Logo
Islam dan Kesetaraan Gender: Hubungan Pengoptimalisasi Potensi Kaum Perempuan Indonesia Menurut Ajaran Islam - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Islam dan Kesetaraan Gender: Hubungan Pengoptimalisasi Potensi Kaum Perempuan Indonesia Menurut Ajaran Islam

KUA Padang Timur Kamis 25, Mei 2017 | 09:33:13 wib

Islam dan Kesetaraan Gender : Hubungan Pengoptimalisasi Potensi Kaum Perempuan Indonesia Menurut Ajaran Islam  

Oleh  

ILHAMUDDIN,A.Md

Masalah manusia merupakan masalah yang selalu dibicarakan oleh manusia itu sendiri, yang tak habis-habisnya dan terus-menerus. Dari pembicaraan yang terus-menerus tersebut kemudian menghasilkan pelbagai ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan manusia itu sendiri seperti antropologi, sosiologi, psikologi, kesehatan, hukum dan sebagainya.

Manusia merupakan sebaik-baik bentuk ciptaan Tuhan. Pada diri manusia tersebut terdapat pemberian istimewa berupa akal pikiran yang berfungsi untuk  mempertahankan hidupnya dari segala macam rintangan dan halangan dalam menjalankan kehidupan tersebut. Dengan kemampuan berpikir, berencana, bertindak, menurut logika itulah kemudian manusia mampu menciptakan pengetahuan modern seperti teknologi yang terus-menerus menawarkan perubahan versi dan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Pendayagunaan akal manusia yang tiada hentinya telah mampu menaklukan makhluk lainnya dan  mampu mengeksploitasi berbagai hal yang ada di atas bumi maupun di perut bumi hingga  pada akhirnya juga digunakan demi kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Dengan demikian hal tersebut menunjukkan bahwa manusia secara umum mampu untuk menjaga kehidupannya agar tetap berjalan terus dari waktu ke waktu dan mampu menjaga kelestarian jenisnya.

Gender merupakan pengelompokan manusia yang utama. Setiap masyarakat menciptakan rintangan dalam hal ketidaksetaraan akses ke kekuasaan, kepemilikan dan prestise atas dasar jenis kelamin. Alhasil, para sosiolog mengelompokkan perempuan dalam minority group (kelompok minoritas). Jika dilihat dari sisi kuantitas antara perempuan dan laki-laki maka hal ini sangatlah berbanding terbalik, dikarenakan jumlah perempuan yang justru lebih banyak dari laki-laki malah digolongkan kelompok minoritas. (James M. Henslin, 2006: 48)

Teori patriarchy – laki-laki yang mendominasi masyarakat- telah di mulai sejak awal sejarah kehidupan manusia, rentang usia manusia yang relatif singkat dan untuk melipatgandakan kelompok, perempuan harus melahirkan banyak anak. Karena hanya kaum perempuan yang dapat hamil, melahirkan dan menyusui sehingga sebagian besar kehidupan perempuan itu terbatas.  Alhasil, di seluruh dunia perempuan mengerjakan tugas yang dikaitkan dengan rumah tangga  dan pengasuhan anak, sedangkan laki-laki mengambil alih untuk berburu binatang, menjalin kontak dengan yang lain, berdagang, dan berperang dengan kelompok lainnya. Laki-laki pula yang membuat dan mengendalikan perlengkapan senjata yang digunakan untuk berperang dan berburu. Sebaliknya hanya sebagian kecil saja menjadi rutinitas perempuan, sehingga pada akhirnya laki-lakilah yang mengambil alih peran di tengah masyarakat. Dengan demikian laki-laki mendominasi kehidupan sebagai kaum yang mayoritas sedangkan perempuan sebagai kaum yang minoritas. (James M. Henslin, 2006: 50)

Manusia merupakan makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan dari manusia lainnya. Pribadi manusia yang senang hidup berkelompok tersebut telah tertuang dalam teori seorang filsuf berkebangsaan Yunani yaitu Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan manusia adalah zoon politicon yaitu makhluk sosial  yang menyukai hidup berkelompok.

