Penyuluh Agama Lima Puluh Kota Lakukan Pembinaan Bagi Warga LPKA Tanjung Pati

Penyuluh Agama Lima Puluh Kota Lakukan Pembinaan Bagi Warga LPKA Tanjung Pati

Lima Puluh Kota, Humas -- Nota Kesepakatan yang ditanda tangani oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lima Puluh Kota dengan Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Tanjung Pati September  lalu terkait pembinaan bagi warga lapas masih terus digiatkan.

Kegiatan Pembinaan oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional hari ini, Rabu (12/1), merupakan rutinitas mingguan. Berbagai materi pembinaan telah disusun untuk disuguhkan kepada warga Lapas. Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh), Nur Akmal menyebut, kegiatan ini dalam rangka pelayanan Kementerian Agama Kabupaten Lima Puluh Kota kepada masyarakat dalam bentuk pembinaan spiritual.

“Kegiatan pembinaan dilaksanakan setiap hari Rabu secara bergantian oleh penyuluh Agama Islam sesuai dengan jadwal yang sudah disusun. Kita berharap kegiatan ini mampu menjadi obat bagi pribadi penghuni Lapas,” jelas Nur Akmal.

Nur Akmal menambahkan, warga Lapas dengan berbagai karakter dan kepribadian, menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh dalam melakukan pembinaan. Tidak mudah memberikan pemahaman kepada warga Lapas. Pendekatan emosional lebih utama dalam pembinaan warga lapas.

Andika Figora, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kecamatan Kapur IX yang memberikan tausiyah, membeberkan program yang dilakukan kali ini, diawali dengan berkumpul bersama untuk mendengarkan tausiyah selama 30 menit, setelah itu baru dibagi perkelompok untuk bimbingan baca Al Quran, baik Kelompok IqIq," Tahfidz maupun Tahsin.

Plt. Kepala LPKA Kelas II Tanjung Pati, Mubasirudin, saat ditemui sebelum pembinaan menyebutkan, ada 85 orang warga Lapas dengan berbagai karakter.

“Nota Kesepakatan yang tanda tangani belum lama ini sangat kami rasakan manfaatnya. Kita memahami, mereka yang masuk ke sini sedikit banyaknya akan merasakan penurunan mental. Pembinaan ini tentu akan mengembailkan mental yang baik, karena pada dasarnya manusia itu baik. Lingkunganlah yang kadang mempengaruhi,” tutur Mubasirudin.

Mubasirudin menjelaskan, program yang tengah dilakukan oleh LPKA adalah memberikan satu kamar khusus bagi warga lapas yang rajin sholat dan rajin baca Al Quran. Dalam program ini sudah ada sepuluh warga lapas sebagai percontohan.

Ia juga menjelaskan bahwa warga Lapas kebanyakan berasal dari luar Lima Puluh Kota. Dari 85 warga Lapas, hanya lima orang yang berasal dari Lima Puluh Kota, selebihnya berasal dari daerah lain di Sumatra Barat. Kasus yang paling dominan menjadi penyebab mereka menghuni LPKA adalah kasus asusila, narkoba, dan Pencurian.

“Dalam waktu dekat LPKA kan membuka sekolah  Al Quran dengan target warga Lapas bisa membaca Al Quran dengan baik, bisa khatam, dan juga tahfidz. Kita berharap program ini segera terwujud dan tentunya keikutsertaan Kementerian Agama Kabupaten Lima Puluh Kota sangat kami harapkan,” pungkas Mubasirudin. (Nina)