Dari Bencana Bangkitkan Solidaritas: Dalam HAB ke-80, Kemenag Sumbar Tegaskan Agama adalah Perekat, Bukan Pembeda
adang, Humas-- Di tengah nuansa prihatin atas musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah, semangat kebersamaan terus menguat. Pada Senin pagi (08/12/25), halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat dipenuhi oleh aura refleksi dan harapan, Kakanwil Kemenag Sumbar Mustafa, secara khidmat membuka kegiatan pembukaan Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI.
Sebuah momen yang tak sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang perenungan mendalam tentang hakikat pengabdian. Dalam sambutannya Mustafa langsung merangkul realitas yang dihadapi masyarakat.
Diawali senam pagi, hadir Kepala Bagian Tata Usaha Edison, Kabid Papkis Joben, Kabid Urais Yosef Chairul, Pembilasan Kristen Yesri Elfis, Pembimas Katolik Henrikus Jomi, jajaran Ketua Tim, JFT dan JFU.
“Alhamdulillah, banjir yang melanda Sumatera Barat hari ini, kemarin. Kita sudah turun semuanya,” ujarnya, mengawali dengan apresiasi atas respons cepat jajarannya.
Ia pun menyampaikan terima kasih atas donasi yang terkumpul, menekankan bahwa bantuan tersebut adalah amal ibadah untuk meringankan beban saudara sebangsa yang terdampak.
Namun, pidato Mustafa melesat lebih jauh dari sekadar tanggap darurat. Ia menancapkan filosofi dasar yang menjadi landasan gerak, persaudaraan universal.
“Apapun agama dan kepercayaan dan keyakinan kita, semuanya adalah makhluk Allah Swt. Kebersamaan seperti inilah yang patut kita lestarikan dan dikembangkan,” tegasnya. Pesan ini senafas dengan visi Menteri Agama yang terus mengedepankan rasa persaudaraan sesama makhluk Tuhan.
Dengan gaya bertutur mengalir, Mustafa menghubungkan langsung semangat beramal dengan prinsip kehidupan. “Semakin banyak membantu orang lain, semakin banyak berinfak, bersedekah dan berderma, yakinlah Allah akan memberikan kepada kita rezeki yang tak terduga.” Ujarnya.
Pesan universal tentang kedermawanan ini ia katakan tak hanya ada dalam Islam, tetapi juga dalam ajaran agama lainnya.
Memasuki inti peringatan HAB ke-80, Mustafa menjelaskan bahwa momen ini adalah sarana refleksi kolektif.
“Sudah sejauh mana kontribusi kita terhadap Kementerian Agama ini? Sudah sejauh mana program-program kita laksanakan?” tanyanya retoris.
Ia mengingatkan bahwa HAB yang berakar pada tanggal 3 Januari 1946, adalah bukti sejarah yang unik, mungkin hanya Kemenag yang hari jadinya secara khusus diperingati dengan semangat amal bakti.
Refleksi itu kemudian dibawa ke ranah yang lebih filosofis tentang eksistensi Kementerian Agama di Indonesia. Dengan penekanan yang jelas, Mustafa memaparkan posisi krusial Kemenag dalam bingkai Negara Pancasila.
“Indonesia bukan negara agama. Bukan juga negara sekuler. Tapi Indonesia adalah negara Pancasila. Jika Indonesia negara Pancasila, maka negara harus hadir mengatur kehidupan umat beragama.”tambahnya.
Ia mengingatkan kedalaman pikiran para founding fathers yang mendirikan Kemenag sebagai regulator yang mengayomi semua umat beragama. Keberhasilan model ini, menurutnya, menjadikan Indonesia rujukan dunia.
“Kenapa sih kok bisa adem-ayem, bisa saling menyenangi, bisa saling menguatkan? Maka salah satunya adalah Pancasila.” Tekan Mustafa.
Di akhir sambutan yang menggugah, Kakanwil Mustafa menyerukan komitmen pengabdian total.
“Di sini kita lahir, di sini kita hidup, di Kemenag ini kita makan. Dan kemungkinan besar, di sini pula kita menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.” Pesan penutupnya adalah ajakan untuk menjauhkan sifat iri, dengki, dan sombong, serta menjalin kekompakan agar setiap tugas yang berat menjadi ringan.
Peringatan HAB ke-80 di Kanwil Kemenag Sumbar ini pun ditutup dengan doa bersama, bukan hanya untuk kesuksesan institusi, tetapi juga untuk keselamatan dan kekuatan masyarakat Sumatera Barat yang sedang diuji oleh musibah banjir.
Acara ini diyakini Mustafa sebagai bukti nyata bahwa nilai-nilai amal bakti, toleransi, dan pengabdian yang diusung Kemenag bukanlah wacana, tetapi aksi konkret yang lahir dari kesadaran mendalam sebagai makhluk Tuhan dan sesama anak bangsa.(vera)