Logo
Kankemenag Siap Fasilitasi Kegiatan STAIDA Payakumbuh - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Kankemenag Siap Fasilitasi Kegiatan STAIDA Payakumbuh

payakumbuh Sabtu 09, September 2017 | 16:14:38 wib

Payakumbuh, Inmas--Tanpa terasa, sudah 7 tahun Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh eksis sebagai sebuah kampus pendidikan agama yang memiliki jurusan spesifik Ilmu Al Qur’an dan Bahasa Arab.

Dalam Lustrum (ulang tahun ke 5 ) STAIDA sempat tertunda, hal itu membuktikan bahwa pengurus civitas akademika STAIDA berusaha maksimal, agar dalam lustrum perdana ini dapat menghasilkan sebuah nilai optimal yang berarti besar bagi  civitas akademika di kampus yang terletak di Koto Panjang Padang Kec. Latina Kota Payakumbuh.

STAIDA Payakumbuh sudah memiliki 4 fungsional dosen yang KTInya sudah bersertifikat nasional serta sudah dipublikasikan secara media, dan 5 orang dosen lainnya sedang diusulkan tahun ini.

Lustrum perdana STAIDA Payakumbuh dilaksanakan di Aula serbaguna Kankemenag Kota Payakumbuh, hari ini Sabtu (09/09/2017) dihadiri langsung Koordinator Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, Eka Putra Wirman yang sekaligus Rektor UIN Padang.

Lustrum perdana dirangkai dengan kuliah umum terhadap 112 mahasiswa baru, diisi dengan Seminar Ilmiah bertemakan Publikasi Ilmiah menuju Open Juornal System (OJS) dengan narasumber Syafrimen, seorang dosen di UIN Raden Intan Palembang yang kesehariannya juga sebagai Asesor Penilai KTI Diktis.

Lustrum dan kuliah umum juga dihadiri Walikota Payakumbuh diwakili Staf Ahli bidang pemerintahan, Edvidel Arda, Ketua DPRD, YB. Dt. Parmato Alam, Pengurus Yayasan Darul Furqon, Devitra, Ketua STAIDA Payakumbuh, Ahmad Deski, Kasubbag TU Kemenag, Mustafa, KBO Intelkam Polres Payakumbuh, Arijas dan Ketua Baznas Kab. 50 Kota, Desemberi. Lustrum ini juga dihadiri para dosen dan pengajar di STAIDA Payakumbuh.

Kepada Ketua Kopertais Wilayah VI dan undangan,Ketua STAIDA Payakumbuh, Ahmad Deski melaporkan bahwa untuk tahun akademik 2017/2018 jumlah mahasiswa STAIDA mengalami peningkatan signifikan. Semua itu terjadi berkat kerjasama yang baik semua unsur civitas yang didukung penuh Pemko Payakumbuh dan Ketua DPRD. Namun STAIDA Payakumbuh dengan usia 7 tahun di Payakumbuh belum memiliki apa-apa yang termasuk sarpras pendukung, karena masih menumpang di Gedung milik MTI Mukhtar Engku Lakung Koto Panjang,” lapor Deski.

Ungkapan senada juga disampaikan Ketua Yayasan Darul Furqon yang diwakili Sekretarisnya, Devitra. “Kemajuan yang dicapai STAIDA Payakumbuh saat ini merupakan semangat jihad para dosen bersama pengurus yayasan dan dukungan masyarakt Payakumbuh. Telah berhasil mewisuda sebanyak 2 kali tahun 2015 dan 2016.

Dengan Bansos Rp500 juta dari Pemko Payakumbuh, STAIDA Payakumbuh masih belum dapat memperlihatkan kemajuan signifikan, khususnya terhadap ketersediaan sarpras, STAIDA Payakumbuh masih butuh uluran tangan dari Pemko dan donator lainnya termasuk dukungan penuh dari Ketua Kopertais wilayah VI Sumatera Barat.

Devitra juga menyampaikan harapan kepada Ketua Kopertais, Eka Putra Wirman, supaya kelak anaknya yang masih sekolah di ICBS melanjutkan kuliah di STAIDA Payakumbuh. Sehingga Ketua Kopertais lebih maksimal berpartisipasi terhadap kemajuan STAIDA Payakumbuh. Untuk berdiri di kaki sendiri, STAIDA Payakumbuh siap menampung semua bantuan, baik moril dan materil, termasuk sumbangsih pemikiran,” ungkap Devitra.

“Selama ini STAIDA Payakumbuh telah berperan dalam pencerahan pendidikan agama di Payakumbuh. Kankemenag Kota Payakumbuh akan berusaha membantu dan berkonstribusi untuk STAIDA Payakumbuh, salah satunya memfasilitasi setiap kegiatan STAIDA Payakumbuh dan penelitian mahasiswa di jajaran kankemenag. Dan baru ini yang bisa kami berikan,” ucap Mustafa.

Keprihatinan terhadap perjuangan STAIDA Payakumbuh juga dirasakan langsung Ketua DPRD, YB. Dt. Parmato Alam.

STAIDA Payakumbuh itu lahir dari rahim Pemko Payakumbuh, dan tugas kita semualah memajukannya secara bersama untuk melahirkan STAIDA Payakumbuh dengan lulusan yang kompetitif. Bidang pendidikan adalah skala prioritas Pemko Payakumbuh dalam rangka penciptaan SDM yang kaya ilmu agama untuk menghadapi tantangan globalisasi yang sering berdampak menurunnya nilai-nilai.

