Logo
KANTOR KEMENAG KOTA PAYAKUMBUH SELENGGARAKAN WORKSHOP PENYUSUNAN KURIKULUM PONTREN SE KOTA PAYAKUMBUH - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

KANTOR KEMENAG KOTA PAYAKUMBUH SELENGGARAKAN WORKSHOP PENYUSUNAN KURIKULUM PONTREN SE KOTA PAYAKUMBUH

Admin Sumbar Rabu 04, Mei 2011 | 04:00:00 wib

Payakumbuh, Mei 2011 Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh selenggarakan workshop penyusunan kurikulum pondok pesantren se Kota Payakumbuh, Jumat dan Sabtu 29 s/d 30 April 2011 di Gedung Serbaguna Kantor Kemenag Kota Payakumbuh. Acara workshop diikuti pimpinan pondok serta guru-guru kitab kuning pada pondok pesantren se Kota Payakumbuh sebanyak 50 orang. Hadir sebagai pembicara Irfan Junaidi MA yang membahas penyusunan kurikulum pelajaran Nahwu dan Sharaf, H. Mismardi BA yang membahas penyusunan kurikulum pelajaran Tafsir dan Ilmu Hadis dan H. Darius S.Ag yang membahas penyusunan kurikulum Fiqh dan Ushul Fiqh. Acara workshop dibuka secara resmi oleh Kepala Kankemenag Kota Payakumbuh yang diwakili Kasubag TU Zamris S.Pd.I. didampingi Kasi Pekapontren Drs H. Zuldaswar. Dalam arahannya Kepala Kankemenag Kota Payakumbuh menyampaikan bahwa eksistensi pondok pesantren sangat diperlukan karena kelangkaan ulama saat ini, sedangkan guru-guru pondok juga sangat terbatas yang menguasai ilmu alat ( ilmu untuk membaca kitab kuning/kitab standar ), disamping kualitas siswa yang mulai berkurang karena begitu banyaknya tantangan belajar saat ini. Dari workshop tersebut muncul ide-ide baru serta usulan-usulan dari masing-masing pondok, diantaranya : 1. Pondok pesantren sangat mengharapkan perhatian Kementerian Agama untuk mengangkat guru pondok menjadi PNS yang menguasai ilmu nahwu sharaf , sehingga ilmu yang diajarkan sejalan dengan kurikulum yang dibuat di pondok pesantren, karena masih ditemui sekarang di pondok pesantren guru tamatan IAIN/PTAI yang mengajar kitab kuning di pesantren sementara guru tersebut tidak mempunyai kompetensi dalam mengajar pelajaran arab gundul. 2. Untuk lebih fokusnya pembelajaran kitab standar di pondok pesantren, bagaimana kalau mata pelajaran umum dibatasi hanya untuk mata pelajaran UN saja. 3. Untuk lebih tertariknya masyarakat belajar di pondok pesantren, bagaimana kalau ijazah lulusan pondok pesantren dapat diterima untuk memasuki perguruan tinggi negeri maupun untuk bekerja di instansi pemerintah sebagai pegawai negeri. 4. Bagaimana kalau diciptakan pola baru untuk bisa membaca kitab standar secara cepat, dan berbagai masalah yang muncul dalam worksop tersebut. Dalam penutupan worksop tersebut, disepakati untuk menyusun silabus di pondok pesantren dengan mempertimbangkan beberapa aspek :1.Pemilihan kitab yang relevan 2.Penyusunan waktu belajar yang efektif 3.Pemilihan guru yang berkompeten 4.Penuntasan materi pelajaran 5.Metode pengajaran 6. Evaluasi setiap awal pelajaran baru ( Irfan Junaidi MA )

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW