Logo
Gaya Pemimpin Tingkatkan Semangat dan Gairah Kerja Karyawan - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Gaya Pemimpin Tingkatkan Semangat dan Gairah Kerja Karyawan

Admin Sumbar Senin 05, September 2011 | 04:00:00 wib

Drs. Eldison., M.Pd.I Widyaiswara Madya Bdk Padang ABSTRAK Kepemimpinan merupakan suatu hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemimpin organisasi. Efektivitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawa iannya mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya. Gaya kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari orang-orang yang dipimpin. Indikasi turunnya semangat dan kegairahan kerja ditunjukkan dengan tingginya tingkat absensi dan perpindahan karyawan Hal itu timbul sebagai akibat dari kepemimpinan yang tidak disenangi. Pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang mampu membangkitkan se mangat kerja dan menanamkan rasa percaya diri serta tanggung jawab pada ba wahan untuk melaksanakan tugas-tugas penuh tanggung jawab guna mencapai pro duktivitas organisasi. Hal ini adanya tuntutan organisasi bahwa pemimpin dapat memprioritaskan kepemimpinannya yang berorientasi pada tugas dan hu bungan antar manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kematangan bawahan. Karena itu pemimpin dituntut oleh organisasi untuk bisa fleksibel dalam me nggunakan gaya kepemimpinan yang tepat diantaranya yaitu gaya kepemimpinan otokratis, demokratis, dan laissez faire (bebas). A. PENDAHULUAN Organisasi merupakan tempat orang-orang untuk melaksanakan kegiatan ad ministrasi sehari-hari, tanpa adanya manusia tidak mungkin kegiatan ad ministrasi itu akan jalan, karena faktor tenaga kerja manusia memegang peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Setiap manusia mempunyai watak dan perilaku yang berbeda. Hal itu disebabkan karena beberapa hal, misalnya latar belakang pendidikan, keterampilan, watak dasar maupun faktor-faktor lainnya dari tenaga kerja itu sendiri. Keberagaman perilaku tersebut akan mempengaruhi jalannya kegiatan orga nisasi. Hal ini tidak saja akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai oleh organisasi, tetapi juga masyarakat yang menikmati hasil pelayanan tersebut. Sebagaimana kita ketahui, bagaimanapun majunya teknologi jika tidak ditunjang dengan dan oleh tenaga kerja yang cakap maka kemungkinan besar sasaran dari organisasi tidak akan tercapai. Tenaga kerja yang be kerja sesuai dengan fungsinya akan menunjang tercapainya keberhasilan tujuan dari organisasi. Di samping itu peran pemimpin menjadi tidak ka lah pentingnya. Seorang pemimpin organisasi yang bijaksana dan baik ha rus dapat memberikan kepuasan kepada para pekerjanya dan selalu berusaha memperhatikan gairah serta semangat kerja mereka. Tentunya pihak pimpi nan harus mempunyai kemampuan dalam mengelola, mengarahkan,mempengaruhi memerintah dan memotivasi bawahannya untuk memperoleh tujuan yang di inginkan oleh organisasi. Di dalam mengelola karyawan yang ada dalam sebuah organisasi harus di ciptakan suatu komunikasi kerja yang baik antara atasan dan bawahan agar tercipta hubungan kerja yang serasi dan selaras. Dengan meningkatnya se mangat dan kegairahan kerja para karyawan tersebut diharapkan akan men capai prestasi yang tinggi di bidang pekerjaan mereka masing-masing se hingga tujuan organisasi akan tercapai dengan hasil yang memuaskan. B. LANDASAN TEORI 1. Kepemimpinan Dalam kenyataannya pemimpin dapat mempengaruhi semangat dan kegaira han kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kri tis dalam membantu kelompok, individu untuk mencapai tujuan. Ralph M.Stogdill mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut: kepemimpinan manajerial adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok (Stoner, 1986:114). Sementara itu menurut A.M. Kadarman, Sj dan Jusuf Udaya kepemimpinan didefinisikan sebagai seni atau proses untuk mempengaruhi dan menga rahkan orang lain agar mereka mau berusaha untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai kelompok (Kadarman et.al, 1992:110). Menurut Kae H. Chung dan Leon C Megginson kepemimpinan didefinisikan sebagai kesang gupan mempengaruhi prilaku orang lain dalam suatu arah tertentu (Kossen, 1986:181). Sedangkan menurut Edwin A. Fleishman kepemimpinan diartikan suatu usaha mempengaruhi orang antar perseorangan (interpersonal) lewat proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan (Gibson, Ivancevich and Donnely, 1987:263). Dari rumusan-rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk tercapainya suatu tujuan tertentu. Adapun seorang manajer dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu mempunyai dua aspek antara lain: a. Fungsi kepemimpinan Yaitu fungsi yang dilaksanakan oleh pemimpin di lingkungan kelom poknya agar secara operasional berhasil guna. Seorang pemimpin mempunyai dua fungsi yaitu: fungsi yang berkaitan dengan tugas dan fungsi sosial/pemeliharaan kelompok. Fungsi yang berkaitan dengan tugas dapat meliputi pemberian perintah, pemberian saran pemecahan dan menawarkan informasi serta pendapat. Sedangkan fungsi pemeliha raan kelompok/fungsi sosial meliputi semua hal yang membentuk ke lompok dalam melaksanakan tugas operasinya untuk mencapai tujuan dan sasaran. Sebagai suatu misal persetujuan dengan kelompok lain, menengahi ketidaksepakatan kelompok dan sebagainya. Pemimpin yang berhasil menjalankan kedua fungsi tersebut dengan baik adalah pe mimpin yang berhasil. b. Gaya kepemimpinan Yaitu sikap dan tindakan yang dilakukan pemimpin dalam menghadapi bawahan. Ada dua macam gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorien tasi pada karyawan. Sebagai pengembangan, maka para ahli berusaha dapat menentukan mana di antara kedua gaya kepemimpinan itu yang paling efektif untuk kepentingan organisasi atau perusahaan. Salah satu pendeka katan yang dikenal dalam menjalankan gaya kepemimpinan adalah empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Empat system tersebut terdiri dari: - Sistem 1, otoritatif dan eksploitif : manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh manajer. - Sistem 2, otoritatif dan benevolent: manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi ba wahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-pe rintah tersebut. Bawahan juga diberi berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan pro sedur-prosedur yang telah ditetapkan. - Sistem 3, konsultatif: manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perin tah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan keputusan mereka sendiri ten tang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman. - Sistem 4, partisipatif : adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan dite tapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat organisasi/keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. 2. Semangat dan Kegairahan Kerja Di dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari semangat dan kegairahan kerja sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan selalu mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Pekerjaan yang akan diberikan kepada karyawan perlu diperhatikan latarbelakang pendidikan sehingga mereka bekerja dengan semangat dan bekerja dengan cara yang efektif. Yang dimaksud dengan semangat kerja adalah dorongan yang menyebabkan melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik. Sedangkan yang dimaksud dengan kegairahan kerja adalah kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan. Semangat kerja dan kegairahan kerja karyawan mempengaruhi produktifi tasnya. 3. Cara Meningkatkan Semangat dan Kegairahan Kerja Setiap organisasi selalu berusaha untuk meningkatkan semangat dan kegairahan kerja semaksimal mungkin. Timbul pertanyaan di sini bagai mana cara meningkatkan semangat dan kegairahan kerja semaksimal mung kin. Untuk itu di sini akan dicoba untuk memberikan beberapa cara ba gaimana meningkatkan semangat dan kegairahan kerja, baik yang bersi fat material maupun non material. Cara atau kombinasi cara mana yang paling tepat, sudah tentu tergantung pada situasi dan kondisi organi sasi tersebut serta tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu di sini akan dikemukakan beberapa cara: - Gaji yang cukup. - Memperhatikan kebutuhan rohani. - Sekali-sekali perlu menciptakan suasana santai. - Harga diri perlu mendapatkan perhatian. - Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat. - Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju. - Memperhatikan rasa aman menghadapi masa depan. - Mengusahakan karyawan mempunyai loyalitas. - Sekali-sekali mengajak karyawan berunding. - Pemberian fasilitas yang menyenangkan. (Alex Nitisemito, 1991:168-181) C. KESIMPULAN Berdasar uraian bagian-bagian yang terdahulu maka dapat diambil kesim pulan sebagai berikut: 1. Semangat dan kegairahan kerja rendah berkaitan erat dengan ketidak puasan karyawan terhadap penerapan gaya kepemimpinan dalam oganisasi 2. Turunnya semangat dan kegairahan kerja disebabkan tidak sesuainya pekerjaan dengan latarbelakang pendidikan karyawan mengakibatkan karyawan bekerja kurang efektif. 3. Pemimpin dalam sebuah organisasi perlu memberikan reward terhadap karyawan yang berprestasi dan panishman terhadap karyawan yang pemalas. D. DAFTAR PUSTAKA 1. Anto Dajan, 1986, Pengantar Metode Statistik , Jilid I, Edisi kesebelas, Penerbit LP3ES, Jakarta. 2. Alex Nitisemito, 1991, Manajemen Personalia, Edisi Kedelapan, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. 3. Drucker, Peter.F, 1979, Manajemen: Tugas, Tanggung jawab dan Praktek Terjemahan, Penerbit PT Gramedia, Jakarta. 4. Flippo, Edwin B, 1984, Personel Management, Sixth Edition, McGraw Hill, New York. 5. Gibson, Ivancevich and Donnely, 1987, Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses, Edisi kelima, Terjemahan, Penerbit Erlangga, Jakarta. 6. Kadarman, A.M., et.al, 1992, Pengantar Ilmu Manajemen: buku panduan mahasiswa , Jakarta, A.A. Bakelma VitgeversB.V. 7. Kossen, Stan, 1986, Aspek Manusiawi dalam Organisasi, Terjemahan, Penerbit Erlangga,Jakarta. 8. Likert, Rensis, 1986, Organisasi Manusia: Nilai dan Manajemen, Edisi Baru, Terjemahan, Penerbit Erlangga, Jakarta. 9. Stoner, James A.F., 1986, Manajemen, Jilid II, Edisi Kedua, Terjemahan, Penebit Erlangga, Jakarta.

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW