ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

 
 

ETIKAKEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

(Kajian Diklat Kepemimpinan Kepala KUA di Bdk Padang)

Oleh : Drs. H. Eldison., M.Pd.I

 

Widyaiswara Madya Bdk Padang

 

The Substance of leader in Islamic perspective is the community (ummah) orpeople serviceras leader followers. Based on this philosophy, a leader should servicementioned, actually an authority denotes Allah’sd trustee, and for that reason theleadership should be responsible for hereafter life. Thus, the ethics of leadershipshould be conducted.mentioned, actually an authority denotes Allah’sd trustee, and for that reason theleadership should be responsible for hereafter life. Thus, the ethics of leadershipshould be conducted.

 

Kata kunci:  etika, kepemimpinan dan tanggungjawab

A.  PENDAHULUAN

      Kepemimpinan di abad modern ini hampir mengidentikkan kepemimpinan dengan kekuasaan, yang dapat membawa konsekuensi bagi timbulnya sebuahkekuasaan yang berwujud Korupsi, Kulosi dan Nepotisme (KKN). Lord Action, seorang pakar politik ketetanegaraan abad ke-20 secara tegas menyatakan, bahwa kekuasaan itu cenderung menimbulkan praktek koruptif, dan hampir dari semua level.

      Sinyalemen Action tersebut, setiap kekuasaan dalam wujud apapun yang bersentuhan dengan wilayah publik selalu diwarnai dengan kasus-kasus korupsi. Realitanya, sangat berbalik dengan idealisasi konsep kekuasaan yang diintrodusir Islam melalui nash-nash syar’i baik Al-Qur’an maupun Hadits, yang menegaskan, bahwa kekuasaan itu adalah amanah yang seharusnya dilaksanakan oleh setiap pemimpin yang beriman. Dalam konteks amanah sebagaimana Al-Qur’an melukiskan dalam sebuah dialog sejarah di alam gaib antara malaikat dengan Allah yang meragukan kemampuan manusia dalam mengemban amanah tersebut. Dalam merespon keraguan para malaikat itu, kemudian Allah meyakinkan malaikat-Nya tersebut dengan sebuah jawaban yang ekplisit, bahwa manusia diberi kelebihan akal dan fikiran untuk mengemban amanat tersebut. Dalam Diklat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Balai Diklat Keagamaan Padang dengan materi Manajemen Perkantoran disini disampaikan yang berkenaan dengan Kepemimpinan menurut Islam, bahwa pemimpin itu adalah amanah, amanah dari atasan, rakyat dan amanah dari Allah, inilah yang selalu dilaksanakan kepada masyarakat dari pada memimpin yang mendominasi kekuasaan, Kementerian Agama yang mempunyai logo Ikhlas Beramal ini perlu dicamkan bagi seluruh aparatur Kementeriuan Agama dari pusat sampai ke daerah. Persoalan kepemimpinan (leadership) pada dekade terakhir menjadi persoalan yang signifikan dalam hubungannya dengan kesuksesan sebuah organisasi pada level apapun. Parameter suksesnya kepemimpinan dalam Islam yang paling sederhana adalah sejauhmana implementasi amanah yang melekat pada sebuah kekuasaan dapat dijalankan secara professional terutama pda aparatur Kementerian Agama di Tingkat Kecamatan adalah Aparatur Kementerian Agama (KUA) yang menjadikan garda, baiak dan buruk nya Kementerian Agama di tingkat Kecamatan akan mendapatkan dampaknya. 

      Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka dalam tulisan ini akan  diuraikan etika kepemimpinan dalam Islam.

 

