Aparatur Kementerian Agama di Kecamatan, Harus Jadi Pelayan Masyarakat

Aparatur Kementerian Agama di Kecamatan, Harus Jadi Pelayan Masyarakat
Aparatur Kementerian Agama di Kecamatan, Harus Jadi Pelayan Masyarakat

Padang, Humas – Berperan sebagai pejabat atau kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penghulu atau jadi penyuluh agama Islam yang disenangi sekaligus mendapat tempat di tengah masyarakat, tidak bisa hanya dengan mengandalkan sikap ego, merasa dirinya paling hebat, dan menganggap dirinya jadi pejabat yang harus dilayani.

“Di kalangan Kementerian Agama, mulai tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, termasuk kepala KUA di kecamatan, harus arif dan bijak serta mampu menjadikan dirinya sebagai pelayan bagi setiap warga yang membutuhkan”, kata Sugeng Widodo, selaku instruktur pada Bimbingan Teknis (Bintek) fasilitattor keluarga sakinah bagi ketahanan bangsa di Hotel Pusako Bukittinggi, Kamis (3/6) malam.

Pejabat Kementerian Agama, terutama bagi yang dipercaya menjadi kepala KUA di setiap kecamatan, yang erat hubungan dan sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, harus menjadi penyejuk di tengah kebingan ketika menanggapi berbagai persoalan yang terjadi, sehingga setiap warga yang berurusan bisa menerima, faham dan kesejukan di tengah umat.

Bintek fasilitator keluarga sakinah bagi ketahanan bangsa selama tiga hari ini, ulasnya, adalah bentuk kepedulian pemerintah, melalui Kementerian Agama, khususnya Kanwil Sumatera Barat, memberikan pencerahan, meningkatkan kualitas sumber dana manusia, serta saling berbagi ilmu dan pengalaman antar sesame.

Selain itu, ulasnya, Bintek ini juga sarana saling shering (bertukar ilmu dan pengalaman) antara fasilitator atau instruktur dengan peserta. Sehingga setiap seasen (jadwal materi kegiatan) yang dilaksanakan akan ada saling sinergi antara instruktur atau fasilitator dengan peserta. Untuk itu, manfaatkanlah waktu dan kesempatan ini secara maksimal.

Ilmu pengetahuan seperti ini, terang Sugeng, tidak akan dijumpai di lembaga pendidikan formal, mulai ingkat dasar, pendidikan tingkat pertama, pendidikan tingkat menengah, hingga ke perguruan tinggi. Ilmu dan pengetahuan seperti Diklat selama beberapa hari ini, hanya diperoleh ketika Kementerian Agama, sesuai jenjangnya melaksanakan program, seperti dilaksanakan saat ini.

Sementara itu, Siti Rohmah Nurhidayati, juga sebagai instruktur di hari yang sama menjelaskan, ada beberapa metode dilakukan ketika kepala KUA, penghulu atau penyuluh agama menyelesaikan suatu persoalaan rumahtangga. Hal ini sejalan dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki setiap kepala KUA, penghuku atau penyuluh agama di wilayah kerjanya.

Beberaa metoda dan menurut semestinya dilestarikan setiap aparatur KUA di wilayah kerjanya adalah, memberikan pembinaan dan bimbingan keluarga sakinah bagi pasangan calon suami istri sebelum atau bagi pasangan yang sudah menikah. Biasanya, kegiatan ini dilaksanakan petugas BP4 (Balai Pembinaan, Bimbingan, dan Penasihatan Perkawinan) di setiap balai nikah atau KUA. (zar)