"Kita tidak boleh memandang STAIDA Payakumbuh sebelah mata atau setengah-setengah, karena STAIDA Payakumbuh adalah aset pemko. Silahkan ajukan proposal untuk anggaran 2019, dan kami akan berusaha maksimal, sehingga tahun 2019 mendatang, bansos untuk STAIDA Payakumbuh bisa lipat dua, dan dari STAIDA Payakumbuh nantinya akan lahir para pemikir handal. Terkait hibah harus ditandatangani DPRD, untuk itu segera rampungkan semua berkas dan tetap koordinasi dalam mengambil mufakat,”  ungkap YB. Dt. Parmato Alam sampaikan.

Walikota Payakumbuh melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Edvidel Arda mengharapkan pengurus STAIDA untuk bersabar sejenak dalam rangka mencari solusi perpindahan lokasi STAIDA Payakumbuh dari MTI Koto Panjang ke SMAN 5 Payakumbuh, karena semua tergantung asset dan perlu dibincangkan penuh koordinasi.

“Kami sangat mendukung STAIDA Payakumbuh berada di satu lokasi kampus milik sendiri sehingga tercipta satu konsentrasi penyelenggaraan pendidikan tinggi, namun perpindahan itu mesti melalui proses berhubung SMAN saat ini dikelola oleh pemprov.

Dalam meraih sebuah keoptimalan, STAIDA Payakumbuh mesti didukung komponen sarpras, pendanaan dan kepengurusan yang mantap. Serta didukung dengan berbagai inovasi dan terobosan baru, baik yang datang dari civitas akademika STAIDA Payakumbuh maupun dari Pemko Payakumbuh. Kami salut dan apresiasi dengan kegigihan pengurus yayasan dan Ketua STAIDA Payakumbuh. Semoga Allah membukakan jalan keluar, aamiin,” sambut Edvidel Arda.

Dalam membuka kuliah umum sekaligius seminar ilmiah, Koordinator Kopertais wilayah VI, Eka Putra Wirman menyampaikan terima kasih kepada Pemko dan DPRD Kota Payakumbuh yang telah mendukung keberadaan dan exisnya berdirinya STAIDA Payakumbuh.

“Berdasarkan pengamatan Kopertais, STAIDA Payakumbuh sudah melakukan penyisipan pengurus untuk mencapai penyempurnaan dan kokoh berdirinya STAIDA Payakumbuh. Civitas akademika STAIDA Payakumbuh harus aktif membangun sinergi dengan  Pemko, Sekolah Tinggi / Perguruan Tinggi serta Baznas.

Jaga keharmonisan ditengah perbedaan dengan bijaksana, karena kita lahir dari perguruan yang berbeda, sehingga pola pikir juga beda. Disamping Koordinator Kopertais yang memberikan pembinaan terhadap PTKIS supaya mandiri, Kami juga sebagai Rektor UIN yang akan menciptakan Kompetitor handal. STAIDA Payakumbuh juga mesti lakukan inovasi sehingga STAIDA Payakumbuh bisa mandiri untuk berkompetisi dengan sehat dan mesti yakin untuk menang.

Pengurus STAIDA Payakumbuh mesti berpikir sebagai seorang enterprenuer untuk menghasilkan dana STAIDA Payakumbuh dengan giat melakukan jihad, termasuk mahasiswanya,” arah Eka

Terkait journal Karya Tulis Ilmiah, Eka Putra Wirman menambahkan, “mahasiswa dan dosen harus menguasai IT dengan maksimal dalam rangka menuntaskan tugas dan peningkatan karir dan kesejahteraan. Sesuai dengan Peraturan KemenPAN dan RB bahwa mahasiswa yang akan menamatkan S.1, S.2 dan S.3 wajib membuat KTI yang dipublikasikan secara paper less, tapi melalui publikasi online, termasuk fungsional dosen.

Journal Internasional mengapresiasi tulisa yang berasal dari penelitian 5 tahun terakhir, jangan plagiat tapi harus JADID dengan memaksimalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasilkanlah sebuah KTI yang berkualitas dan bermanfaat,” tukuk Eka.

Dimoderatori Fahrul Usmi, Asesor Penilai KTI Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Syafrimen, Phd memaparkan semua seluk beluk dan tata cara membuat KTI yang berkualitas sesuai standarisasi internasional dan nasional, sehingga BISA TERINDEKS di JOURNAL.

Menurut Syafrimen, “ Biasanya KTI ynag dibuat mahasiswa dan fungsional guru dan dosen dibuat secara hardcopy (manual). Berdasarkan tuntutan zaman, ke depan KTI tersebut harus dibuat dalam bentuk softcopy disamping ada hardcopynya. Penulis KTI harus menguasai IT, karena KTI tersebut harus diinput dan terindek di SCOPUS (milik USA) dengan AK bernilai 40 dan DOAJ (Directory of Open Access Journals) dengan  AK bernilai 20.

Kedua Journal ini menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab. KTI yang kita buat minimal terindek di Google Schooler, dan untuk di Kementerian Agama bernama Moraref,” terang Putra Pesisir Selatan yang saat ini menjadi Dosen di UIN Raden Intan Palembang.

Mahasiswa STAIDA Payakumbuh yang ikut dalam seminar Ilmiah tampak antusias menyimak dan bertanya tentang pola pembuatan KTI yang berkualitas. Termasuk mantan Walikota Payakumbuh periode 1993 s/d 1998, Fahmi Rasyad (73). Kegiatan seminar ditutup dengan sesi dokumentasi. (ul/Rina

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW