Perkuat Moderasi Beragama, ini Empat Indikatornya

Perkuat Moderasi Beragama, ini Empat Indikatornya

Padang, Humas—Munculnya konsep dan gagasan moderasi beragama ini adalah sebuah kebutuhan karena kita berada pada  kondisi yang beragam. Penguatan moderasi beragama di Indonesia saat ini penting dilakukan didasarkan fakta bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang sangat majemuk dengan berbagai macam suku, bahasa, budaya dan agama.  Indonesia juga merupakan negara yang agamis walaupun bukan negara berdasarkan agama tertentu. 

Hal tersebut disampaikan Rahmat Tuanku Sulaiman, salah seorang tokoh masyarakat Kota Pariaman yang bertindak sebagai narasumber pada kegiatan Penguatan Moderasi Beragama Kurikulum Madrasah dan Pondok Pesantren Tahun 2021 di Provinsi Sumatera Barat di aula PLHUT Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman, Rabu (16/06).

Menurut Rahmat Tuanku Sulaiman ada empat indikator penting dalam moderasi beragama. Indikator pertama adalah menghargai kearifan lokal. Penguatan moderasi beragama merupakan ikhtiar pemimpin dari semua masalah yang muncul dikarenakan keberagaman Indonesia sehingga lebih menghargai kearifan lokal.

“Yang menjadi sumber masalah adalah adanya penyelewengan pemikiran, merasa hebat dan paling benar, memandang yang lain salah dikarenakan cara pandang yang berbeda terhadap keberagaman kemudian menggiring opini negatif terhadap berbagai perbedaan tersebut sehingga memicu konflik  dan mengganggu stabilitas bangsa,” jelas Tuanku Sulaiman.

Ketika perbedaan keberagaman itu tidak di manage dengan baik, maka keberagaman itu akan menjadi sumber konflik yang membahayakan, apalagi dewasa ini media sudah sangat liar dalam mengadu domba, namun jika perbedaan keberagaman itu di manage dengan baik, maka keberagaman itu akan menjadi suatu sumber kekuatan.

“Moderasi beragama merupakan kebutuhan agar apa yang dikhawatirkan tidak terjadi,” tegasnya. 
Indikator kedua dari moderasi beragama adalah anti kekerasan. Dengan adanya moderasi beragama mewujudkan sikap dan cara pandang dari sisi positif sehingga dapat menghidari perselisihan yang dapat memicu kekerasan. Oleh karena dalam menerapkan moderasi beragama perlu adanya literasi dan edukasi yang positif.

“Hal inilah mengapa dunia pendidikan itu perlu ditanamkan moderasi beragama,” ujarnya.

Indikator ketiga dari moderasi beragama adalah toleran. Narasi toleransi ini sangat penting. Ini adalah refleksi sebuah kebutuhan cara bernegara. Moderasi itu adalah memilih jalan tengah, nilainya adalah adil dan berimbang. Moderasi akan menjadi penyelesaian atau penengah.

Toleransi merupakan sikap untuk memberi ruang dan tidak mengganggu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat, meskipun hal tersebut berbeda dengan apa yang kita yakini. Dengan demikian, toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan. Toleransi selalu disertai dengan sikap hormat, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri kita, dan berpikir positif.

“Kematangan demokrasi sebuah bangsa, antara lain, bisa diukur dengan sejauh mana toleransi bangsa itu. Semakin tinggi toleransinya terhadap perbedaan, maka bangsa itu cenderung semakin demokratis, demikian juga sebaliknya. Aspek toleransi sebenarnya tidak hanya terkait dengan keyakinan agama, namun bisa terkait dengan perbedaan ras, jenis kelamin, perbedaan orientasiseksual, suku, budaya, dan sebagainya,” ujar tuanku menjabarkan lagi. 

Indikator keempat menurut Tuanku Sulaiman adalah Komitmen kebangsaan, ini berguna untuk melihat sejauh mana cara pandang, sikap, dan praktik beragama seseorang berdampak pada kesetiaan terhadap konsensus dasar kebangsaan, terutama terkait dengan penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara, sikapnya terhadap tantangan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila, serta nasionalisme. Sebagai bagian dari komitmen kebangsaan adalah penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam Konstitusi UUD 1945 dan regulasi di bawahnya.

Komitmen kebangsaan ini penting untuk dijadikan sebagai indikator moderasi beragama karena dalam perspektif moderasi beragama, mengamalkan ajaran agama adalah sama dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sebagaimana menunaikan kewajiban sebagai warga negara adalah wujud pengamalan ajaran agama.

Agama adalah persoalan yang sensitif dan ada beberapa pihak yang memanfaatkan ini sehingga menyebar hoax dan menggiring opini sehingga masyarakat menjadi benci pemerintah dan mencari kekisruhan. Hal ini lah menjadi penting untuk melakukan penguatan moderasi beragama.

“Semua keberagaman di Indonesia memiliki keberagaman pemikiran tetapi keberagaman pemikiran itulah menjadi kekuatan, jadikan agama sumber inspirasi sehingga kita menjadi paham,” pesan Tuanku Sulaiman di akhir.[DW]