Computational Thinking, Upaya Mencerdaskan Anak Bangsa

Computational Thinking, Upaya Mencerdaskan Anak Bangsa

Lima Puluh Kota, Humas--Memasuki hari ke dua pelaksanaan Lokakarya di MTsN 4 Lima Puluh Kota, Supriadi, yang didaulat sebagai narasumber dalam dua hari ini memaparkan materi Computational Thinking yang diusung dalam Lokakarya tahun ini.

Supriadi menyebut, istilah Computational Thinking mulai muncul pada tahun 2020. “Computational Thinking sebenarnya sudah ada semenjak manusia ada. Baru buming seiring dengan perkembangan teknologi sekitar tahun 2020. Perkembangan Computational Thinking sesuai dengan perkembangan cara fikir manusia,” papar Supriadi.

Ia mengurai, Computational Thinking lahir dari berbagai perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam diri manusi. Perbedaan genetik, proses pengalaman, cara berfikir, dan perbedaan dalam cara menyelasaikan masalah adalah beberapa faktor pendukung dalam perkembangan Computational Thinking.

“Secara sederhana Computational Thinking juga bisa diartikan sebagai cara berfikir manusia yang logis, terstruktur dan kreatif. Berfikir kreatif akan menunjukan kualitas diri seseorang. Berfikir kreatif adalah berfikir dengan menciptakan sesuatu yang baru atau befikir tentang sesuatu yang sudah ada namun diramu dan diracik dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang lain,” lanjut Putra kubang Putiah ini.

Selanjutnya, Dosen FTIK IAIN Bukittinggi ini menjelaskan, seorang tenaga pendidik harus menggunakan cara ferfikir yang Computational Thinking.

“Kemajuan teknologi yang pesat menuntut tenaga pendidik harus befikir kreatif. Semakin seseorang berfikir secara Computational Thinking, semakin kuat dia menghadapi peserta didik, terutama dalam proses belajar mengajar saat ini,” jelasnya.

Supriadi juga menekankan bahwa, tenaga pendidik harus siap menghadapi generasi saat ini yang disebut dengan generasi Alfa. Generasi Alfa adalah generasi yang hanya tau tentang kesenangan, pencinta hal instant dan tidak tahan terhadap tantangan.

Pemahan peserta tentang Computational Thinking yang dipaparkan pria 49 tahun ini semakin mendalam dengan suguhan beberapa simulasi edukasi yang memancing cara berfikir peserta.

Kegiatan yang digelar di ruang pertemuan MTsN 4 Lima Puluh Kota ini diikuti oleh 33 orang yang masih semangat mengikuti Lokakarya yang bertema “Perancangan Pembelajaran Berbasis Computational Thinking Untuk Pendidik Dan Tenaga Kependidikan”. Lokakarya semakin menarik karena diselingi berbagai macam pertanyaan dari peserta pada tiap point materinya. (Nina)