Logo
Problematika Wali Nikah dan Status Anak Kawin Hamil - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Problematika Wali Nikah dan Status Anak Kawin Hamil

Admin PL 2018 Rabu 31, Oktober 2018 | 15:21:41 wib

Padang, Inmas--Kanwil Kemenag Sumbar yang digawangi bidang Urais dan Binsar mengadakan seminar Kepenghuluan tingkat provinsi Sumatera Barat di Asrama Haji kota Padang dengan tema Problematika Wali Nikah dan Status Anak Kawin Hamil Menurut Fiqih, Hadits dan peraturan yang berlaku,.acara ini dihadiri oleh seluruh penghulu yang ada di Sumatera Barat.

Ramlan Sarjana Agama dalam laporan kepanitian mengatakan alasan diadakannya seminar ini karena kasus yang terjadi di lapangan mengenai wali nikah dan status anak kawin hamil, dengan adanya seminar ini diharapkan para penghulu akan memberikan jawaban yang sesuai dengan fiqih dan hadist serta tidak menimbulkan isbad yang berbeda-beda.

H. Hendri Kanwil kemenag Sumbar sekaligus keynote speaker mengatakan rasa bangganya kepada bidang Urais Binsar yang menemukan inovasi dan mengadakan acara ini, yang mana seminar kepenghuluan ini pertama kali di adakan di Indonesia dan dilaksanakan di Sumatera Barat. Ia juga meminta kepada seluruh peserta untuk memviralkan acara ini agar dapat dicontoh dan dilaksanakan oleh penghulu-penghulu yang ada di Indonesia.

Dalam seminar ini terdapat empat orang narasumber, Edi Safri, Muchlis Bahar, Makmur Syarif dan Nurlen Afriza, mereka menyampaikan tentang kajian fiqih wali dalam pernikahan ditinjau dari berbagai mazhab, pertimbangan hukum peradilan agama dalam penetapan putusan tentang wali nikah, nikah dalam kondisi hamil serta anak yang syah.

Makmur Syarif, mengatakan landasan hukum komplikasi hukum Islam adalah instruksi presiden Republik Indonesia nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Apabila merujuk kepada fiqih, terlarang kawin dengan wanita yang termasuk diharamkan dikawini dan juga terlarang kawin dengan wanita yang masih kawin dan wanita yang menjalani masa iddah.

Menurut Mazhab Syafii tidak ada larangan kawin bagi wanita hamil dengan laki-laki yang menghamilinya, sehingga tidak perlu mengulang perkawinan setelah anak lahir, dan jika ada pendapat yang mengatakan apabila kawin ketika hamil maka nikahnya harus diulang setelah lahir, pendapat  tersebut merujuk pada mazhab imam Hanafi. (Ani/Witda/Rina)

 

                              

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW