Logo
Sudah Enambelas Kloter , JCH Embarkasi Padang Meningalkan Tanah Air - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Sudah Enambelas Kloter , JCH Embarkasi Padang Meningalkan Tanah Air

Yesfi Mira Andria Minggu 05, Agustus 2018 | 22:27:46 wib

Padang (Inmas)--Enam belas Kloter sudah Jamaah Calon Haji Embarkasi Padang yang meninggalkan Tanah Air dari tujuh belas kloter yang ada, dengan jumlah jamaah 6256 orang.

Khusus untuk kloter XVI adalah kloter terakhir yang penuh jamaah asal Embarkasi Padang, karena untuk Kloter XVII dengan sisa jamaah 92 orang di rencanakan akan bergabung dengan jamaah Kloter XIII Embarkasi Balik Papan yang akan terbang tanggal 13 Agustus 2018 mendatang.

Istimewa bagi mereka Kloter XVI ini selain d lepas oleh Anggota  DPD RI Emma Yohana, Kakanwil Kemenag Sumbar, H.Hendri turut hadir dalam acara melepas secara resmi sekaligus memberikan sambutan dihadapan 391 JCH ini, di Aula Utama Asrama Haji Tabing Padang Kamis (2/7).

 

Tampak hadir pada kegiatan tersebut Kepala Bagian Tata Usaha H.Irwan, para kepala bidang seta kasi  pada bidang haji kanwil serta Pimpinan dari dinas perhubungan, Kakankemenag Pasaman Barat  dan Pesisir Selatan serta pejabat daerah Pasaman Barat dan juga Plt kepala UPT Asrama Haji yang tak pernah absen dalam melepas keberangkatan para duyufurrahman ini.

 

Dalam Laporan PPIH yang di sampaikan oleh  Kepala Bidang lalu lintas dan pembinaan keselamatan dinas  perhubungan provinsi Sumbar,  Dedy Diantolani menerangkan bahwa jamaah haji Kloter XVI ini berjumlah 391 orang.

 

" 319 orang JCH ini berasal dari Pasaman Barat sebanyak 276 orang, Pesisir Selatan 106 orang dan Kota Padang 1 orang, dengan rincian Pria sebanyak 166 orang dan Wanita sebanyak 225 orang", ucap Dedy.

 

Lebih lanjut Dedi menyebutkan lima orang petugas kloter dan TPHD yang menyertai jamaah kloter XVI ini adalah, TPHI Suharjo Lubis, TPIHI H. Yusrizal serta tenaga kesehatan adalah dr. Rahayu Lestari, Dewi Aurora dan Hendra Harwadi. Sementara untuk TPHD adalah Dr. Novri Aswandi, Dr. Rinaldi dan Yuspadi.

 

Menurut data Siskohat jamaah termuda di kloter XVI ini adalah Irfan Sukarman usia 21 tahun dan yang tertua Rusli Nur yang sudah berusia 83 tahun.

 

Berkenan dalam kesempatan ini Kakanwil Kemenag Sumbar, H.Hendri memberikan sambutan bagi JCH ini. Dalam sambutannya H.Hendri menyampaikan Penyelenggaraan Ibadah Haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan pelaksanaan Ibadah Haji yang meliputi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan Jemaah Haji.

 

Pemerintah selalu meningkatkan pelayanan  dan perlindungan terhadap Jamaah Haji dengan meluncurkan 10 inovasi Kementrian Agama dalam Pelayanan Haji 1439 H ini, salah satunya yaitu rekam biometriks jemaah haji di embarkasi Indonesia.

 

Layanan ini diharapkan dapat memotong antrean dan masa tunggu pemeriksaan imigrasi jemaah di Bandara Madinah danJeddah. Setibanya di bandara, jemaah yang sudah mendapatkan verifikasi akhir dapat segera naik bus dan menuju hotel masing-masing.

 

" Dari sebelumnya bisa empat hingga lima jam, tahun ini diharapkan antrean jemaah di kedua bandara di Saudi itu hanya sekitar satu jam," ucap Hendri.

 

Berbeda dengan tahun sebelumnya, hotel pada musim haji kali ini disewa dengan satu musim penuh di Mekah maupun Madinah. Selama ini, sistem sewa seperti itu hanya diterapkan di Mekah.

 

Dengan begitu, pemindahan jemaah dari Madinah ke Mekah atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan mudah dan tetap memperhatikan kenyamanan jemaah.

 

" Kita tidak lagi khawatir dengan masalah batas waktu tinggal di hotel seperti pada sistem blocking time," ujar dia.

 

Inovasi ketiga yang diterapkan yaitu QR Code pada gelang jemaah. QR Code berisi rekam data identitas jemaah yang dapat diakses melalui aplikasi haji pintar. Sistem ini memudahkan petugas haji dalam mengidentifikasi dan membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan.

 

Inovasi lainnya, penggunaan bumbu masakan dan juru masak asal Indonesia pada perusahaan katering penyedia konsumsi jemaah. " Kami juga wajibkan penyedia katering untuk memperkerjakan juru masak asli Indonesia," ucapnya melanjutkan.

 

Selain soal rasa dan juru masak, kuantitas layanan katering untuk jemaah Indonesia khususnya di Mekah akan ditambah. Jika sebelumnya hanya 25 kali, tahun ini jemaah haji Indonesia akan mendapat katering sebanyak 40 kali.

 

Selain itu, ada juga penambahan kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambel, kecap dan satu potong roti.

 

Sementara itu, living cost sebesar 1500 riyal, setara Rp5.6 juta, tetap diberikan penuh sebagaimana tahun sebelumnya. Jemaah dapat menggunakan uang itu untuk keperluan lainnya.

 

" Jemaah haji yang diberangkatkan pagi hari dari hotel di Mekah pada 8 Zulhijah atau fase puncak haji akan mendapat tambahan makan siang di Arafah," terang Kakanwil.

 

Inovasi keenam, penandaan khusus berupa warna pada paspor dan koper serta penggunaan tas kabin. Tanda warna ini juga sekaligus menunjukan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal jemaah.

 

Di tahun ini, Kemenag juga mengembangkan inovasi pengalihan porsi bagi jemaah wafat kepada ahli waris. Regulasi baru ini untuk memberikan penggantian jemaah wafat pada ahli warisnya.

 

Syaratnya, jemaah yang wafat sudah ditetapkan sebagai jemaah berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, penggantian dilakukan pada jemaah yang wafat setelah 16 Maret 2018.

 

Sebelumnya, porsi jemaah wafat tidak bisa digantikan sehingga uangnya ditarik kembali oleh ahli waris. Jika akan digunakan untuk mendaftar, maka ahli waris terhitung dalam antrean baru.

 

Pencetakan visa saat ini sudah bisa dilakukan oleh Kemenag menjadi inovasi kedelapan. Inovasi ini sangat signifikan dalam mempercepat proses penyiapan dokumen keberangkatan jemaah.

 

Sebelumnya, Kemenag harus menunggu visa dari Kedutaan Arab Saudi sehingga tidak jarang prosesnya memakan waktu lebih lama.

 

Inovasi kesembilan yaitu mengintensifkan layanan bimbingan ibadah. Kemenag tahun ini akan menempatkan satu konsultan ibadah di tiap sektor.

 

Sebelum ini,  konsultan ibadah hanya ada di kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter.

 

Inovasi terakhir yaitu dibentuknya tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH). Tim ini terdiri dari petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis dari rumah sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta, serta rumah sakit TNI atau Polri, tutup Hendri.(Mira)

 

 

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW