Bina PPKB PAI, Plt Kakanwil: Guru PAI Ujung Tombak Pemelihara Moral Masyarakat

Bina PPKB PAI, Plt Kakanwil: Guru PAI Ujung Tombak Pemelihara Moral Masyarakat

Padang (humas)- Guru PAI bukan hanya seorang guru di kelas namun juga memiliki implikasi amal shaleh dalam  wujud aplikasi seperti mubalig, da'i penggerak kemasyarakatan. Mereka harus memainkan peran maksimal karena menjadi ujung tombak pemelihara moral, punya tanggungjawab sosial dan kemasyarakatan. 

Demikian ditegaskan Syamsuir selaku Plt Kakanwil Kemenag Sumbar sebagai upaya pembinaan SDM dan kapasitas Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Barat pada Pembinaan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Pendidikan Agama Islam (PAI), Rabu, (16/06).

Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang guru Pendidikan Agama Islam dari jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK yang dipusatkan di Pariaman.

Syamsuir menuturkan Guru PAI bagian dari Kemenag, kendati dilahirkan dari Kemendikbud. Istimewanya guru PAI memiliki dua kelembagaan yakni Kemendikbud dan Kemenag. 

Diketahui, dalam peningkatan kualitas guru PAI, sudah menjadi kewajiban kemenag.   Untuk itu diharapkan guru PAI lebih meningkatkan kinerja dan profesionalismenya, mengingat  jumlah jam PAI yang 3-4 jam per minggu tidak memadai untuk mendidik anak anak yang beriman dan bertakwa. 

Disamping itu, Syamsuir menyinggung program moderasi beragama dihadapan puluhan guru PAI. Diharapkan guru PAI menjadi ujung tombak aplikasi di lapangan. 

"Moderasi beragama bukan memodernkan agama tapi memodernkan cara berpikir berkata dan berbuat di hadapan anak sekolah." Tukasnya.

"Kalau bisa mengaplikasikan moderasi beragama dalam pembelajaran." Tambahnya. 

Selain itu, Syamsuir menegaskan menulis adalah sebagai salah satu upaya mewujudkan profesionalitas guru PAI. 

Melalui kegiatan ini Syamsuir mengharapkan GPAI memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Sekaligus, GPAI dapat meningkatkan kapasitas kompetensif secara akademik dan ilmiah untuk pengembangan SDM GPAI.

Menurutnya tradisi dan budaya menulis mesti diterapkan pada Guru PAI. Ia berharap melalui sosialisasi PPKB diharapkan guru PAI menerbitkan karya karya. Baik itu menyangkut pengalaman mengajar dan permasalahan mengajar diwujudkan dalam bentuk publikasi lmiah. 

"Maka apabila ada guru PAI tidak mau menulis, maka ia kehilangan peran mengembangkan profesionalismenya." Ungkap bapak empat putera ini.

Syamsuir menambahkan, kedepan untuk pelaksanaan PPG 2022 diharapkan Kakankemenag menjalin dan mempererat kerjasama dengan pihak Pemko setempat. Sehingga tahun 2022,  diharapkan guru guru PAI mendapatkan bantuan dari pemda, melalui APBD kota Pariaman.(vera)