Bersabarlah Tidak Mudik Tahun Ini

Bersabarlah Tidak Mudik Tahun Ini

Haruskah kita marah, kecewa, mengutuk, dan berkoar-koar menyalahkan pemerintah?

Dari sisi persona, kekecewaan itu dinilai wajar, apalagi momen hari raya idul fitri adalah momen satu tahun sekali bisa berkumpul dan bertemu dengan orang tua serta sanak saudara tercinta. Namun, melihat keadaan hari ini, dengan masih tingginya penyebaran virus corona, apakah kita harus memaksakan diri untuk mudik? jangan-jangan kepulangan kita ke ranah kelahiran justru membawa petaka bagi orang-orang tercinta kita.

Sebelumnya, penulis menyampaikan tulisan ini hanya untuk mengajak pembaca atau masyarakat untuk berfikir positif, sebagai orang beriman hendaknya tetap berbaik sangka dan bersabar menahan emosional dan buruk sangka dengan larangan mudik tahun 2021 yang diterbitkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 yakni Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021.

Mengutip data dari situs Satgas Covid-19 https://covid19.go.id/, masyarakat Indonesia yang dinyatakan terinfeksi virus korona masih terus bertambah, pada Selasa (4/5) tercatat yang dinyatakan positif mencapai 1.682.004 orang dan yang sembuh sebanyak 1.535.491.

Nah, hemat penulis berpijak dari data itu pihak pemerintah mengambil sikap untuk saat ini meniadakan perjalanan mudik lebaran, baik dengan menggunakan transportasi darat, laut maupun udara yang mulai diberlakukan dari tanggal 6 sampai 17 Mei 2021. Diyakini tujuannya adalah sebagai langkah antisipasi menghambat penebaran virus korona. Intinya, Pemerintah beriktikad baik, menjaga keselamatan kesehatan masyarakat Indonesia.

Menurut penulis, kondisi ini menjadi latihan kesabaran bagi kita khususnya ummat Islam. Berlatih diri untuk bisa menahan emosional dan buruk sangka dengan segala kebijakan-kebijakan pemerintah. Disini, penulis bukan pula menyalahkan segala tanggapan ataupun kritikan publik terhadap kebijakan, instruksi maupun aturan yang diterbitkan pemerintah semacam larangan mudik ini. Tetapi hanya mengajak untuk tidak gegabah, agar bersikap sebagai muslim yakni bersabar dan berfikir positif dengan segala yang terjadi. Dan anggaplah keadaan ini sebagai ujian untuk menaikkan tingkat keimanan.

Coba kita renungkan firman Allah SWT dalam surat Al Ankabut ayat 2-3 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Dan sabda Rasulullah SAW Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau SAW menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat kesalehannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari).

Maknanya, kita semua belum dinyatakan beriman atau tidak dikatakan beriman kalau belum melalui ujian dari Allah SWT.

Allah SWT telah memberikan ujian berupa kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan sebagaimana dalam firmannya pada surat Al Baqarah ayat 155-156 Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar (155), Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadanya kami akan kembali). Hanya bagi orang-orang yang sabar menurut Allah yang akan mampu melewati ujian yang diberikan tersebut.

Disamping itu, penulis juga mengajak untuk menjaga diri agar tidak berburuk sangka, berasumsi, apalagi tanpa bukti, data, keilmuan, dan tanpa adanya melakukan penelitian maupun investigasi yang menyatakan kebenaran tuduhan buruk kita. Sekedar mendengar, mengutip sumber dari orang ke orang yang belum teryakini kebenarannya.

Allah SWT telah menegaskan dalam qur’an surat Al Hujurat ayat 12, artinya Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Meski kita pada lebaran tahun ini tidak bisa bersilaturrahim untuk melepas kerinduan secara langsung dengan orang tua juga keluarga yang kita cintai di kampong halaman, masih ada solusi dan alternatif yakni menggunakan sosial media maupun video call.

Semoga, dengan kesabaran dan tetap berbaik sangka dapat mempertebal keimanan kita kepada Allah SWT dan ini sekaligus membuktikan melekatnya nilai-nilai ibadah puasa yang ditunaikan pada bulan ramadhan.wassalam.

Penulis : Muhammad Yusuf Aunur Sabri,SH (Penyusun Bahan Siaran dan Pemberitaan)