B.  LANDASAN TIORI

      I.  Makna dan Karakter Pemimpin

a.   Makna Ra’i

               Diksi kata yang digunakan Rasul ketika mengeneralisir fungsi dan  tanggungjawab setiap  individu sebagai seorang pemimpin pada segala strata adalah ra’i. Kata ini dapat dirujuk dalam penggalan hadist Rasul yang berbunyi…” Kullukum ra’in, wakullukum mas’ulun ‘an raiyaitihi…”. Secara harfiah kata ini bermakna “penggembala”. Sangat kuat penggunaan kata ini dalam menyebut pemimpin bagi setiap individu umatnya, dinisbatkan pada latar belakang Rasul sebagai seorang penggembala. Apabila dicermati secara mendalam, profesi sebagai penggembala tersebut ternyata menorehkan banyak pelajaran bagi Rasul dalam membangun fondasi leadership-nya dikemudian hari. Pekerjaan tersebut, menurut Harahap (2004), mengajarkan untuk bertanggungjawab terhadap domba yang digembalakannya agar tertib di dalam kumpulan. Pekerjaan itu pun menuntut cinta kasih, semisal mencari domba yang terpisah dari kumpulan atau pun merawat domba yang sakit. Dengan tanggungjawab dan rasa cinta kasih itu, sang penggembala menggiring hewan yang digembalakan menuju titik yang dituju, termasuk menggiringnya pada saat pulang kandang.

 

          b.  Karakter Kepemimpinan

               Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Menurut Prijosaksono (2002) ada sebuah jenis kepemimpinan yang disebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama,Q berarti kecerdasan atau intelligence, misalnya IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosional), dan SQ (Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ-EQ-SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial. Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’–bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management). Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence–quality–qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin. (JurnalA. F. Djunaedi:filisofi etika kepemimpinan dalam Islam)Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Qdalam tiga aspek penting dan disingkat menjadi 3C , yaitu:

               1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)

               2. Visi yang jelas (clear vision)

               3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)

               Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk   senantiasa   bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal. Dalam istilah arab dikenal dengan sebutan al-Imamu khodimul ummah, yang artinya seorang pemimpin itu adalah pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Terkait dengan hal tersebut, berikut akan diuraikan mengenai konsep al-Imamu khodimul ummah tersebut.

 

            a. Hati yang Melayani

                Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri sendiri.   Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang di pimpinnya (al-Imamu Khodimul Ummah). Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat yang dipimpinnya.

 

             b. Kepala yang Melayani

                 Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Ada tiga hal penting dalam metoda kepemimpinan, yaitu: Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini  merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreativitas yang tinggi melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Performa Khulafaurrasyidin dalam konteks ini dapat menjadi cerminan dari sebuah soliditas kepemimpinan Rasul melalui kelebihan dari masing-masing pribadi mereka. Abu Bakar Assiddiq merupakan cermin pribadi sederhana, penuh sikap bijak. Umar bin Khttab merupakan representasi pribadi yang kuat dan pemberani. Usman bin Affan adalah sosok konglomerat yang dermawan, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sosok pemuda yang cerdas dan cekatan. Kepemimpinan adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsif. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan impian dari mereka yang dipimpinnya. Selain itu, Ia selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi organisasinya.

                  

              c. Tangan yang Melayani

                  Pemimpin sejati bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan dalam metode kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat perilaku seorang pemimpin, yaitu: Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan kepada Sang Khaliq. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan ajaran Allah SWT. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Allah SWT dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya. Pemimpin menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orangorang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

 

     II .  Fungsi Pemimpin Menurut Islam

                        Fungsi pemimpin bukan sekedar menjaga masyarakat. Al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyah menyebut fungsi pemimpin justru menjaga agama untuk menegakkan syariat Allah. Seorang pemimpin, bagaimanapun besar kecil wilayah kepemimpinannya selalu mengemban peran yang strategis. Hal ini dikarenakan pemimpin menjadi penentu kemana arah dan gerak sebuah organisasi, sebagai Hadis Rasulullah SAW:

           “Semua kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap nasibyang dipimpinnya. Amir adalah pemimpin rakyat, dan bertanggungjawabterhadap keselamatan mereka”.Memimpin sebuah bangsa tentulah berbeda dengan memimpin sebuah perusahaan, baik dari segi kapasitas kemampuan yang diperlukan maupun tanggung jawab yang dipikulnya.

            Bermodal kemampuan menejerial sudah cukup untuk memimpin sebuah perusahaan. Tetapi untuk memimpin sebuah bangsa, sungguh tidaklah cukup hanya dengan modal kemampuan menejerial semata. Sebab memimpin sebuah bangsa bukan hanya membangun jalan, jembatan atau gedung. Tetapi lebih dari itu yakni membangun manusia. Kesalahan dalam mengelolanya akan berakibat sangat fatal. Bukan hanya menyangkut kerugian material dan beban hutang yang tidak terselesaikan. Kerusakan aqidah dan moral bangsa mererusakkan budaya bangsa, yang akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Memperbaikinya tidak cukup satu dua tahun, bahkan mungkin tidak cukup satu generasi. Andai kerugian yang ditimbulkannya hanya menyangkut urusan dunia, barangkali masih bias dimaklumi. Tetapi ini menyangkut kerugian dunia dan akhirat. Karenanya tidak dapat diganti dengan uang berapapun banyaknya. Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanah. Seorang pemimpin bangsa hakekatnya ia mengemban amanah Allah sekaligus amanah masyarakat. Amanah itu mengandung konsekwensi mengelola dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan harapan dan dan kebutuhan pemiliknya. Karenanya kepemimpinan bukanlah hak milik yang boleh dinikmati dengan cara sesuka hati orang yang memegangnya. Oleh karena itu, Islam memandang tugas kepemimpinan dalam dua tugas utama, yaitu menegakkan agama dan mengurus urusan dunia. Sebagaimana tercermin dalam do’a yang selalu dimunajatkan oleh setiap muslim: “Rabbanaa atinaa(Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat).

 

   III.  Tugas dan Etika Kepemimpinan

           Seorang kepala negara memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menegakkan agar syariat    Allah dapat dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin. Seorang kepala negara tidak boleh menyerahkan urusan agama kaum muslimin kepada pribadi masing-masing, yang suka silakan mengerjakan dan yang tidak suka silakan meninggalkan. Kepala Negara bertanggung jawab agar kaum muslimin dapat melaksanakan ajaran Islam dengan benar. Dalam hal ibadah shalat misalnya, Rasulullah bersabda dihadapan para sahabat beliau:

          “Seandainya ada yang menggantikan aku untuk memimpin shalatberjama’ah, maka aku akan mendatangi rumah-rumah kaum muslimin.Siapa di antara kaum laki-laki yang tidak datang menunaikan shalatberjamaah, maka aku akan membakar rumahnya”.

           Kasus serupa juga terjadi di zaman khalifah Umar Bin Khatab hampir saja mengirimkan pasukan perang ke suatu wilayah propinsi yang disinyalir penduduknya tidak mau melaksanakan kewajiban zakat yang telah digariskan oleh Allah SWT.

          Dalam tugasnya mengatur urusan dunia, pemimpin bangsa bertanggungjawab untuk mendayagunakan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh negara, baik berupa alam, manusia, dana maupun teknologi untuk sebesar-besarnya menciptakan keadilan, keamanan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas. Pemimpin juga bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan bagi orang-orang yang lemah agar mereka tetap dapat menikmati kehidupan sebagai seorang manusia secara wajar. Pemimpin tidak boleh membiarkan yang kuat memonopoli aset-aset negara dan yang lemah tertindas. Pemimpin juga tidak boleh berkhianat, dengan mengekploitasi sumber-sumber daya hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompoknya.IV. Penutup

         Hakikat pemimpin dalam pandangan Islam adalah sebagai khodimulummah atau pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Berpijak pada filosofi ini,maka seorang pemimpin harus melayani rakyat yang dipimpinnya denganpenuh rasa cinta dan keikhlasan.Terkait dengan filosofi kepemimpinan tersebut, maka sesungguhnyasebuah kekuasaan dalam wujud apapun merupakan amanah dari Allah SWTyang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan demikian, moralitasdan etika dalam pelaksanaan sebuah amanah kekuasaan haruslah menjadifondasi yang kokoh agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan wewenangkekuasaan tersebut.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya, Depag, Jakarta

Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel, 2002. Kepemimpinan yang Melayani,

http://www.sinarharapan.co.id.

___________. 2002. Kepemimpinan Sejati, http://www.sinarharapan.co.id.

Danah Zohar. 2000. Spiritual Intelligence: SQ The Ultimate Intelligence,

Jakarta: Gramedia.

Imam Al-Mawardi. 2002. al-Ahkaamush Shulthaniyah. Beirut: Darul Fikr.

Ibnu Khaldun. 1966. Muqaddimah. Beirut: Draul Kutub Al-Ilmiyah.__