Smart Parenting Bagi Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital

Smart Parenting Bagi Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital

SMART PARENTING BAGI ORANG TUA DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK DI ERA DIGITAL

(Oleh Nori Bahar,SHI/Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Sijunjung)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keluarga sebagai salah satu dari trisentra pendidikan adalah tempat pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga juga harus mampu menghasilkan anak-anak yang dapat tumbuh menjadi pribadi tangguh dan mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Dalam keluarga, orang tua (ayah maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun (guru), sebagai pengajar, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya, dalam hal ini yang berbeda misalnya cara didik keluarga, keadaan, ekonomi keluarga. Setiap keluarga memiliki sejarah perjuangan, nilai-nilai, dan kebiasaan turun-menurun yang secara tidak sadar akan membentuk karakter anak.

Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dalam pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak ia lahir sampai meninggal di dalam keluarga/pergaulannya sehari-hari. Orang tua adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing anak dalam beberapa tahap pertumbuhan, yaitu mulai dari merawat, melindungi, mendidik, mengarahkan dalam kehidupan baru anak, dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001: 72). Graha (2007: 39) mengatakan bahwa orangtua bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan anaknya, karena (1) anak adalah anugerah Tuhan kepada orang tua, (2) anak mendapat pendidikan pertama dari orang tua , dan (3) orang tua lah yang mengetahui karakter anaknya. Interaksi di tahun-tahun awal dengan orang tua/ pengasuh serta kondisi lingkungan rumah memberikan pengaruh menetap dan jangka panjang pada kematangan perkembangan dan kesuksesan pendidikan anak.

Kemajuan teknologi memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat termasuk dalam ruang lingkup keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi saat ini terutama berbasis teknologi digital memberikan dampak positif dan juga dampak negatif bagi tumbuh kembang anak dalam keluarga. Teknologi digital, diantaranya internet, HP Android dan televisi menjadi satu aspek penting dalam faktor yang mempengaruhi perkembangan anak serta karakteristik anak. Kemunculan teknologi digital sesungguhnya bersifat netral, positif dan negatif yang dapat muncul dari alat ini tentu tergantung dari pemanfaatannya. Teknologi digital akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, jadi dapat membantu perkembangan anak. Maka dari itu diperlukan peran orang tua dalam mengawasi anak di era digital sekarang.

Tujuan Penulisan Makalah

1. Menyikapi bagaimana perkembangan dan kecanggihan teknologi saat ini yang berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan karakter pada anak.

2. Menjelaskan bagaimana peran orang tua untuk memfilter informasi dari media digital yang bernilai positif terhadap pendidikan anak.

 

BAB II

PEMBAHASAN

a. Pendidikan Karakter

Kata character berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal. Berakar dari pengertian yang seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan suatu pandangan bahwa karakter adalah pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang. Setelah melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat diramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada di sekitar dirinya (Sutdrajat, 2011: 2).

Karakter yang baik berkaitan dengan mengetahui yang baik (knowing the good), mencintai yang baik (loving the good), dan melakukan yang baik (acting the good). Ketiga ideal ini satu sama lain sangat berkaitan. Seseorang lahir dalam keadaan bodoh, dorongan-dorongan primitif yang ada dalam dirinya kemungkinan dapat memerintahkan atau menguasai akal sehatnya. Maka, efek yang mengiringi pola pengasuhan dan pendidikan seseorang akan dapat mengarahkan kecenderungan, perasaan, dan nafsu besar menjadi beriringan secara harmoni atas bimbingan akal dan juga ajaran agama (Sutdrajat, 2011: 2).

Hidayatullah (2010: 12) yang mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa latin yang berarti dipahat. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit dengan hati-hati dipahat atau pun dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Karakter, gabungan dari kebajikan dan nilai-nilai yang dipahat di dalam batu hidup tersebut, akan menyatakan nilai yang sebenarnya.

b. Smart Parenting

Smart Parenting didefinisikan sebagai keseluruhan yang dapat orangtua lakukan, hal-hal baik yang besar maupun yang kecil, hari demi hari, yang dapat menciptakan keseimbangan lebih sehat dalam rumah tangga dan hubungan dengan anak-anak. Tindakan orangtua harus menekankan pentingnya perasaan dan membantu orangtua dan anak-anak mengatasi serangkaian emosi dengan pengendalian diri. Anak-anak membutuhkan keterampilan-keterampilan untuk tumbuh dalam     lingkungan positif penuh perhatian dan kaya akan peluang (Syanii dalam Wati, 2014). 

Smart parenting merupakan  segala tindakan cerdas yang dilakukan oleh orang dewasa atau orangtua kepada anak-anak dalam rangka melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan dan  memberi panduan. Dalam berinteraksi dengan lingkungan, terdapat kecenderungan pengaruh-pengaruh yang masuk dalam diri anak, baik dalam hal tingkah laku, gaya bicara, pengetahuan, maupun pola hidup. Jika seorang anak sudah mulai berinteraksi dengan dunia luar, maka pengawasan dan pendampingan orangtua dalam hal ini sangat bermanfaat bagi masa pertumbuhan dan perkembangannya (Astuti, 2014).

Smart parenting merupakan pengasuhan cerdas oleh orangtua maupun orang dewasa dalam rangka memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai perkembangan yang optimal. Smart parenting ini umumnya dikerjakan oleh orangtua (ibu dan ayah), namun bila orang tua tidak mampu melakukan pengasuhan, maka tugas ini dapat dilimpahkan pada orang dewasa yang lain, seperti nenek, kakek, orang tua angkat, om, tante, maupun Tempat Penitipan Anak (Astuti, 2014). Di era digital ini, semua orang tua harus menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik anak sebagai generasi digital. Anak- anak saat ini dapat dikatakan sebagai generasi digital karena mereka lahir setelah adopsi teknologi digital.

c. Cara Mendidik Karakter Anak di Era Digital

Era digital merupakan istilah yang digunakan dalam kemunculan digital, jaringan internet, atau lebih khusus lagi teknologi informasi. Era digital ditandai dengan adanya teknologi, di mana terjadi peningkatan pada kecepatan dan arus pergantian pengetahuan dalam ekonomi dan kehidupan masyarakat. Orang tua yang merupakan bagian dari masyarakat informasi tidak dapat mengelak bahwa anak-anak di era digital tak pernah lepas dari benda-benda yang berhubungan dengan teknologi. Teknologi baru adalah salah satu indikator yang paling terlihat dari munculnya zaman baru, dan juga untuk menandakan kedatangan masyarakat informasi. Revolusi teknologi informasi menyebabkan tersebarnya teknologi komunikasi dan hal tersebutlah yang dapat menginsiprasi terciptanya masyarakat baru (Webster dalam Alia, 2018). Hadirnya teknologi digital yang sudah dikenal oleh anak-anak  adalah gadget yang banyak ditemukan dalam bentuk tablet dan handphone (HP). Era digital memudahkan siapa saja mengakses informasi, kapan saja dan di mana saja. Hal ini berlaku bagi siapa saja, termasuk juga anak-anak.

Anak-anak era generasi digital menjadi sangat cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi. Karenanya orang tua menghadapi banyak tantangan dalam membesarkan dan mengasuh anak-anak di era seperti sekarang. Karakter tidak bisa diajarkan dengan pendekatan teori untuk anak-anak, tetapi harus diajarkan dengan perilaku dan contoh perbuatan. Hal ini sejalan dengan pendapat Frank dan Goldenson dalam Moeslihatoen (2004), bahwa bermain bagi anak memiliki 8 fungsi antara lain: 1) Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa, seperti meniru ibu masak didapur, dokter mengobati orang sakit, 2) untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, supir mengendarai mobil, 3) untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Contohnya ibu memandikan adik, ayah membaca koran, kakak mengerjakan tugas sekolah, 4) untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air, 5) untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, 6) untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota, dan lain sebagainya, 7) Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya dan semakin dapat berlari cepat, dan 8) untuk memecahkan masalah dan mencoba penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makan, pesta ulang tahun.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Melalui pendampingan orang tua kepada anak saat menggunakan gadget tentunya dapat meningkatkan peran keluarga dalam mendidik anak atau pendidikan karakter di era digital. Karena tentunya kita mengharapkan kemajuan teknologi saat ini dapat bermanfaat bagi anak baik untuk meningkatkan kemampuan berfikir serta pembentukan mental anak. Selain itu orang tua yakni sebagai penanggung jawab utama atas anak harus menjalin kerjasama secara baik. Sehingga peran orang tua dalam mendidik anak dapat mencetak generasi cerdas serta berakhlak mulia di era digital seperti sekarang ini. Pendampingan ayah dan ibu bagi anak pada saat menggunakan gadgetnya dapat memberikan kesempatan bagi orang tua untuk membantu anaknya dalam menggunakan gadgetnya secara tepat. Selain itu, pendampingan orang tua bagi anak saat menggunakan gadgetnya juga dapat meningkatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

B. Saran

  1. Diharapkan tulisan ini dapat dijadikan rujukan bagi orang tua dalam mendidik anak tentang pendidikan karakter.
  2. Sebagai bahan bacaan bagi para orang tua dalam menghadapi dunia anak di Era Digital sekarang ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alia, Tesa dan Irwansyah, Pendampingan Orang Tua pada Anak Usia Dini dalam Penggunaan Teknologi Digital. A JournalofLanguage, Literature, Culture, andEducation POLYGLOT Vol.14 No.1 Januari 2018

Andriyani, Ika,  Peran Orang Tua Terhadap Kelangsungan Pendidikan Anak (Studi Kasus Pedagang di Pasar Tersono Kecamatan Tersono Kabupaten Batang). Skripsi. Semarang : Geografi UNNES, 2010

Astuti, Henny Puji, SmartParenting : Upaya Peningkatan Kemampuan Kognitif dan Kreativitas Anak Di Kelurahan Bandarjo, Boja, Kendal, Rekayasa Vol. 12 No. 1, Juli 2014. UNNES

Brooks,J.B, Parenting, ThirdEdition. California: MayfiedPublishing Company,  2001

Graha, C, Keberhasilan anak di tangan orangtua. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2007

Hidayatullah, M. F, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka, 2010

Moeslihatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak- Kanak, Jakarta: Rineka Cipta, 2004

Sudrajat, A, Strategi Pendidikan Karakter,  Jurnal Pendidikan Karakter Tahun I Nomor 1, 2011