Logo
Membentuk Karakter Bangsa Melalui Sejarah - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Membentuk Karakter Bangsa Melalui Sejarah

Rabu 11, Oktober 2017 | 09:30:52 wib

Membentuk Karakter Bangsa Melalui Sejarah
Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

(Guru pada MTsN Lubuk Buaya dan MTsS TI Batang Kabung Kota Padang)

Ungkapan bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa-jasa pahlawannya, benar apa adanya. Tidak mungkin suatu bangsa menjadi maju dan sejahtera tanpa mengingat masa lalu bangsanya sendiri. Tepat rasanya jika ini dialamatkan pada bangsa-bangsa maju seperti kebangkitan bangsa Arab setelah terjadinya peristiwa besar dan mengagumkan yang disebut Hijrah. Amerika Serikat, Rusia, Jepang Ataupun China. Mempelajari masa lalu bukan berarti terjebak pada romantisme belaka. Selama ini, tidak hanya di masyarakat tapi juga di tingkat elite, belajar sejarah adalah membosankan.

Siswa sekolah / madrasah menganggap pelajaran sejarah menjemukan dan tidak berarti bagi dirinya jika tamat sekolah nantinya. Akibatnya, kita menjadi abai dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Bahkan cenderung menderita penyakit amnesia sejarah, lihat saja perilaku sebagian masyarakat yang merusak situs peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur atau pertikaian antara Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo dengan Joko Widodo, soal bangunan tua Saripetojo beberapa waktu yang lalu. Ini semua dapat terjadi karena kita bangsa belum menghargai sejarah sebagai pintu masuk untuk belajar sifat-sifat bijaksana.

Values of Wisdom amat dibutuhkan bangsa ini sebagai obat mujarab membawa Indonesia keluar dari keterpurukan. adalah ironi, Indonesia yang kaya akan sumber daya , namun hidup dalam kemiskinan. Sejatinya kita saat ini sedang mengalami krisis Multidimensial yang mengakar pada hilangnya nilai-nilai kebijaksanaan.

Sudah berkurangnya gotong royong dan toleransi. Kebijakan Pemerintah selalu mengalami tantangan dan penolakan masyarakat.

Bukan itu saja, sejak otonomi daerah diberlakukan, integritas pemerintah pusat kadang kala diabaikan pemerintah daerah. Jika pemimpin kita mau belajar sejarah, tidaklah sulit untuk membangun bangsa ini. Karena pada dasarnya sejarah mengajarkan kebajikan kepada umat manusia. sejarah tidak mengajarkan kebohongan dan kemunafikan.

Sejarah memiliki dimensi luas. Ia tidak hanya berhenti di masa lalu. sejarah adalah segala kejadian di masa lampau yang berdampak luas pada sendi kehidupan masyarakat. Dengan belajar sejarah kita dapat mengambil hikmah positif dari kejadian masa lalu untuk digunakan saat ini demi kehidupan masa depan yang lebih baik.

Mempelajari sejarah dimulai dengan menginventarisir apa yang ditinggalkan. Ini yang disebut jejak sejarah. Salah satunya adalah peninggalan arsip-arsip. Arsip adalah rekaman kegiatan dan peristiwa sejarah dalam berbagai bentuk dan media.

Dalam kaitannya dengan sebagai media pembentukan karakter bangsa, sejarah memiliki peranan yang tidak bisa disepelekan. Selama ini kita hanya terpaku pada peranan pranata pendidikan, agama, norma/nilai, sebagai pondasi utama membentuk karakter yang berkepribadian kuat. Padahal, arsip juga dapat digunakan sebagai media pembentuk karakter bangsa yang dapat terbentuk dengan mempelajari arsip sebagai berikut.

Sejarah mengajarkan nilai-nilai nasionalisme cinta tanah. Hal ini sesuai Hadist Maudhu dalam kitab Silsilatu Ahaadist Ad Dahaiafah wal Maudhuah aw Atsarus sayyi Fil Ummah karya Syaikh Al Bany hadist ke 32, mengatakan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Narasi sejarah berupa dokumen tertulis maupun peninggalan benda-benda bersejarah jika ditelisik lebih jauh dapat menumbuh kembangkan rasa patriotisme kita terhadap bangsa dan negara. Kita bangga terhadap Gajah Mada yang berjanji untuk mempersatukan Nusantara dibawah kerajaan Majapahit. Dan kita pada akhirnya mengetahui Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Asia pada zamannya.

Atau kebanggaan kita pada perjuangan Bung Tomo dan Arek-Arek Suroboyo yang rela mengorbankan harta dan nyawanya untuk mempertahankan kota Surabaya dari serangan sekutu (Inggris).

Dalam konteks kekinian, semangat nasionalisme semakin tergerus oleh arus zaman. Hal ini ditunjukkan dengan sikap dan perilaku yang dari kepedulian terhadap sesama dan bangsa.

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW