Marhamah, PAI Fungsional di KUA Sungai Aur, Dinilai Tim Provinsi

Marhamah, PAI Fungsional di KUA Sungai Aur, Dinilai Tim Provinsi

Pasaman Barat, Humas – Marhamah, Penyuluh Agama Islam (PAI) Fungsional di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Aur, Kamis (23/9) di aula Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, dinilai Tim Penilai dari Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat, sebagai utusan kabupaten pada Penilaian PAI Teladan tingkat provisi, tahun 2021.

Tim penilai Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat, dipimpin Thomas Febria, PAI Madya Kanwil, bersama tiga orang anggota tim, yaitu Kasi Pemberdayaan Wakaf pada Bidang Penerangan Agama Islam dan Zakat Wakaf (Penais Zawa), Muslimah, Kasi Pemberdayaan Zakat, juga di Bidang Penais Zawa, M. Rifk, dan Dini Mahdumillah, dari Subbag Kepegawaian.

Sebelum prosesi penilaian, Tim Penilai Kanwil, mengikuti temuramah dengan kepala kantor, Muhammad Nur di ruang kerjanya, diikuti Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Ronaldi, Penyelenggara Zawa, Asriwan, dan Pranata Humas, Gusmizar. Penilaian PAI teladan di Pasaman Barat, merupakan kegiatan ke-17 dari 19 kabupaten/kota se Sumatera Barat.

Marhamah, ketika menyampaikan materi yang ditayangkan melalui video singkat pada kesempatan itu menyampaikan, materi penyuluhan dan pembinaan yang dilaksanakan sebagai objek dari pembinaan yang dia dilasanakan adalah tatacara penyelenggaraan jenazah bagi kaum ibu dari kelompok binaan Al-Muttaqin Jorong Serasah Betung, Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur.

Muhammad Nur, pada pembukaan prosesi penilaian itu menyampaikan, jika masing-masing penyuluh agama bisa sekaligus mampu menata kegiatan, mulai perencanaan, pelaksanaan dan tahap evaluasi, banyak hal bisa dilaksanakan, sebagai karya penyuluh. Selain menjalankan tugasnya sebagai PNS, karya penyuluhan juga ladang amal.

“JIka ada penyuluh tidak bisa memberikan pencerahan, berbuat dengan maksimal, dan mengajarkan ilmu agama dengan maksimal kepada masyarakat, termasuk belajar tatacara membaca ayat alquran, melalui pengenalan dan pemahaman huruf hijaiyah, lebih bagi mundur”, kata Muhammad Nur, seraya menantang kreativitas penyuluh se Pasaman Barat.

Dari segi jumlah, ulasnya, PAI di Pasaman Barat masih terbatas, khusus yang pegawai negeri jumlahnya hanya empat orang, yaitu Marhamah, Edi Halomoan, Sastrawati, dan Agussalim. Untuk PAI Non PNS dan tersebar di 11 kecamatan berjumlah 99 orang, yang masing-masing kecamatan diisi sebanhyak Sembilan orang.

Ketua Tim, Thomas Febria, menyampaikan, penyuluh agama adalah corong penyampai informasi dan berbagai hal berkaitan dengan progam kerja kelembagaan. Di sisi lain, dilaksanakannya pemetaan PAI, apakah berstatus sebagai PNS maupun Non PNS, tidak lepas dari rasa ingin tahu pimpinan terhadap sosok dan karya penyuluhan yang dilaksanakan.

Pada pemetaan penyuluh secara serentak, seperti di Sumatera Barat, bebeapa waktu lalu, berkaitan juga dengan sarana evaluasi kerja setiap penyuluh. Sebab, berhasil atau tidaknya seorag PAI berkreasi di tengah masyarakat bukanlah ditentukan oleh orang lain, tapi diri mereka sendiri. “Saya berkeyakinan, tidak seorangpun PAI PNS dan PAI Non PNS di Pasaman Barat, yang tidak produktif”, akhirnya.

Muslimah bersama M. Rifki, ketika menanggapi ekspos disampaikan Marhamah, pada kesempatan itu menyampaikan, paling tidak ada tiga indikator dilakukan setiap PAI PNS dan PAI Non PNS, agar mereka sukses melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh. Tiga hal itu adalah, Satu. Perencanaan (merencanakan dari awal pelaksanan hingga ke tahap akhir, Dua. Pelaksanaan, diijalankan sesuai perencanaan, dan Tiga. Evaluasi, atas karya penyuluhan yang dilakukan. (zar)