Helmi. Jabatan Adalah Amanah dan Harus Dipertanggungjawabkan

Helmi. Jabatan Adalah Amanah dan Harus Dipertanggungjawabkan

Pasaman Barat, Humas – Guna meningkatkan kekompakan dan menjalin harmonisasi antara pejabat negara di lingkungan Kanwil Kementerian Agama se Sumatera Barat, Selasa (19/10) siang, Kepala Kanwil, Helmi memberikan pembinaan sekaligus pencerahan kepada pejabat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat.

Pembinaan kepala Kanwil, kepada pejabat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat itu dilaksanakan di Balai Nikah dan Sarana Manasik Haji, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pasaman, Simpang Empat. Selain Kepala Kantor, Muhammad Nur, Kasubbag Keuangan dan Barang Milik Negara (BMN) Kanwil, Susi Apriyanti, Kasubbag Tata Usaha, Sufrinas, Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Ronaldi.

Kasi Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (Pakis), Rali Tasman, Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU), Suharjo, Penyelenggara Zakat Wakaf  (Zawa), Arsiwan bersama pejabat fugsional di lingkungan Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat. Pembinaan kelembagaan itu, juga diikuti kepala KUA, kepala madrasah negeri, dan pengawas madrasah se Pasaman Barat.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat, Helmi, mengakui, jabatan yang saat ini dipercayakan kepada para pejabat, apakah kepala kantor, Kasubbag tata Usaha, kepala seksi, penyelenggara Zawa, kepala KUA atau kepala madrasah negeri, seperti di Pasaman Barat, termasuk dirinya yang beberapa hari terakhir dilantik menjadi kepaa Kanwil adalah amanah, dan harus dipertanggungjawabkan.

Seiring hal itu, ingat Helmi, maka jalankanlah amanah atau kepercayaan dimaksud dengan penuh ihlas, bertanggungjawab, professional, dengan berbagai kreasi dan inovasi, sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku. “Sebagai pelayan masyarakat, termasuk siswa dengan orangtua di madrasah, bersangkutan harus malayaninya dengan maksimal, sehingga sinergitas dan kebersmaan yang berkesinambungan di wilayah keranya, makin kokoh”, katanya.

Secara nasional, ulas Helmi, Kementerian Agama, memeng berbeda dengan kementerian dan lembaga lain di taah air. Selain mengurusi pendidikan, mulai tingkat Rhaudatul Adfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsnawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) hingga ke perguruan tinggi, Kementerian Agama juga menjalankan tugas sebagai pelaksana pembangunan berbangsa dan bernegara di bidang keaagamaan.

Pembangunan bidang agama dimaksud, terang kepala Kanwil baru itu, bukan saja pelayanan haji dan umrah, urusan keagamaan (Islam, Katolik, Budha, Kristen, Hindu dan Konghucu), Kementerian Agama juga mengurusi layanan haji dan umrah, zakat, wakaf, pembinaan keluarga sakinah (urusan penikahan), dan sebagainya.

Seiring hal itu, ingat Helmi lagi, tidak ada alasan bagi pejabat di kantor, kepala KUA, dengan kepala madrasah negeri, seperti di Pasaman Barat, untuk tidak peduli dengan tugas dan kewenangan yang diamanhkan kepada masing-masingnya. Jika ada di antara warga Kementerian Agama, tidak sanggup menjalankan tugas yang diamanahkan dengan maksimal, dan penuh tanggungjawab, maka perbaharui lagi niat masing-masing dengan segera.

Kepala Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, Muhammad Nur, usai mengikuti pembinaan dan menerima pencerahan dari kepala Kanwil, menyampaikan, secara geografis, Pasaman Barat berada di kawasan pesisir pantai barat sumatera, dalam kawasan perbukitan, dan letaknya di kawasan perbatan provinsi dengan Sumatera Utara.

Menurut kawasan teritorialnya, terang kepala kantor, Pasaman Barat memiliki 11 kecamatan, 19 nagari induk dan 72 nagari persiapan, denga 214 kejorongan. setiap kecamatan terdapat KUA, yang pada setiap saat selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan pemerintah kecamatan, unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), wali nagari, tokoh masyarakat, dan pihak terkait lain.

Dai segi kependudukan, uas Muhammad Nur lagi, Pasaman Baat dihuni warga Negara dalam tiga etnis besar, yaitu Minang, Jawa, dan Mandahiling, yang di dalam etnis Mandahilng terdapat suku Batak, dan tapanuli. Dari segi agama, kabupaten yang berbatasam dengan Kabupaten Agam, Pasaman, dan Kabupaten Mandahiling Natal (Madina) Sumatera Utara, menganut agama Islam, Katolik, Kristen dengan Hindu.

Kaharmonisan semasa warga, dalam tatanan agama, etnis, dan bahasa berbeda, tambah kepala kantor lagi, hingga saat ini berlangsung aman, nyaman dan harmonis. Keharmonisan lintas agama dimaksud, ditandai dengan ditunjukkan Mahakarya di Kecamatan Luhak Nan Duo, sebagai Desa Kerukunan tingkat kaupaten. (zar)