Selesaikan Tugasnya di Bumi Cendrawasih, Guru MAN 2 Bukittinggi Berbagi Pengalaman

Selesaikan Tugasnya di Bumi Cendrawasih, Guru MAN 2 Bukittinggi Berbagi Pengalaman

Bukittinggi, Humas--Walau ajang pesta olahraga nasional PON Papua ke XXI telah usai, Namun bagi MAN 2 Bukittinggi ajang ini mempunyai kenangan dan kebanggaan tersendiri, karena satu guru olahraganya, Langgeng Sukma Jaya baru saja menunaikan tugasnya sebagai tim masseur kontingen Provinsi Sumatera Barat dibumi Cendrawasih.Terpilihnya Langgeng Sukma Jaya merupakan kebangga tersendiri bagi madrasah kareana tidak semua guru bisa terpilih sebagai official untuk ajang sebesar ini.

Plt. Kepala MAN 2 Bukittinggi Deswita menyampaikan apresiasinya kepada guru Penjaskes yang telah usai melaksanakan tugasnya sebagai tim masseur kontingen Provinsi Sumatera Barat dibumi Cendrawasih.

‘’Alhamdulillah ada guru kita terpilih sebagai salah satu tim kontingen Provinsi Sumatera Barat dalam ajang Nasional yaitu PON XX di Papua. Ini sangat membanggakan dan membawa motivasi tersendiri bagi kita semua. Dengan keterlibatan guru dalam ajang sebesar itu diharapkan para siswa mau menggali ilmu massage ini kedepannya. Dibalik pesta olahraga ada tenaga profesional berbagai pihak yang menyukseskan acara tersebut termasuk tim masseur kontingen," ujar kepala madrasah yang humble ini kepada Humas, Senin (25/10).

Ditemui sekembalinya Lasuja (begitu panggilan akrabnya) dari ajang pesta olahraga nasional PON Papua ke XXI, menceritakan berbagai pengalamannya selama terlibat dalam perhelatan olahraga terbesar di Indonesia.

“Saya bersyukur terpilih kembali sebagai tim kesehatan  untuk membantu kontingen Sumbar berlaga pada PON XX Papua. Ini merupakan pengalaman kedua bagi saya terlibat sebagai tim kesehatan pada ajang setingkat PON," ungkap guru olahraga ini.

Lanjutnya, "Tim kesehatan Sumbar ini merupakan kontingen tersibuk karena waktu di sana banyak atlet cedera. Salah satunya atlet Muaythai  Dion Saputra mengalami patah jari tangan saat bertanding juga bahu kiri patah dan Alhamdulillah saya berhasil mereposisi cedera bahunya. Selain itu cedera juga terjadi pada atlet gantole yang  jatuh karena kesalahan teknis retak tulang punggung. Tantangan selama di Papua kita harus standby  pada tiap arena tapi pernah terjadi kepanikan karena jadwal dempet seperti jadwal  Kempo dan Pencak Silat waktu itu. Sehingga kami harus bolak balik apalagi dua cabang olahraga  tersebut  punya resiko yang lebih tinggi, untuk mengatasi kita harus mencek ulang kondisi atlet sebelum bertanding," paparnya.

Harapannya untuk kedepan semoga tim fisioterapis (massage) semakin banyak, karena untuk background guru baru dua orang dari Sumbar.

"Kami  ini bukan tukang urut seperti yang dianggap orang mungkin seperti itu, karena ilmu massage ini  kami mendapatkan pembekalan waku kuliah dimulai dari pengenalan Anatomi tubuh manusia, P3K dan lainnya. Semoga siswa juga tertarik untuk ikut ekskul massage seperti pada ekskul KKR sudah pernah saya ajarkan ilmu massage," tutup Lasuja. (Yuli/Syafrial)