Bukittinggi, Humas – Sebuah babak baru sejarah spiritual tengah ditorehkan di Kota Bukittinggi. Setelah melalui penantian panjang selama 32 tahun, kota yang dijuluki ‘Kota Perjuangan’ ini akhirnya kembali dipercaya menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-41 Tingkat Provinsi Sumatera Barat. Momentum yang dinanti-nanti ini disambut dengan tekad bulat dan kesiapan matang, sebagaimana dilaporkan secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, Eri Iswandi, dalam acara launching penyelenggaraan MTQ.
“Selaku panitia penyelenggara, kami menyadari sepenuhnya amanah besar ini. Setelah menunggu selama 32 tahun untuk mendapat giliran sebagai tuan rumah, seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah bertekad memberikan kontribusi semaksimal mungkin,” tegas Eri Iswandi dalam laporannya di Balairung Rumah Dinas Walikota Bukittinggi, Senin (10/11/25) petang.
Event bergengsi yang menjadi agenda rutin dua tahunan di tingkat Provinsi Sumatera Barat ini telah memiliki pijakan hukum yang kuat. Eri menyebutkan dasar penyelenggaraannya meliputi Peraturan Menteri Agama RI, Keputusan Gubernur tentang penunjukan Bukittinggi, serta surat penetapan perubahan jadwal terakhir, yang memastikan MTQ akan digelar pada 13 hingga 18 Desember 2025.
Sebagai bukti keseriusan, Eri Iswandi memaparkan komitmen pendanaan yang sangat signifikan. Pelaksanaan MTQ ini didanai bersama oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Bukittinggi dengan total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp18 miliar.
“Anggaran pendanaan bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Barat yang dialokasikan sebesar Rp7 miliar, dan ditambah dengan APBD Kota Bukittinggi sebesar Rp11 miliar,” jelasnya. Investasi besar ini tidak hanya untuk kemegahan acara, tetapi lebih untuk memastikan warisan nilai-nilai Alquran dapat disemaikan dengan sempurna.
MTQ ke-41 ini bukanlah event kecil, lanjutnya. Eri Iswandi melaporkan bahwa jumlah peserta yang akan memadati Bukittinggi mencapai 2.583 orang. Untuk mengakomodir gelaran akbar ini, panitia telah menyiapkan infrastruktur yang komprehensif dengan 16 venue yang tersebar strategis di seluruh penjuru kota.
Lapangan Kantin ditetapkan sebagai venue utama, didukung oleh 11 masjid yang menjadi pusat lomba, yaitu: Masjid Jamiah Agung Tengah Sawah, Masjid Jami’aur Kuning, Masjid Raudhatul Jannah, Masjid Nurul Iman, Masjid Tengah Dua, Masjid Tabliyah, Masjid Al-Falah Belakang Tembok, dan Masjid Mukhlisin Manggis. Selain itu, Gedung RRI, Auditorium Pustaka Bung Hatta, GOR, dan MAN 2 Kota Bukittinggi juga akan turut menjadi saksi meriahnya perlombaan.
Mengusung tema “Dari Bukittinggi Kota Perjuangan, Kita Bumikan Alquran untuk Sumbar Unggul Menuju Indonesia Emas”, panitia tidak hanya fokus pada aspek teknis perlombaan namun juga layanan prima dengan Liaison Officer. Untuk memastikan komunikasi dan koordinasi yang lancar antara kontingen daerah dengan panitia lokal, telah disiapkan dan ditunjuk Liaison Officer (LO) untuk masing-masing kabupaten/kota.
“Untuk komunikasi terkait layanan administrasi, kami telah menyediakan sekretariat yang bertempat di Rumah Dinas Walikota,” tambah Eri, menegaskan bahwa tata kelola panitia yang profesional dan terstruktur menjadi prioritas.
Dengan segala persiapan yang telah dijalankan, laporan Eri Iswandi ini bukan sekadar pengumuman administratif, melainkan sebuah deklarasi kesiapan Bukittinggi. Sebuah pesan kepada seantero Sumatera Barat bahwa setelah lebih dari tiga dekade menanti, Bukittinggi siap menjadi etalase syiar Alquran, menghadirkan event yang tidak hanya meriah, tetapi juga penuh makna dan barokah, mengukuhkan kembali jati dirinya sebagai kota yang menghidupkan semangat perjuangan dalam membumikan kitab suci.
Sementara itu Walikota Bukittinggi Muhammad Ramlan Nurmatias, selaku Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) setempat, menyatakan kesiapan kotanya untuk menggelar event akbar bernuansa religi tersebut.
Antusiasme menyambut Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XLI Tingkat Nasional tahun 2025 memancar kuat dari Kota Bukittinggi. Sebagai tuan rumah yang ditunggu setelah 32 tahun vakum, Pemerintah Kota Bukittinggi telah memulai persiapan panjang dengan melibatkan partisipasi publik, salah satunya melalui sayembara desain logo yang diikuti 47 peserta.
"Dalam menghadapi MTQN ke-41, Kota Bukittinggi sudah mengadakan persiapan yang cukup panjang," tegasnya dalam acara launching MTQ,
Ia mengungkapkan, proses kreatif telah dimulai dengan menggelar sayembara logo. "Logo MTQN ini diperlombakan dan tercatat 47 peserta yang berpartisipasi. Tujuannya agar kita bersama-sama melihat dan menilai yang terbaik," ujarnya.
Walikota menambahkan, pemenang tidak hanya mendapat kebanggaan moral, tetapi juga penghargaan.
"Walaupun nilainya tidak besar, tentu bagi pemerintah daerah dan panitia menjadi amal ibadah. Sementara bagi yang pemenang, ini akan menjadi kebanggaan tersendiri," imbuhnya.
Keberadaan Bukittinggi sebagai tuan rumah MTQ Nasional disebutnya sebagai momen bersejarah. "Dengan adanya MTQ XLI di Kota Bukittinggi setelah 32 tahun menunggu, ini adalah momentum langka," tuturnya dengan penuh semangat.
Ia juga mengisyaratkan event besar lain yang akan menyusul, "Dan tentu 2 tahun ke depan juga ada MTQ Provinsi Sumatera Barat, belum tahu daerah mana yang akan ditunjuk menjadi tuan rumah." Jelasnya.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Walikota memandang MTQ sebagai katalisator pembangunan yang membawa dampak multidimensi bagi kota berjuluk "Kota Wisata" ini. Menurutnya, dampak MTQ tidak hanya terbatas pada aspek penyiaran agama.
"Selain dampak spiritual untuk penyiaran agama, gelaran ini juga memiliki dampak yang lebih besar bagi kota kita," paparnya. Ia merinci, manfaatnya akan dirasakan secara ekonomi, sosial, dan terutama bagi sektor pariwisata. "Selain dampak ekonomi, dampak sosial, tapi juga berdampak besar terhadap potensi pariwisata Bukittinggi," jelasnya.
Pernyataan ini menguatkan posisi MTQ tidak hanya sebagai event seremonial, melainkan juga sebagai strategi pemasaran pariwisata yang powerful. Gelaran akbar ini diproyeksikan akan memompa perekonomian lokal, memberdayakan masyarakat, dan sekaligus mempromosikan keindahan serta kelestarian budaya Bukittinggi kepada khalayak nasional.
“Dengan persiapan yang matang dan, Bukittinggi tidak hanya siap menyajikan kompetisi tilawah yang berkelas, tetapi juga siap memamerkan warisan budaya Minangkabau yang kaya kepada seluruh Indonesia, menjadikan MTQ 2025 sebagai perpaduan sempurna antara ibadah, seni, dan geliat ekonomi kreatif.” Tukasnya. (vera)