Diskusi Virtual "Menguak Peran Ulama Melewati Pandemi", Plt Kakanwil: Agama Tempat Berteduh Umat 

Diskusi Virtual "Menguak Peran Ulama Melewati Pandemi", Plt Kakanwil: Agama Tempat Berteduh Umat 

Padang (humas)- Tantangan terbesar di masa Covid-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun ini tidak hanya mengancam fisik manusia, namun juga kesehatan mental masyarakat umumnya. Dalam hal ini, peran Kemenag dalam mencegah penyebaran Covid-19 sudah terus diupayakan dalam sejumlah kebijakan. Tak terkecuali sinergitas Kemenag bersama pemuka agama, alim ulama dan juga ormas yang ada di Sumbar, dalam menghadapi krisis  karena Pandemi Covid-19.

Hal ini disampaikan Plt Kakanwil Syamsuir saat bersilaturahim dengan Pembina Senarai Irwan Prayitno, Ketua Yayasan Senarai, para ulama dan tuan guru di Sumatera Barat, Jumat (23/07) malam secara daring di ruang kerjanya.

Kehadiran Syamsuir sebagai panelis pertama pada diskusi ini, disambut hangat Pembina Yayasan Irwan yang didaulat sebagai opening speech pada diskusi virtual tersebut.

Menurut mantan Kabid PHU Kanwil Kemenag Sumbar ini, dalam kondisi pandemi, masyarakat perlu melihat agama merupakan tempat berteduh umat. Fungsi agama disini bisa memberikan ketenangan bagi umat yang merasa tidak nyaman secara psikologis.

Diketahui dari survey Badan Litbang Tahun 2020 sedikitnya tercatat 84 persen masyarakat Indonesia mempertimbangkan agama menjadi acuan atau keputusan penting dalam hidup mereka. 

Dengan kata lain, rilis survey puslitbang ini, mayoritas 80 persen masyarakat merasa semakin relligius (taat beragama) dengan adanya Covid-19 ini. Kemudian 90 persen lainnya responden berkeyakinan keberagamaan sangat membantu mereka secara psikologis menghadapi pandemi yang sangat pelik.

"Artinya, keberagamaan masyarakat semakin meningkat, saat mengalami penderitaan, krisis ekonomi, sekalipun dilapangan masih sedikit layanan konsultasi psikologis yang tersedia," ungkapnya. 

Dikatakan Syamsuir, disinilah pentingnya dorongan semangat dari para ulama yang membuat umat teguh dalam kesabaran, karena sabar bagian penting yang selalu disampaikan para ulama.

Terkait itu, Kemenag sendiri terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan pandemi yang terjadi. Hal itu dibuktikan seluruh komponen dan jajaran Kemenag khususnya di Sumbar sudah bergerak ditengah masyarakat menindaklanjuti SE Menteri Agama.

"Tentu saja dengan memberikan kontribusi kepada masyarakat, menyampaikan hal hal yang menyangkut pandemi Covid-19 ini," jelas Syamsuir pada diskusi yang dimulai pukul 20:10 WIB ini.

Terlebih lagi, setelah Kemenag menerbitkan SE nomor 15 tentang Penerapan Prokes dalam Penyelenggaraan Sholat Idul Adha dan Pelaksanaan Ibadah Kurban. Dilanjutkan surat edaran Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pentunjuk Teknis Penyelenggaraan Malam Takbiran, Sholat Iduladha dan Ibadah Kurban diluar wilayah PPKM apalagi PPKM Darurat. Diiringi pula SE nomor 17 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di tempat rumah ibadah, rincinya.

Pihaknya mengaku sudah mewanti wanti, bahwa aturan tersebut diterbitkan Kemenag bukan untuk melarang masyarakat beribadah. Melainkan bertujuan semata untuk memutus rantai kerumunan di tempat ibadah yang sudah kian melonjak tinggi. 

Menurutnya upaya preventif, edukatif maupun bentuk sosialisasi serta kebijakan yang disampaikan Kemenag, semata adalah wujud ikhtiar memutus rantai Covid-19 ditengah masyarakat.

Selain Kemenag sebagai perpanjangan tangan pemerintah, para ulama juga diharapkan mampu mengajarkan nilai positif dengan tidak berhenti berikhtiar. Sehingga apa yang disampaikan  para alim ulama, para da'i dan para ustadz/ah, tidak berbenturan karena munculnya paradoks dengan kehidupan nyata.

Di hadapan sekitar 15 panelis yang terdiri dari MUI, Ormas Islam, Ustadz/ah, Da'i, Tuan Guru dan seluruh alim ulama, Syamsuir menyampaikan momen diskusi virtual ini semoga menjadi sumbangsih besar Kemenag, para ulama, pemerintah mengakhiri pandemi.(vera)