuluh Agama atau PNS yang telah diangkat dalam jabatan fungsional Penyuluh Agama.3) Diklat teknis pengembangan profesi penyuluh agama yaitu Diklat yang dipersyaratkan bagi penyuluh agama yang akan memperoleh sertifikasi untuk diangkat dalam jabatan fungsional penyuluh agama untuk pengembangan spesialisasi bidang tertentu.4) Diklat Instruktur Penyuluh Aagama yaitu diklat sertifikasi bagi Penyuluh Agama yang diangkat sebagai Ketua Kelompok Kerja Penyuluh atau tim Penilai angka kredit penyuluh agama serta pejabat Pembina jabatan fungsional penyuluh agama5) Diklat managemen Penyuluh Agama yaitu diklat sertifikasi yang dipersyaratkan bagi penyuluh agama yang diberi tugas melatih pada diklat fungsional penyuluh agama.b. Bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan meliputi a) persiapan bimbingan atau penyuluhan, ; b) pelaksanaan bimbingan atau penyuluhan; c) pemantauan, evaluasi dan pelaporan hasil pelaksanaan bimbingan atau penyuluhan; d) pelayanan konsultasi agama dan pembangunan.c. Pengembangan bimbingan atau penyuluhan meliputi; a), penyusunan pedoman atau petunjuk pelaksanaan, b) perumusan kajian arah kebijaksanaan pengembangan bimbingan atau penyuluhan, c) pengembangan metode bimbingan atau penyuluhan; d) pengembangan materi bimbingan atau penyuluhan.d. Pengembangan profesi meliputi; a) melakukan kegiatan karya tulis/karya ilmiah di bidang penyuluhan agama, b) menerjemahkan/menyadur buku dan bahan lainnya di bidang penyuluhan agama, c) membimbing Penyuluh Agama yang berada di bawah jenjang jabatannya.e. Penunjang tugas Penyuluh Agama meliputi; a) mengajar atau melatih, b) mengikuti seminar atau lokakarya, c) menjadi pengurus organisasi profesi, d), menjadi anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Penyuluh Agama, e) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, f) menciptakan karya seni kaligrafi, g)menjadi anggota delegasi misi keagamaan. g) memperoleh penghargaan/ tanda jasa, h), memperoleh gelar kesarjanaan lainnya.

III. PenutupHarapan penulis kepada PNS yang sudah diangkat memangku Jabatan Fungsional Penyuluh Agama agar selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensi dalam segala disiplin ilmu mengingat tantangan pelaksanaan dakwah di tengah-tengah masyarakat saat ini semakin berat dan mendasar.Kompetensi Penyuluh Agama dalam tulisan ini merupakan salah satu variabel dari judul KTI penulis “ Kontribusi DDTK Dalam Meningkatkan Kompetensi Penyuluh Agama” yang telah penulis sampaikan pada acara Temu Karya Widyaiswara tingkat Nasional di Hotel Seruni Cisarua Bogor tanggal 6 Mei 2011.

Daftar PustakaDepartemen Agama RI Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Urusan Haji, (2000) Himpunan Peraturan Tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka kreditnya, Jakarta.————————————————, (2001) Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Agama Islam, Jakarta.————————————————, (2003), Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya, Proyek Pembibitan Calon Tenaga Kependidikan Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal, Jakarta Lembaga Adminstrasi Negara, (2008), Modul Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Jakarta, Mubarrak, Ahmad, (2006), Psikologi Dakwah, Rahmat Semesta, JakartaSuharto Rivai, Lintang (2009), Rambu-Rambu Karya Tulis Ilmiah Widyaiswara, Penerbit Buku Ilmiah Populer, Bogor Sahertian, Piet A, (2000), Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta, Rineka Cipta.

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.201600 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 986670
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.