Berkenaan dengan hal itu Allah juga telah memberikan isyarat tentang manusia merupakan zoon politicon dalam QS. Al-Hujurat : 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal satu sama lain, Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu…”

Ayat ini berlaku umum untuk seluruh umat manusia. Kata ذكر و انثى  ( dari seorang laki-laki dan seorang perempuan) ditafsirkan sebagai Adam dan Hawa. Ini menunjukkan bahwa umat manusia yang banyak dan tersebar di berbagai belahan bumi ini berasal dari Ayah dan Ibu yang sama (Ali Ash-Shabuni, 2011: 46) , sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ishaq al-Mushilli yang dikutip oleh al-Maraghi:

“ Manusia di alam nyata ini adalah sama. Ayah mereka adalah Adam dan ibunya adalah Hawa. Jika mereka mempunyai kemuliaan pada asal usul mereka yang patut dibanggakan, maka tak lebih dari tanah dan air”.(Ahmad Musthafa al-Maraghi, 1997: 234)

Tampak dari keterangan di atas, bahwa pada dasarnya seluruh umat manusia itu sama. Kemudian dari keturunan yang sama itu berkembang menjadi keluarga, komunitas, masyarakat dan dalam bentuk yang lebih besar lagi tergabung dalam berbagai Negara yang berbeda di belahan Bumi ini.

Masyarakat yang sudah semakin banyak dan tersebar di berbagai wilayah, dalam ayat di atas diharuskan untuk saling mengenal satu sama lainnya , agar di antara mereka terjalin hubungan yang baik dan menumbuhkan sifat saling tolong menolong dalam berbagai bentuk kemaslahatan. Sebab seluruh umat manusia ini berasal dari keturunan yang satu  yaitu Adam dan Hawa.

Diriwayatkan dari Abu Mulaikah dia berkata, ketika peristiwa Fathul Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah lalu mengumandangkan azan. Kemudian berkata ‘Attab bin Sa’ad bin Abil ‘Ish, ‘Segala puji bagi Allah yang telah mencabut nyawa ayahku sehingga tidak menyaksikan hari ini’. Sementara al-Haris bin Hisyam berkata, ‘Muhammad tidak menemukan selain burung gagak yang hitam ini untuk dijadikan muazin”. Suhail bin Amr berkata, ‘Jika Allah menghendaki sesuatu maka bisa saja Dia merubahnya’. Berkenaan dengan peristiwa itu kemudian Jibril datang kepada Nabi Muhammad saw dan memberitahukan kepada beliau tentang hinaan yang ditujukan kepada Bilal tersebut. Maka Allahpun menurunkan ayat ini sebagai bentuk pencegahan bagi mereka yang membanggakan nasab, harta dan yang suka menghina orang-orang fakir. Ayat ini mengingatkan mereka bahwa tidak ada yang berbeda di sisi Allah di antara sekalian umat manusia tidak pada nasab, harta, rupa dan selainnya kecuali takwa. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, 1997: 234)

Sebagaimana juga diterangkan dalam hadis Nabi saw,

Diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw bersabda,“ Sesungguhnya Allah swt tidak memandang kepada pangkat-pangkatmu, tidak memandang pada nasab-nasabmu, tidak pada bentuk rupamu, dan tidak pula memandang pada hartamu, melainkan yang Allah pandang adalah hatimu”

Islam sebagai agama yang rahmatan lilalamin mengajarkan pada umatnya untuk saling mengenal (bersilaturrahim) dengan sesamanya baik menjalin hubungan dengan sesama muslim maupun dengan non muslim. Hubungan yang terjalin tersebut baik antara sesama laki-laki, sesama perempuan maupun hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Di dalam ajaran Islam  laki-laki dan perempuan memiliki posisinya masing-masing, sesuai dengan fitrahnya. Selama antara laki-laki dan perempuan tetap menjaga fitrah tersebut, pada keduanya terdapat kesempatan yang sama dalam menjalani kehidupan baik dalam bidang pendidikan, sosial-kemasyarakatan, politik, seni, dan sebagainya.

Berbicara tentang bentuk hubungan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan di masa lalu dan masih berkembang di masa sekarang ini,  terdapat dua aliran pendapat (Husein Muhammad, 2015) yang hidup di tengah lingkungan masyarakat muslim yaitu:

Pertama,  Dimana posisi kaum laki-laki berada di atas kaum perempuan. perempuan adalah makhluk kelas dua setelah laki-laki yang diciptakan Tuhan, sebab penciptaan perempuan pertama (Hawa) berawal dari tulang rusuk laki-laki (Adam) sehingga pada aliran ini perempuan merupakan subordinat. Perempuan berada pada posisi inferior dan laki-laki superior. Posisi ini diyakini oleh beberapa kalangan sebagai fitrah, kodrat, hakikat, dan hukum Tuhan yang berlaku yang tidak dapat diubah. Perubahan terhadap hal tersebut sama halnya dengan menyalahi hukum-hukum Allah sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an dan Hadis yang berlaku sepanjang masa untuk segala tempat.

Atas dasar ini hak dan kewajiban perempuan tidaklah sama dengan laki-laki, baik dalam hukum-hukum ibadah, hukum-hukum keluarga maupun hukum-hukum publik. Dapat dikatakan  dalam pemahaman aliran ini hak perempuan adalah sebagian hak laki-laki. Kelompok ini menentang keras persamaan kedudukan (kesetaraan gender)  antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, Posisi laki-laki dan perempuan adalah sama dan setara. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan kesempatan yang dimiliki oleh kaum laki-laki, sebab antara keduanya terdapat potensi kemanusiaan yang sama baik dalam hal intelektual, fisik maupun mental-spiritualnya. Perbedaan dari sisi biologis tidaklah menjadi penghalang yang membatasi gerak seorang perempuan untuk mengekpresikan hak dan kewajibannya di mata hukum dan sosial. Berdasarkan hal ini, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menjalankan kehidupan mereka baik dalam ranah pribadi maupun publik.

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Dewasa  ini penduduk Indonesia diperkirakan sudah lebih dari 210 juta jiwa. Dari jumlah yag besar tersebut 65 persen merupakan kaum perempuan yang masih dalam usia produktif yaitu berkisar 15-60 tahun. Jumlah penduduk yang besar tersebut, apabila dimanfaatkan dengan baik dan efektif, akan mampu menjadi asset bagi pembangunan nasional dan merupakan sumber daya pembangunan potensial. Sebaliknya, jika potensi yang mereka miliki  tidak dikembangkan secara efektif, justru akan menjadi beban bagi bangsa dan mengurangi nilai hasil pembangunan yang hendak dicapai. Berdasarkan hal itu optimalisasi penduduk sebagai salah satu upaya dalam pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) harus mempertimbangkan berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas kehidupan, baik perempuan maupun laki-laki agar sama-sama dapat memperoleh kesempatan dan berperan optimal dalam pembangunan dan pencapaian kualitas bangsa yang lebih maju dan sejahtera (Said Agil Husin al Munawar, 2005: 105).

Beberapa ketimpangan yang terjadi di Indonesia dapat terlihat dalam beberapa variabel sebagai berikut: Pertama, kualitas perempuan Indonesia menduduki peringkat paling rendah di ASEAN; Kedua, angka kematian ibu yang melahirkan menduduki posisi tertinggi di ASEAN yaitu sekitar 308 per 100.000 kelahiran atau rata-rata 15.000 ibu meninggal setiap tahun karena melahirkan; Ketiga, tingkat pendidika perempuan yang jauh tertinggal dari kaum laki-laki yaitu sekitar 39 % perempuan tidak sekolah, hanya 13 % yang lulus SLTP dan kurang dari 5 % yang lulus perguruan tinggi; Keempat, tingkat pastisipasi angkatan kerja yang masih rendah dan hanya menduduki sector informal dengan upah yang rendah; Kelima, kurangnya akses terhdapa bidang ekonomi; Keenam, tingkat kekerasan terhadap perempuan yang sangat tinggi; Ketujuh, hak asasi perempuan yang terabaikan; dan Kedelapan, di dalam lembaga pemerintahan baik bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif posisi perempuan masih sangat marginal (Said Agil Husin al Munawar, 2005: 107).  

Pemberdayaan potensi perempuan merupakan hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Usaha tersebut telah dirintis oleh Pemerintah RI dalam bentuk progam pemberdayaan perempuan sejak taun 1978. Yang mana di awali dengan mendorong agar perempuan dapat melakukan kerja ganda yaitu sebagai pembina rumah tangga, pencari nafkah dan pelaku pembangunan. Kemudian pada program selanjutnya diarahkan pada kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Berlandaskan pada komitmen untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan di Indonesia kemudian dikukuhkan dalam UU RI No 7 tahun 1984, tentang “Pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan”. Selain itu pemerintah juga meratifikasi sejumlah konvensi ILO seperti konvensi ILO No 111 tahun 1985 dengan UU RI No 21 Tahun 1999 tentang penghapusan diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan (Said Agil Husin al Munawar, 2005: 106).

Sejalan dengan hal itu, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) mengarahkan pemberdayaan perempuan dalam dua  penekanan. Pertama, meningkatkan kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang mampu mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Kedua, menigkatkan kualitas dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan, serta nilai historis dari perjuangan kaum perempuan Indonesia di masa lalu untuk di lanjutkan demi tercapainya kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Agama Islam merupakan agama yang menjunjug tinggi harkat dan martabat seorang perempuan, hal ini dapat terlihat dari sejumlah hadis Nabi saw yang memuliakan kaum perempuan diantaranya,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

 “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari 'Umarah bin Al Qa'qa' bin Syubrumah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu."

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa Rasulullah saw sangat memuliakan seorang perempuan. Ini jelas terlihat ketika beliau memberikan posisi yang lebih bagi seorang perempuan, yang mana di masa itu posisi wanita berada jauh di bawah kata “layak”. Wanita hanya dijadikan permainan bagi kaum laki-laki, disiksa, ditindas dan diperdagangkan. Di masa itu derajat wanita sangatlah jauh jatuh ke dalam kegelapan hingga kemudian datanglah agama Islam yang mengubah “langit mendung” kehidupan seorang wanita dengan cahaya matahari yang terang.

Dalam ajaran Islam laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dan memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat dalam kehidupan di masyarakat. Hal ini telah diisyaratkan Allah dalam QS. Ibrahim ayat 1 yang artinya:

“ Alif lam ra, (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Dan QS. Al-Hadid ayat 9, yang artinya :

 “ Dialah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu”.

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa di antara fungsi al-Qur’an adalah sebagai pembebas manusia baik itu laki-laki maupun perempuan dari kegelapan menuju cahaya. makna kegelapan yang ditafsirkan sebagai penindasan dan kebodohan yang menyelimuti kehidupan manusia dan  yang bermakna cahaya  ditafsirkan sebagai ilmu pengetahuan dan keadilan. Dengan demikian Islam hadir dalam kehidupan manusia sebagai kerangka dalam bidang kemanusiaan (kemaslahatan)  yang pada puncaknya bermuara pada pengabdian terhadap Tuhan  Yang Maha Esa.

Para pemikir Islam sejak generasi awal, sahabat, generasi ulama mazhab sampai generasi para pemikir fiqh seperti Abu Hamid al-Ghazali Fakhruddin al-Razi, Izzuddin bin Abdussalam, Syihabuddin al-Qarafi, Najmuddin al-Thufi, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah sampai Muhammad Abduh dan Muhammad al-Thahir bin Asyur,menyepakat kemaslahatan umum sebagai dasar sekaligus tujuan utama dari penerapan hokum Islam. Sebagaimana diungkapkan oleh Abu Hamid al-Ghazali (Husein Muhammad, 2015),

Kemaslahatan bermakna membawa kebaikan dan menolak keburukan. Tetapi bukan ini yang dimaksud, karena ini merupakan tujuan manusia. Sementara kemaslahatan yang dimaksud adalah menjaga tujuan syariat. Tujuan syariat itu adalah perlindungan terhadap lima hal yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Setiap hal yang mengandung perlindungan terhadap yang lima hal ini adalah kemafsadatan (keburukan, kerusakan, kekacauan). Menghindarkan kerusakan merupakan salah satu bentuk kemaslahatan”.

Demikian pula yang diungkapkan oleh Izzuddin bin Abdussalam yang bermazhab Syafi’I,

Tugas pokok manusia yang diamanatkan Tuhan adalah bekerja demi kepentingan (Kemaslahatan/Kesejahteraan) hamba-hambaNya. Dia tidak membutuhkan siapapun. Ketaatan manusia kepada Tuhan tidaklah membuatNya memperoleh manfaat, dan kedurhakaan manusia terhadap Allah tidaklah merugikan Dia sedikitpun”.

Oleh karena itu beliau menegaskan,

” Syariat sepenuhnya adalah kemaslahatan, baik melalui cara-cara menolak segala hal yang merusak maupun mengupayakan hal-hal yang membawaan kepada kemaslahatan”.

Sejalan dengan hal di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyah lebih menegaskan dengan menyatakan:

“ Syari’at Islam dibangun di atas landasan kebijaksanaan dan kemaslahatan manusia kini dan nanti. Ia sepenuhnya adil, sepenuhnya rahmat, sepenuhnya maslahat, dan sepenuhnya bijak. Setiap persoalan yang menyimpang dari keadilan kepada kezaliman, dari rahmat kepada laknat, dari maslahat kepada mafsadat, dan dari kebijaksanaan kepada kesia-siaan, maka bukanlah bagian dari syariah (hokum agama), walaupun dilakukan melalui upaya-upaya intelektual

”.

Seorang ulama Islam kontemporer yaitu Muhammad Thahir bin Asyur, pakar pemikir Islam dewasa ini, selain menyetujui penegasan-penegasan yang diungkapkan oleh ulama terdahulu, beliau juga memiliki pandangan tersendiri yang menarik (Husein Muhammad, 2015),

“ Syariat Islam dihadirkan untuk kemaslahatan manusia di dunia ini dan tidak untuk di akhirat. Kemaslahatan (kebaikan dan kebahagiaan) di akhirat merupakan akibat dari kemaslahatan yang diperoleh di dunia. Jikalau hokum agama berfungsi mengatur perilaku manusia di dunia, maka perwujudan kemaslahatan itu tidak mungkin kecuali bersifat dunia, sebagai prioritas utama”.

Pandangan ini menimbulkan implikasi penting terutama dalam kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Rumusan tersebut dikemukakannya dalam rangka menegaskan bahwa kaum muslimin perlu memberikan apresiasi yang lebih besar dalam sector sosial kemasyarakatan daripada sektor individual (Husein Muhammad).

Di balik semua penegasan tersebut, prinsip yang utama dalam hal kemaslahatan khususnya term gender ini adalah prinsip tauhid. Prinsip tauhid merupakan prinsip utama yang menegaskan bahwa Tiada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Pernyataan ini mengukukuhkan makna bahwa di jagat raya ini tidak ada yang lebih berkuasa selain Allah semata. Eksistensi keMahaagungannya tidak memerlukan pemaknaan teoritis, tetapi lebih pada kerangkan kemanusiaan. Pemaknaan tauhid yang sejati mengandung gagasan tentang pembebasan manusia dari segala bentuk perendahan (subordinasi), diskriminasi dan penindasan atas martabat manusia (dignity). Pada sisi lain, secara teologis hal ini menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang terhormat dengan konsekuensi keharusan manusia memandang sesamanya sebagai makhluk yang mandiri (bebas) dan dalam posisi yang sama, setara dan diperlakukan adil. Kesetaraan, kemandirian dan keadilan merupakan makna dari kata “taqwa” yang telah berulang kali diungkapkan baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam hadis. ( Husein Muhammad, 2015).

Pemaknaan tauhid yang seperti ini menjadi sangat fundamental bagi isu-isu gender. Para feminis muslim telah menempatkan prinsip ini sebagai titik sentral dalam seluruh bangunan pemikiran dan tafsir mereka mengenai hak-hak perempuan. Kesetaraan manusia merupakan cahaya dari tauhid.

Sumber-sumber utama ajaran Islam dikategorikan ke dalam bentuk teks universal dan teks particular. Teks universal merupakan teks yang mengandung pesan-pesan kemanusiaan untuk segala ruang dan waktu. Padanya termuat prinsip-prinsip fundamental atau disebut prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Sementara kategori kedua yaitu teks particular merupakan teks yang merujuk pada kasus tertentu. Teks-teks ini sering muncul sebagai respon atas suatu kejadian.

Jika terjadi pertentangan antara teks universal dengan teks particular maka teks particular membatasi berlakunya teks universal. Teks particular harus diutamakan. Pandangan ini ditolak keras oleh al-Syatibi, yang mana menurutnya aturan-aturan universal bersifat normative dan qath’i. sedangkan aturan-aturan particular bersifat relatif dan spekulatif. Oleh sebab iu hukum umum dan ketentuan universal harus diutamakan dan diberi bobot lebih besar dalam menganalisis petunjuk hokum petunjuk-petunjuk hokum yang bersifat khusus. Aturan-aturan khusus yang tidak bisa membatasi aturan-aturan yang bersifat umum, tetapi bisa menjadi pengecualian yang bersifat kondisional (kontekstual) bagi aturan-aturan umum (Husein Muhammad, 2015).

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa laki-laki adalah qawwam (pemimpin) bagi kaum wanita sebagaimana yang tertulis dalam QS. Al-Nisa’ ayat 34, yang artinya :

 “ Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan…”

Sementara dalam QS al-Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang artinya :

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal satu sama lain, Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu…”

Dari dua ayat di atas terlihat bahwa QS al-Nisa’: 34 menjadi dasar utama dalam menjustifikasi otoritas bagi kaum laki-laki sebagai kelompok superior dan mayoritas. Sementara QS al-Hujurat: 13 menegaskan kesetaraan hubungan dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Berkaitan dengan hal ini al-Syathibi berpendapat bahwa ayat yang berkaitan dengan kesetaraan manusia bersifat pasti, tetap dan berlaku universal. Sementara ayat kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan merupakan berlaku sesuai konteks. Kontekstualisasi itu bukan berarti teks particular itu tidak dipakai atau terhapus, melainkan dimaknai kembali sejalan dengan konteks sosialnya yag berubah. Ha ini terutama dilakukan oleh ulama generasi awal terutama para mujahid besar Islam (Husein Muhammad, 2015)

Dapat dipahami bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama dan kesempatan yang sama dalam mengekspresikan gagasan pemikirannya di tengah kehidupan masyarakat global yang semakin hari semakin mengalami kemajuan baik dalam hal tatanan kehidupan sosial-politik maupun dalam ranah perkembangan teknologi.

Indonesia merupakan Negara dengan penduduk terbanyak di ASEAN, juga menaruh perhatian yang besar, berkenaan dengan isu gender tersebut. Indonesia telah memulai pemberdayaan perempuan sejak zaman dahulu hingga di masa sekarang ini. Hingga saat ini telah banyak perempuan di Indonesia yang memperoleh haknya sesuai dengan apa yang diamanatkan UUD. Berkaca pada masa lalu, tepatnya pada masa perjuangan kemerdekaan, telah tercatat dalam sejarah perjuangan masyarakat Indonesia khususnya perempuan Indonesia seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Raden Ajeng Kartini.

Di antara tokoh-tokoh perjuangan perempuan Indonesia tersebut, RA Kartini dikenal sebagai tokoh feminis dan pendidikan, beliau merupakan symbol emansipasi wanita di Indonesia. Berbicara soal pemikiran, pemikiran RA Kartini telah jauh melampaui batas zamannya, apalagi di kalangan perempuan Bumi putera (Rosalind Horton; Sally Simmons, 2006).

Buku yang berjudul Door Duisternis toot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), telah merangkum kumpulan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Kumpulan surat-surat tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan Kartini untuk memberantas buta huruf yang di nusantara. Penerbitan surat-surat tersebut telah menarik perhatian pemerintah Belanda, pemikirannya mulai mengubah pandangan Pemerintah Belanda tentang perempuan Jawa. Oleh karena jasanya yang begitu besar bagi kesetaraan kesempatan bagi perempuan di masanya, di tahun 1964 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini pada tanggal 21 April sebagai salah satu Hari Besar Nasional yang disebut sebagai Hari Kartini (Rosalind Horton; Sally Simmons, 2006).

Kisah perjuangan RA Kartini di atas, telah menjadi salah satu bukti nyata bahwa feminism (kesetaraan gender) telah masuk di Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan dan hingga saat ini masih tetap di jaga oleh rakyat Indonesia sebagai salah satu hak dasar yang di miliki oleh setiap warga negaranya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa di Indonesia tidak hanya kaum laki-laki yang bisa menjadi “nahkoda” penggerak Negara, namun di dalamnya juga terdapat peran perempuan. Ini dapat dibuktikan dengan pernah Indonesia di pimpin oleh seorang Presiden wanita, Megawati Soekarno Putri.

            Berkaitan dengan hal ini, telah diterangkan Allah dalam firmanNya QS al-Nisa ayat 34,yang artinya :

  •   Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

 

Setiap manusia dianjurkan untuk berusaha dalam menjalani hidup, tidak berpangku tangan dan bermalas-malasan, karena apa yang diperoleh oleh manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah karena usahanya sendiri. Jika bersungguh-sungguh Allah akan memberi ganjaran yang setimpal, tetapi jika sebaliknya, menjalani hidup hanya dengan berpangku tangan Allah pun akan memberi ganjaran sesuai yang mereka usahakan.

Kata اكتسبوا  dan اكتسبن diartikan dengan “yang mereka usahakan”, terambil dari kata كسب kasaba. Penambahan huruf ta’ pada kata itu sehingga menjadi اكتسبوا  dalam berbagai bentuknya menunjukkan adanya kesungguhan serta usaha ekstra. Berbeda dengan kasaba, yang berarti melakukan sesuatu dengan mudah dan tidak disertai dengan upaya sungguh-sungguh (Sukma Sari Dewi Chan, 2014).

Jika kata iktasabu dipahami sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Ragib al-Asfahani, maka ayat ini seakan-akan menyatakan, jangan mengangan-angankan keistimewaan yang dimiliki seseorang atau jenis kelamin yang berbeda dengan jenis kelaminmu, karena keistimewaan yang ada pada dirinya itu adalah usaha sendiri, baik dengan bekerja keras membanting tulang dan pikiran, maupun karena fungsi yang diembannya dalam masyarakat, sesuai dengan potensi dan kecendrungan jenisnya. Lelaki mendapatkan dua bagian dari perempuan, atau ditugaskan berjihad dan sebagainya, karena potensi yang terdapat di dalam dirinya. Harta benda, kedudukan, dan nama adalah karena usahanya. Perempuan pun demikian, melahirkan dan menyusukan, atau keistimewaannya memperoleh maskawin dan dipenuhi kebutuhannya oleh suami, atau harta benda yang diperolehnya ini semua karena usahanya sendiri atau karena potensi serta kecenderungan yang ada pada dirinya sebagai jenis kelamin wanita (Sukma Sari Dewi Chan, 2014).

Dari penjelasan yang panjang di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan:

  1. Perempuan memiliki kemampuan yang luar biasa yang jarang dimiliki oleh laki-laki. Memperbolehkannya bekerja akan membuahkan kemaslahatan untuk masyarakat, sedang menghalangi keterlibatannya bekerja dapat merugikan masyarakat karena tidak dapat memanfaatkan kelebihannya.
  2. Pekerjaan yang dilakukannya hendaklah yang layak bagi perempuan, apalagi kalau itu memang spesialisasinya perempuan, seperti menjadi bidan dan lain-lain, maka pelanggaran terhadap hal tersebut adalah sesuatu yang keliru. Yang perlu ditambahkan adalah ketika keluar rumah untuk bekerja, perempuan harus tampil dengan sikap dan pakaian yang terhormat.
  3. Perempuan bekerja untuk membantu tugas pokok suaminya. Kalau di wilayah pertanian dapat ditemukan contoh dengan mudah, di mana kaum perempuan banyak yang terlibat di sawah dan juga perkebunan. Di perkotaan misalnya, kalau suaminya dosen membantu mempersiakan makalah, mencari referensinya, membantu pengetikan dan lain-lain.
  4. Bahwa perempuan perlu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup keluarganya, jika tidak ada yang menjamin kebutuhannya atau kalaupun ada itu tidak mencukupi.

 

Pada prinsipnya Islam tidak melarang perempuan bekerja di dalam maupun di luar rumah secara mandiri atau bersama-sama, dengan swasta atau pemerintah, siang atau malam, selama pekerjaan itu ia lakukan dengan cara terhormat, serta mereka dapat menjalankan tuntunan agama serta dapat menghindarkan dampak-dampak negatif dari pekerjaan yang ia lakukan itu terhadap diri, keluarga, dan lingkungannya. Islam tidak juga menetapkan jumlah jam-jam tertentu dan hati-hati tertentu untuk bekerja. Yang digariskannya hanyalah bahwa pekerjaan tersebut tidak boleh menjadi beban yang sangat berat dipikul, baik karena lamanya waktu bekerja maupun karena sifat pekerjaan.

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW