Logo
Bukti Ilmiah di balik Haramnya Daging Babi - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Bukti Ilmiah di balik Haramnya Daging Babi

dharmasraya Selasa 23, Mei 2017 | 10:57:16 wib

BUKTI  ILMIAH  DI BALIK HARAMNYA DAGING BABI

( Memakan babi sama seperti Kanibal)

 

Oleh : Mhd. Yustar, S.Pd, M.Pkim

( Kepala MTs Muhammadiyah pulau Punjung Kab. Dharmasraya)

Email : muh_youstar@yahoo.co.id

 

           Islam telah melarang umatnya segala macam darah, daging babi, dan semua binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Pada awalnya umat Islam meyakini hal ini hanya dengan larangan Allah yang disebutkan dalam Al-Quran. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam semakin takjub dengan kebenaran Al-Quran dengan bermacam-macam bukti Ilmiah yang diungkapkan oleh para ahli Biokimia yang sebagian besar mereka non muslim.

Keharaman babi sering menjadi perdebatan dan menggugah banyak pihak untuk menjawab kenapa babi diharamkan. Argumen awal yang populer adalah ditemukannya banyak kandungan cacing pita pada daging babi. Argumen ini tentu saja pada kemajuan teknologi sangat mudah untuk dipatahkan karena dengan teknik pengolahan dan pensterilan yang baik, cacing pita akan mudah dihilangkan dengan mudah. Argumen lain adalah kandungan kolesterol yang tinggi pada babi. Argumen ini tentu juga akan mudah dipatahkan karena pertanyaan kenapa otak sapi atau udang tidak diharamkan?

                       Babi merupakan binatang yang diharamkan untuk dikonsumsi, banyak fakta ilmiah yang mengungkapkan tentang akibat buruk memakan daging babi. Diantaranya sebagai berikut: Pertama, Struktur DNA daging babi memiliki kemiripan dengan struktur DNA manusia, baik struktur internal maupun struktur DNA kulit luarnya. Sehingga tidak mengherankan kenapa babi sering di pakai untuk pengganti anatomi manusia pada praktek mahasiswa kedokteran.

Kesamaan struktur tersebut, membuat daging sulit di cerna oleh proses metabolisme tubuh manusia. Dalam daging babi memiliki back fat yang tinggi yang mudah mengalami oxidative rancidity, sehingga secara struktur kimia tidak layak di konsumsi.

            Kedua, Menurut Prof. Dr.Ir. Rachman Noor, M.Rur.Sc, seorang pakar genetika ternak dalam bukunya “ Rahasia dan Hikmah Pewarisan Sifat” menyatakan: ‘ babi memiliki tingkat kesamaan SINE (Short Intersperse Nucleotide Element) dan LINE ( long Intersperse Nucleotide Element)  yang sangat tinggi dengan manusia, sehingga memakan daging babi dapat dinilai sama seperti sifat Kanibal, dan dikwatirkan dapat mengakibatkan kelainan generasi berikutnya. Fakta unik lain yang diungkapkan dalam penelitian di laut Selatan di Polynesia dimana terdapat aksi kanibalisme yang berawal dari kebiasaan memakan daging babi, karena adanya kesamaan rasa daging babi dengan daging manusia.

Disamping itu, babi merupakan binatang yang memiliki air seni melimpah sehingga air  seni tersebut masuk ke dalam darah dan bahkan mengotori dagingnya, akibatnya bau daging babi sedikit lebih amis dibanding dengan daging sapi dan bianatang lainnyaa. Kemudian kandungan  asam urat pada daging babi juga lebih besar dibandingkan binatang yang lainnya. Segala macam darah, menurut analis kimia mengandung asam urat ( uric acid) yang sangat tinggi,  jika manusia mengkonsumsi darah maka senyawa uric acid tersebut akan berobah menjadi racun dalam tubuh dan berbahaya bagi kesehatan manusisa. Asam urat akan menjadi sampah dalam darah. Asam urat ini terbentuk dari akibat metabolisme yang tidak sempurna yang diakibatkan oleh kandungan urine dalam makanan. Secara normal senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan 98% asam urat dalam tubuh dikeluarkan melalui urin dan dibuang melalui air seni.

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW