Logo
Di Tanah Suci, Edy Pasukan Kuning Itu Bersedekah Senilai 2 Juta Rupiah - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Di Tanah Suci, Edy Pasukan Kuning Itu Bersedekah Senilai 2 Juta Rupiah

ZULFAHMI Kamis 13, September 2018 | 21:06:09 wib

Tetesan air mata Edy mengalir begitu cepat ketika ia merunut kisah perjalanan hidupnya. Ia takkan pernah melupakan bagaimana ia mampu mewujudkan keinginan menunaikan ibadah di Tanah Haram dan bisa berkumpul kembali di rumah bersama keluarga tercinta.

Sawahlunto, Inmas—Airmatanya terus saja mengalir saat menceritakan perjalanan bahtera rumahtangga sampai kisah perjuangan mewujudkan harapan besar menunaikan rukun Islam yang menjadi kebanggaan. Edy didampingi teman sesama haji usai penyambutan resmi jemaah haji Kota Sawahlunto di Masjid Agung, Kamis (13/9),

Isak tangis Pria berusia 56 tahun itu tetap saja tak berhenti, padahal kepulangan Edy dari Tanah Suci sudah tergolong dua minggu lebih, pasca tiba selamat bersama jemaah haji lain kloter 5 gelombang pertama Pukul 17.17 Wib di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sabtu (1/9) lalu.

“Saya selama ini tak pernah naik pesawat terbang, jangankan demikian, melihat rodanya saja belum pernah,” tutur Edy seraya bercanda lugu pertama kali  dalam hidup terbang dengan pesawat udara menunaikan ibadah haji.

Tangisan Bapak beranak dua itu seketika berhenti ketika ia menceritakan lucu perihal salah memberikan jumlah uang sedekah kepada seorang petugas kebersihan di Masjid Quba Madinah.

“Dek ambo suko baragieh, mancaliek petugas kebersihan Masjid Quba takana pulo karajo ambo, diambieklah pitih di tas ketek dan baagian ka inyo, awalnyo disangko 5 Riyal, eh tanyato 500 Riyal atau samo jo pitih kito 2 Juta Rupiah,” ujar Edy sambil berbahasa Minang.

 “Seumur-umur baru kali ini saya sedekah kepada orang lain sebanyak 2 Juta Rupiah,” katanya  sambil tertawa kecil.

“Disebabkan itu, akhirnya kawan-kawan membantu saya uang senilai 700 ribu Rupiah guna menambah perbekalan karena salah memberikan jumlah sedekah di Madinah, akibatnya uang perbekalan hanya tersisa 300 Riyal, padahal saya belum ke Mekah,” terangnya.

Edy tamatan Sekolah Dasar berstatus pegawai honorer sejak tahun 1997 di Dinas Lingkungan Hidup Kota Sawahlunto bagian kebersihan jalan menceritakan pula kala memeluk erat dari belakang seorang petugas keamanan Arab Saudi karena dilarang keras melewati jalan pulang di tempat yang sama dalamTerowongan Mina ketika melempar Jamarat.

“Saya kemudian memeluk sambil memohon memakai bahasa isyarat bahkan hingga bahasa Minang kepada petugas keamanan itu, lalu ia lari dari saya, seketika ia membelakangi, saya pun kabur menerobos arah berlawanan jemaah haji yang datang sampai akhirnya selamat juga ke penginapan,” ulasnya.

Sebagai laki-laki pernah bekerja berdagang di Pekan Baru, kemudian menjalani profesi sama di Kota Sawahlunto setelah menikahi Suhaimi tahun 1988, Edy membeberkan kronologis pengalaman pribadi hingga berhasil menunaikan ibadah haji.

Diawali niat baik serta kebanggaan besar, ditambah pula honor pegawai di bawah standar Upah Minimum Regional (UMR), cuma 300 ribu Rupiah perbulan, bersama isteri tercinta pada tahun 1998 mengawali pekerjaan memulung barang-barang bekas di tempat acara keramaian hingga sampai ke tempat pembuangan akhir sampah tanpa sedikitpun merasa gengsi. Hal itu dilakukan guna menambah penghasilan keluarga, bahkan menurut Edy, anak-anak mereka turut membantu mengumpulkan barang bekas menjelang dijual kepada pengepul.

Alhasil, pekerjaan itu ternyata mendatangkan uang lebih dibanding penerimaan gaji perbulan, persis slogan tertulis di tong sampah, “sampahmu kehidupanku.”

Tahun 2010, Pria paruh baya yang sampai sekarang masih dipercayai sebagai salah seorang pengurus Masjid Agung Nurul Islam sukses memiliki tabungan sekitar 70 juta Rupiah dari hasil memungut sampah, diluar gaji yang diterima 1,8 juta Rupiah sejak diangkat menjadi PNS tahun 2007.

Pasukan kuning itu tak ayal mengajak isteri mendaftar haji, namun disebabkan memikirkan biaya sekolah anak, Suhaimi keberatan dan hanya mendukung penuh sang suami mendaftar haji.

Staf Ahli Hukum dan Politik Pemko Sawahlunto, Halomoan ketika pernah menjabat Kepala Badan Lingkungan Hidup saat dimintai keterangan mengakui, dulu Edy selaku bawahannya memang dikenal sangat ulet dan rajin dalam bekerja.

Kendati panggilan kehormatan haji sudah dimiliki, lebih lanjut Edy menegaskan, dirinya akan tetap bekerja biasa termasuk memulung, apalagi anak perempuannya baru masuk kuliah di perguruan tinggi swasta di Padang.

Kini Edy merasa bahagia sekaligus bersyukur pasalnya bisa menunaikan ibadah haji tanpa harus menggadaikan SK PNS golongan 1/d. (fahmi/Rina)

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW