Logo
Prinsip Dasar Ekonomi Islam Dalam Falsafah Adat Minangkabau dan kaitannya dengan sistem bagi hasil dalam Islam - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Prinsip Dasar Ekonomi Islam Dalam Falsafah Adat Minangkabau dan kaitannya dengan sistem bagi hasil dalam Islam

bukittinggi Rabu 24, Mei 2017 | 03:21:31 wib

Prinsip Dasar Ekonomi Islam Dalam Falsafah Adat Minangkabau dan kaitannya dengan sistem bagi hasil dalam Islam

Oleh

Rosmiwati Penyuluh Agama Islam Fungsional Kankemenag Kota Bukittinggi

 

Falsafat adat Minangkabau adalah keseimbangan (equilibrium) dan keadilan (justice), kedua prinsip ini juga tercakup dalam prinsip dasar ekonomi Islam. Prinsip keseimbangan terdiri dari kesederhanaan (moderation), berhemat (parsimony) dan menjauhi pemborosan (extravagance). Dalam falsafah adat Minangkabau, nilai kesederhanaan ditunjukkan oleh:
“balabiah ancak-ancak, bakurang sio-sio, diagak mangko diagiah, dibaliak mangko dibalah, bayang-bayang sapanjang badan” (Berlebihan berarti ria, kalau kurang sia-sia, dihitung dulu baru dibagi, dibalik dulu baru dibelah, bayang-bayang sepanjang badan).


Arti filosofi hidup sederhana dalam mamangan adat ini adalah kesederhanaan ditempatkan dalam tataran proporsional dengan memperhartikan beban jangan melebihi dari kemampuan. Nilai berhemat diakui dalam falsafah adat Minangkabau yang dikutip dalam pepatah-petitih adat berikut :
“bahimat sabalun habih, sadiokan payuang sabalun hujan”
(berhemat sebelum habis, sediakan payung sebelum hujan)


Maknanya adalah sikap hidup hemat dilakukan untuk menghindari ketiadaan atau kemelaratan di masa tua/depan. Sedangkan nilai menjauhi pemborosan, juga dikenal dalam falsafah adat Minangkabau berikut ini :
“wakatu ado jan dimakan, lah abih baru dimakan”
(ketika ada jangan dimakan, sudah habis baru dimakan)


          Maksud fatwa ini adalah ketika tenaga masih kuat dan usia masih muda bekerjalah sekuat tenaga dan kumpulkan harta sebanyak mungkin, sedangkan pada waktu tua menikmati apa yang diperoleh ketika muda. Prinsip keadilan terdiri dari nilai keadilan sosial, keadilan ekonomi dan keadilan distribusi pendapatan. Nilai keadilan sosial dikandung dalam fatwa adat berikut ini :
“gadang jan malendo, panjang jan manindih, cadiak jan manjua kawan, nan tuo dihormati, nan ketek disayangi, samo gadang baok bakawan” (Besar jangan melindas, panjang jangan menindas, cerdik jangan menjual kawan, yang tua dihormati, yang kecil disayangi, sama besar bawa berkawan)
Ini dimaksudkan agar kita saling menghormati dan saling tenggang rasa.
Nilai keadilan ekonomi dikenal dalam falsafah adat Minangkabau. Nilai tersebut termuat dalam fatwa adat berikut :

“mandapek sama balabo, kahilangan samo marugi, maukua samo panjang, mambilai samo laweh, baragiah samo banyak, manimbang samo barek”. (Mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak, menimbang sama berat)


          Prinsip profit and lost sharing  diakui oleh fatwa adat diatas. Bagaimana prinsip tersebut dilaksanakan ? menurut mamang adat dikatakan :
“gadang kayu gadang bahannyo, ketek kayu ketek bahannyo”
(besar kayu besar bahannya, kecil kayu kecil pula bahannya)


Maknanya adalah besar atau kecil suatu untung rugi didasarkan atas besarnya sumbangan yang diberikan pada suatu usaha. Nilai keadilan distribusi pendapatan mendapat tempat dalam falsafah adat Minangkabau. Nilai tersebut terkandung dalam fatwa adat berikut:
“nan lamah makanan tueh, nan condong makanan tungkek”.
(Yang lemah perlu ditunjang, yang miring perlu ditopang)
Maknanya adalah orang yang lemah (ekonomi) perlu ditolong. Siapa yang menolong? Mamangan adat mengingatkan :
“adat badunsanak, dunsanak dipatahankan, adat bakampuang, kampuang dipatahankan, adat banagari, nagari dipatahankan, adat babangso, bangso dipatahankan”. (Adat bersaudara, saudara dipertahankan, adat berkampung, kampung dipertahankan, adat bernagari, nagari dipertahankan, adat berbangsa, bangsa dipertahankan)

         Jadi Sistem Bagi Hasil  yang ada dalam Islam  ternyata telah dipratekkan oleh Orang Minangkabau sejak dulu (sebelum Islam masuk) dalam melakukan kegiatan usahanya. Kontributor (Syafrial)

 

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW