Ribuan Penyuluh Agama Islam se Sumbar Akan Dipetakan

Ribuan Penyuluh Agama Islam se Sumbar Akan Dipetakan

Padang, Humas—Penyuluh agama merupakan garda terdepan Kementerian Agama dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan di tengah-tengah masyarakat. Karena itu maka perlu diadakan pemetaan penyuluh untuk mengetahui sejauh mana wawasan kebangsaan dan faham keagamaan penyuluh tersebut.

Hal tersebut dilaporkan H. Thomas Febria, Sub Koordinator Penyuluh Agama Islam Kanwil Kemenag Sumbar yang mewakili Kepala Bidang Penaiszawa dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan Penyuluh Agama Islam di Hotel Pangeran City Padang, Senin (04/10).

Lebih lanjut dilaporkannya, “Pemetaan penyuluh ini berdasar Keputusan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI Nomor : 524 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pemetaan Penyuluh Agama Islam tentang Wawasan Kebangsaan dan Faham Keagamaan.”

Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari ini diikuti oleh Kasi Bimas Islam Kabupaten Kota Se-Sumatera Barat dan perwakilan Enumerator Se- Sumatera Barat yang mempunyai latar belakang dan kompetensi di bidang wawasan kebangsaan dan faham keagamaan berjumlah 27 orang.

“Semoga dengan diadakannya FGD ini bisa menjadi dasar dalam mengetahui dan memetakan pemahaman wawasan kebangsan dan pemahaman agama dari penyuluh agama Islam, yang nantinya akan digunakan sebagai acuan dalam membuat program dan langkah strategis pelaksanaan tugas penyuluh agama dan Kementerian Agama secara komprehensif,” ujar Thomas Febria menutup laporannya.

Hadir Kasubdit Penyuluh Agama Islam Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI diwakili Kepala Seksi Penyuluh Agama Islam Kemenag RI, H. Amirullah dalam kegiatan tersebut menyampaikan, “Penyuluh Agama sebagia garda terdepan Kementerian Agama dalam mendukung Program Prioritas Kementerian Agama yang salah satunya Moderasi Beragama.”

“Diharapkan melalui penyuluh agama segala informasi informasi menyimpang dan hoax bisa diluruskan melalui bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat,” ujar Amirullah.

Lebih lanjut disampaikannya, “Program ini akan dilakukan terhadap delapan provinsi, yakninya : Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan NTB dimana dalam rangka persiapan Tahun Toleransi, hal yang pertama kita lakukan adalah pemetaan penyuluh agama yang jumlahnya 50ribu seluruh Indonesia dan guru agama dengan melakukan pemetaan garda garda terdepan.”

“Saat ini Penyuluh Agama sudah menjadi profesi yang professional yang memiliki dua tugas penting dimana untuk menyampaikan pesan agama dan pesan pembangunan sehingga menjadi ujung tombak Negara, karena itu lah nanti dalam kegiatan ini kita akan memetakan Penyuluh di Sumatera Barat sesuai dengan wawasan Kebangsaannya,” jelas Amirullah.

Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, H. Syamsuir yang hadir membuka Kegiatan tersebut memaparkan, “Jumlah penyuluh kita di Sumatera Barat sebanyak 1.670 yang terdiri dari 1.400 Non PNS dan 270 PNS. Mereka telah melaksanakan tugas dengan baik di kecamatan masing-masing, dan kita di kanwil selalu memantau dan memberikan pembinaan secara berkala agar para penyuluh selalu meningkatkan kinerjanya di tengah umat,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, “Penyuluh Agama dalam menyampaikan program-program pemerintah dengan bahasa agama, memberikan pembinaan dan penyuluhan serta pencerahan kepada umat. Pada saat yang bersamaan, Penyuluh Agama dihadapkan kepada tantangan zaman yang begitu kompleks.”

“Era globalisasi dan digitalisasi saat ini yang mau tidak mau telah masuk ke semua lini kehidupan manusia. Anak-anak, generasi muda, ataupun orang yang sudah dewasa telah bergumul dengan kemajuan zaman dan teknologi. Kemajuan teknologi kalau disikapi atau dimanfaatkan untuk hal yang positif maka hasilnya tentu akan positif dan begitu juga sebaliknya kalau dimanfaatkan untuk sesuatu yang membawa dampak negatif maka hasilnya tentu negatif,” paparnya mendalam.

“Selain itu persoalan keummatan yang akhir-akhir ini cukup mendapat perhatian yang serius dari pemerintah diantaranya munculnya paham dan pemikiran yang berbau radikal dan ekstrim. Radikalisme, ekstrimisme dan terorisme adalah musuh negara dan musuh agama. Karena dalam paham tersebut seseorang diajarkan untuk memberontak dan melawan kepada sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahamannya, memaksakan kehendak (pendapat) dan berprinsip paling benar sendiri,” jelasnya lagi.

“Oleh sebab itu paham tersebut kalau dibiarkan berkembang, akan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka penyuluh agama harus mampu meredam dan mengantisipasi agar paham radikalisme tidak berkembang di tengah-tengah masyarakat, karena itu kegiatan ini sangat perlu diadakan dan ikutilah dengan serius,” tutup Kakanwil dilanjutkan dengan membuka kegiatan tersebut secara resmi. [DW]