Logo
Olav Putra, Muallaf Muda Itu Kini dipanggil Alif - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Olav Putra, Muallaf Muda Itu Kini dipanggil Alif

lima puluh kota Sabtu 02, September 2017 | 10:49:32 wib

Sarilamak (Inmas)--Raut muka Olav Putra (13 tahun) tampak berkaca-kaca setelah mengucapkan kalimat syahadatain dihadapan Mitra, Kepala KUA Kecamatan Harau. Prosesi mualaf bagi Olav dan Beni Putra kakak kadungnya berlangsung dengan suasana hikmat di Kantor KUA Kecamtan Harau.

H. Ramza Husmen Kakan Kemenag Limapuluh Kota, Sabtu (02/09) berkesempatan menjamu mualaf yang bercita-cita menjadi orang sukses dunia dan akhirat ini. Kepada Olav sambil berkelakar Ramzah menjelaskan, Olav mulai saat ini saya pangil dengan Alif, huruf pertama dalam huruf Arab yang bermakna awal, mudah-mudahan keislam Alif ini menjadi awal dari sebuah kehidupan yang baru untuk kemulian hidup di dunia dan akhirat, harap Ramza.

Menukuk Ramza memotivasi Alif untuk terus belajar dan bersyukur atas nikmat iman yang didapat hari ini, tidak semua orang dibukakan hidayah untuk menikmati Islam, hanya oarang-orang tertentu yang diberikan oleh Allah SWT.

"Saya yakin Alif dengan identitas barus sebagai seorang muslim akan mampu berkembang, belajar dan melaksanakan seluruh ajaran agama secara bertahap, yang akhirnya akan mewujudkan cita-cita Alif",  jelas Ramza sambil menyerahkan bantuan dana pendidikan untuk Alif.

Sambil merangkul tubuh Alif, Ramza membisikkan motivasi serta semangat berislam kepada Alif, Saya yakin bahkan hakqul yakin Alif mampu istiqomah dengan keislamanya. Oleh sebab itu kepada seluruh jajaran Kemenag Lima Puluh Kota yang terkait langsung dengan pembinaan mualaf untuk terus memberikan bantuan kepada Alif. Alif perlu kita bantu bermasa, perlu kita fasilitasi pendidikanya, perlu kita jamin kelangsungan hidupnya, simpul lulusan magister ilmu pendidikan UNP ini.

Mitra Kepala KUA Kecamatan Harau dihadapan kuli tinta menjelaskan, Alif terlahir dari keluarga non muslim yang memiliki garis keturunan Nias. Sepuluh tahun yang lalu orang tua mereka berpisah, ibunya Bedaria mendapakan hidayah keislaman dan menikah dengan seorang muslim di daerah Harau. Sementara Alif masih tetap tinggal dengan ayah kandungnya. Dua tahun yang lalu Ayahnya Yanuar meninggal dunia dan akhirnya Alif dibawa oleh ibunya yang sehari tinggal di pondok batu di ketinggian Sarilamak.

Mitra melanjutkan, setelah mengucapkan kalimat syahadat Alif akan melanjutkan pendidikanya di Pondok Pesantren Darul Funun padang Japang, masih menurut Mitra Alhamdullah setelah berkoordinasi dengan pihak pondok menyatakan kesediaan untuk membatu pendidikan Alif di Darul Funun.

Alif yang sempat diwawancara awak media diruangan humas Kemenag Lima Puluh Kota dengan mata berkaca-kaca menyampaikan, saya merasakan indahnya nikmat iman, jiwa dan raga saya merasa aman setelah mengucapkan kalimat syahadatain. Sekarang tidak ada keraguan bagi saya dalam menjalan kehidupan yang barus, karena saya meyakini Allah S.W.T akan membimbing saya. Saya bangga dengan Keislaman saya, tutup Alif. Indahnya Nikmat Iman (APP/Rina)

 

 

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW