Objek Wisata Kota Bukittinggi

Objek Wisata Kota Bukittinggi

  • Jam Gadang

Di pusat Kota Bukittinggi, terdapat semacam alun-alun tempat pusat keramaian kota dan ditengahnya terdapat Jam Gadang. Inilah landmark Kota Bukittinggi.Suasana sekitar Jam Gadang sangat ramai, terutama di malam Minggu saat orang-orang sekitar menghabiskan liburan. Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya.Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Salah satu keunikan tersebut adalah angka empat pada angka Romawi. Jika biasanya tertulis dengan IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII. Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah, dan bangunan berjejer di tengah kota.

  • Lobang Jepang

Lobang Jepang yang menyerupai gua, merupakan bunker peninggalan Jepang saat menjajah Indonesia. Lobang Jepang ini terletak di Bukit Sianok Bukittinggi dan merupakan basis pertahanan Jepang pada saat Perang Dunia II dan Perang Asia Timur Raya tahun 1942.Suasana mistis terasa di dalam gua. Konon, ada satu ruangan tahanan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang penyiksaan. Salah satu kekejaman tentara Jepang adalah pembunuhan tahanan dengan cara dicincang. Tidak sampai di situ, tubuh yang sudah terpotong-potong itu kemudian disiram dengan air panas dan garam, untuk memastikan jasad itu sudah tak bernyawa lagi.

  • Ngarai Sianok

Ngarai Sianok adalah lembah yang curam atau jurang. Di bawahnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing. Latar dari Ngarai Sianok adalah Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.Jurang di sana dalamnya sekitar 100 meter dan membentang sepanjang 15 Km dengan lebar sekitar 200 meter. Pemandangan sangat indah terhampar bak lukisan alam.

  • Benteng Fort de Kock

Benteng ini dibangun di atas Bukit Jirek dan awalnya diberi nama Sterrenschans. Kemudian namanya berubah menjadi Fort de Kock, oleh Hendrik Merkus de Kock, yang merupakan salah satu tokoh militer Belanda.Beberapa tahun kemudian, kota di sekitar benteng ini berkembang menjadi sebuah kota yang juga diberi nama Fort de Kock, yang lalu bernama Bukittinggi. Kini, kawasan Benteng Fort de Kock menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park).

  • Museum Rumah Adat Baanjuang

Museum ini didirikan oleh seorang Belanda yang bernama Mondelar Countrolleur pada tahun 1935. Ini adalah sebuah bangunan berupa rumah tradisional yang memiliki anjuang kiri dan kanan.Bangunannya masih terlihat tradisional, seperti atap bangunan masih menggunakan ijuk, dinding terbuat dari kayu, serta berlantai kayu. Koleksi Museum Rumah Adat Baanjuang ini adalah kelompok etnografika, numismatika, binatang yang diawetkan, dan sebagainya. Binatang ini terlahir tidak normal, karena beberapa anggota tubuhnya berlebih.Hal tersebut dapat dilihat pada koleksi binatang yang dipajang di etalase, seperti kerbau berkepala dua, berkaki delapan, dan juga kambing yang bermuka dua. Binatang-binatang tersebut hidupnya tidaklan bertahan lama, setelah mati binatang ini diawetkan dan menjadi bagian dari koleksi museum ini.Koleksi miniatur rumah gadang, surau, rumah makan juga sangat menarik perhatian. Sebabnya, rumah-rumah tradisional tersebut makin lama makin susah ditemukan di Ranah Minang.

  • Benteng “Fort de Kock”

Pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain Kota Medan. Kota ini merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia

  • Kebun Binatang dan Taman Budaya Kinantan

Kebun binatang ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda ditahun 1900-an, dengan nama Stormpark (Kebun Bunga). Pembangunan kebun binatang ini dirancang oleh Gravenzande, Controleur belanda yang bertugas di kota Bukittinggi pada waktu itu. Pada awal pembangunannya, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini hanya berupa taman yang belum mempunyai koleksi binatang, kemudian beberapa koleksi hewan mulai dimasukkan kedalam taman tersebut, dan barulah pada tahun 1929 tepatnya pada tanggal 3 Juli taman ini dijadikan kebun binatang dengan nama Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr. J. Hock.[2][3]Pada tahun 1935, di area kebun binatang ini dibangun Rumah Adat Baanjuang (Rumah gadang) bergonjong gajah maharam, yang mempunyai 9 ruang dengan anjungannya di bagian kanan dan kiri.Kemudiannya lagi, terjadi perubahan nama dari Fort De Kocksche Dieren Park menjadi Taman Puti Bungsu. Dan pada tahun 1995 melalui peraturan daerah No. 2 Tahun 1995 juga terjadi perubahan nama dari Taman Puti Bungsu menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan

  • Jembatan Limpapeh

Jembatan Limpapeh adalah sebuah jembatan di atas jalan Ahmad Yani, Bukittinggi yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi dengan benteng Fort de Kock. Bentangan Jembatan Limpapeh ini memiliki panjang 90 meter dan lebar 3,8 meter.

  • Panorama

Berlokasi di Kelurahan Puhun Pintu Kabun Kecamatan Mandiangin Koto Salayan. Panorama Baru ini merupakan suatu kawasan yang memiliki pemandangan yang indah ke arah Ngarai Sianok dengan medan yang berbukit-bukit serta area yang luas.Dilokasi ini kita dapat menikmati keindahan panorama alam Ngarai Sianok. Terdapat berbagai fasilitas pendukung wisata antara lain tempat-tempat duduk permanen dan kopel. Disamping itu obyek wisata ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat camping, hiking dan penampilan berbagai acara kesenian. Pada minggu pagi tempat ini ramai dikunjungi karena udara yang bersih sambil berlari-lari pagi untuk kebugaran jasmani.

  • Great Wall of Kota Gadang

Desain jembatan ini dibuat mirip dengan The Great Wall of China, namun dalam versi yang lebih kecil. Kira-kira butuh 1.000 langkah dari Lubang Jepang di Bukittinggi menuju Koto Gadang di Agam. Jika lelah, berhentilah sejenak di tengah jembatan, rasakan sejuknya angin berhembus.Butuh waktu 20 menit bagi yang bersemangat berjalan sampai ke tujuan, namun bagi yang tertatih-tatih bisa menghabiskan waktu 1,5 jam. Kelelahan kaki akan terbayar setelah mata menyaksikan keindahan alam dari sini.Janjang Koto Gadang menjanjikan pemandangan yang menakjubkan dari Ngarai Sihanok. Ini adalah sebuah lembah yang indah, hijau dan subur. Di bawahnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku. Dipandang dari ketinggian 200 meter, menjadi sajian mata yang mengagumkan.Ingin kesana? Jembatan ini terletak 90 kilometer di sebelah utara kota Padang. Butuh tiga jam untuk mencapainya. Jangan khawatir, jalanan sudah diaspal rapi walaupun berliku-liku. Janjang Koto Gadang ini menjadi kebanggaan masyarakat Minang. Tembok tersebut adalah ikon pariwisata Sumatera Barat selain rumah gadang dan jam gadang.

  • Janjang Saribu

Janjang Saribu – mungkin akan terdengar sedikit asing di telinga anda, tetapi bagi masyarakat minang sendiri, nama ini bukanlah hal yang asing. Janjang sendiri merupakan tangga dalam bahasa minang, dan dalam bahasa yang sama saribu memiliki arti seribu. Maka, objek wisata ini bisa juga disebut dengan tangga seribu.Lokasi dan Transportasi, Untuk menuju Janjang Saribu ini, anda bisa menuju wilayah Koto Gadang, Bukit Tinggi. Untuk menuju lokasi ini pun bukanlah hal yang sulit. Banyak alternatif kendaraan yang bisa anda gunakkan menuju lokasi dari Janjang Saribu ini. Anda bisa menggunakkan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat, serta adanya akses angkutan umum yang tersedia di sekitar kota Bukit Tinggi.Untuk anda yang menggunakkan kendaraan umum, anda bisa menemukan angkutan kota (angkot) di sepanjang kota Bukit Tinggi. Untuk lebih lengkapnya, anda bisa mencari angkot tersebut di sekitar wilayah Jam Gadang yang menjadi jantung kota ini. Anda bisa menggunakkan angkot yang menuju wilayah Koto Gadang. Ongkosnya pun cukup murah, anda hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 2.500*) per orangnya untuk sekali naik.Tetapi, bukan hanya angkot yang bisa anda gunakkan untuk menuju tempat ini, anda bisa menggunakkan ojek ataupun sebuah kendaraan tradisional yang serupa dengan delman, namun, masyarakat sekitar menyebutnya dengan bendi.

  • Museum Bung Hatta

Gagasan pembangunan kembali (rekonstruksi) rumah kelahiran Bung Hatta ini bermula dari Ketua Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara (sekarang bernama Yayasan pendidikan Bung Hatta) yang mengelola universitas yang memakai nama besar Bung Hatta. Setelah sekian lama tertunda baru pada bulan September 1994, lahan rumah tersebut dapat dibebaskan oleh pemerintah daerah kota Bukittinggi.Pada bulan November 1994 sampai dengan Januari 1995 dimulailah penelitian untuk mendapatkan bentuk rumah yang akan dibangun. Didasarkan kepada foto yang ada dalam memoar Bung Hatta (hal. 7) dan beberapa foto yang masih disimpan oleh keluarga, maka mulailah menginterpretasikannya kedalam gambar perencanaan.Rumah Bung Hatta yang terbuat dari struktur kayu diperkirakan dibangun tahun 1860-an dan mengalami masa pasang surut secara fungsi dan fisik karena sudah tua dan runtuh pada tahun 1960-an. Sebelum dibeli oleh Haji Sabar, bangunan belakang rumah tersebut masih berfungsi dan dihuni oleh beberapa keluarga secara bergantian.Pelaksanaan pembangunan baru dimulai pada tanggal 15 Januari 1995 dan diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, yang bertepatan dengan hari kelahiran Bung Hatta dan peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka. Pembangunan rumah ini menghabiskan 266 meter persegi sasak dari batuang (bambu) yang didatangkan khusus dari Batusangkar, 525 meter persegi tadir pariang dari Payakumbuh, 75 meter persegi kayu banio tampuruang dari Muara Labuh, kayu ruyuang, 1.600 zak Semen Indarung, 336 meter persegi pasir pasang, 138 meter persegi batu kali dari Padang Tarok, 25.000 buah batubata dari Payakumbuh serta material pendukung lainnya.Untuk kelengkapan rumah seperti kunci-kunci, grendel, dan tiang kuno didapat dari berbagai pihak dan masyarakat sekeliling sehingga tampilan rumah ini mendekati aslinya.

  • Musem Museum Tridaya Eka Dharma

Museum ini adalah salah satu museum yang ada di Sumatera Barat yang terletak di kota Bukittinggi, tepatnya di jalan Panorama No. 24, kelurahan Kayo Kubu, kecamatan Guguk Panjang, Bukittinggi. Museum ini diresmikan oleh Mohammad Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1973. Museum yang memiliki koleksi ratusan senjata jaman perang ini terbuka untuk masyarakat umum.Museum ini dahulunya adalah rumah peristirahatan Gubernur Sumatera. Pendirian museum ini digagas oleh Brigjen Widodo, salah seorang pimpinan TNI wilayah Sumatera Tengah. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Brigjen Soemantoro dan diresmika menjadi museum pada tanggal 16 Agustus 1973.Museum ini diberi nama Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma yang artinya tiga unsur kekuatan satu pengabdian. Nama ini bisa dikaitkan dengan falsafah Minang “Tigo Tungku Sajarangan”. Museum ini didirikan sebagai sarana komunikasi antara generasi dan sebagai pewaris semangat juang dan nilai-nilai kepahlawanan.Dipilihnya kota Bukittinggi sebagai tempat berdirinya museum ini dikarenakan kota Bukittinggi pernah menjadi ibukota provinsi Sumatera dan ibukota negara Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

  • Pasar Atas

Pasar Atas berada di sekitar kawasan Jam Gadang dan dijadikan tempat liburan untuk berburu oleh-oleh karena harganya yang murah dan lokasinya yang berada di jantung Kota Bukittinggi.Pasar Atas adalah pasar wisata yang terletak di jantung Kota Bukittinggi Sumatera Barat . Lokasinya strategis dan mudah diakses dari berbagai tujuan liburan lain di Kota Bukittinggi, seperti Jam Gadang, Kebun Binatang Bukittinggi, dan Benteng Fort de Kock. Pasar Atas menyediakan berbagai macam souvenir dan makanan khas Sumatera Barat dengan harga yang sangat terjangkau. Selain sebagai pasar wisata, Pasar Atas Bukittinggi juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. (dayat-BKT)