Logo
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 102 - Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 102

Admin Sumbar Kamis 20, Mei 2010 | 11:00:00 wib

Padang, Humas. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Ungkapan bijak ini layaknya masih melekat dalam kehidupan kita sehar-hari saat ini. Lebih menonjol lagi, ketika aparatur negara, kalangan siswa dan mahasiswa sering mengungkapkan hal itu ketika memperingati hari-hari besar nasional lainnya. Salah satu contohnya, ketika jajaran Kementerian Agama Propinsi Sumbar memperngati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-102 tahun 2010, Kamis, (20/5), di halaman kantor setempat, dengan Inspektur Upacara (Irup), Kakanwil diwakili Kabag TU Drs.H. Salman, MM dihadiri sejumlah Kabid dan Pembimas. Momentum Harkitnas perlu digalakkan,sebut Kabag TU Salman.Kondisi ini bermula dari keberadaan bangsa kita Indonesia dengan jati diri yang majemuk. Kemajemukan itu tentunya didasari oleh adanya nilai-nilai religius dan selalu mengedepankan nilai-nilai agama guna memenuhi tuntunan hidup dan kehidupan menuju kesejahteraan rakyat. Bangsa kita saat ini memang dalam kondisi yang rentan terhadap degradasi moral. Dan, secara nasional cita-cita bangsa Indonesia menyikapi persaolan negara saat ini, ke depan untuk agar negara itu utuh dan betul-betul kuat diperlukan tiga pila utama yakni, kemandirian bangsa, daya saing bangsa dan peradaban bangsa yang unggul dan mulia. Cita-cita itu akan hampa dan tidak akan terealisir dengan sendirinya atau hanya dengan membaca simsalabim dan abrak ga dabrak saja. Tapi yang paling dituntut di atas semua itu adalah, senantiasa bekerjasama menjalin persatuan dan kesatuan serta persaudaraan, jauh dari sifat saling menjatuhkan, membuat isu-isu negatif dan fitnah-fitnah untuk saling menjatuhkan serta mencar-cari kesalahan orang lain,terangnya. Disebutkan Salman, ilmu yang dimiliki banyak orang dan dibarengi dengan penguasaan pengetahuan serta tekhnologi canggih sekalipun, tidak akan ada artinya, kalau budaya saling hina dan caci maki masih selalu melekat pada setiap pribadi orang. Standar tekhnologi canggih atau tinggi rendahnya penguasaan ilmu saat ini bukan sebuah jaminan mencapai kemajuan bangsa. Namun ketika, sifat jelek dan buruk tidak melekat lagi pada dirinya dari sinilah orang akan dicap sebagai orang yang disayang oleh Allah SWT. Selanjutnya, kita harus punya keyakinan yang sempurna bahwa bangsa Indonesia secara umum dan Sumbar khususnya akan menjadi besar dan unggul kalau mulai dari sekarang ada kesadaran membangun peradaban dengan peradaban yang mulia. Hormat pada orang yang dituakan atau pimpinan, mau berteman dengan rekan sama besar serta suka menyayangi dengan anak-anak yang usianya di bawah kita sudah dijalankan. Hal ini pun sejalan dengan pepatah Minang yang kita anut dalam kehidupan sehari-hari yang berfalsafahkan adat bansandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). Untuk memulai itu semua adalah diri kita. Sehingga dengan kebaikan yang kita bangun, maka hasilnya pun akan serta merta jadi baik,katanya.(Nal)

RELATED POST
CONNECT & FOLLOW