Padang, Humas-- Bencana banjir dan tanah longsor melanda dengan dahsyatnya, menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Akses jalan penghubung antarkawasan terputus, mengisolasi sejumlah lokasi, sementara laporan korban jiwa terus berdatangan seiring dengan belum redanya cuaca ekstrem.
Menyikapi bencana yang masih berlangsung ini, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa, menyampaikan imbauan pada Sabtu, (29/11/25). Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama di tengah situasi darurat ini.
"Kami menginstruksikan seluruh jajaran Kementerian Agama di daerah yang terdampak untuk siaga penuh. Kepada masyarakat, mari kita saling menjaga dan membantu satu sama lain. Solidaritas kita saat ini diuji," seru Mustafa.
Lebih dari sekadar imbauan, Kakanwil Mustafa menyampaikan enam pesan pokok yang komprehensif, menggabungkan aspek kemanusiaan, tanggap darurat, dan spiritual untuk menghadapi musibah ini.
Pertama, Dukungan Moral dan Empati yang Mendalam. Mustafa menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa yang terdalam kepada para korban dan keluarga yang terdampak Ia menekankan pentingnya kehadiran dan kunjungan langsung dan melihat langsung lokasi bencana untuk memberikan dukungan moral dan empati, bukan sekadar pernyataan di belakang meja. Pihaknya mengaku sudah melaksanakan rapat tanggap darurat bencana secara virtual kemarin bersama jajaran. Bahkan telah menindaklanjutinya dengan pembuatan link pendataan ASN Kanwil Kemenag yang terdampak bencana.
Kedua, Solidaritas Nyata, Saling Mengulurkan Bantuan. Di saat banyak jalan terputus, jalan pertolongan harus tetap terbuka. Mustafa mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia, khususnya Sumatera Barat tanpa memandang latar belakang, untuk menunjukkan solidaritasnya.
Bantuan, baik materiil seperti sembako dan pakaian, maupun non-materiil seperti tenaga dan pelayanan psikologis, sangat dibutuhkan untuk meringankan beban saudara-saudara yang sedang berduka dan kesulitan.
Ketiga, Instruksi Tanggap Darurat dan Aksi Nyata Kemenag. Secara tegas, Mustafa mengajak jajaran Kemenag di tingkat kabupaten dan kota yang terdampak untuk melakukan bantuan sosial. "Lakukan tanggap darurat, koodinasikan dengan instansi terkait, serta ikut menyalurkan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan," pesannya.
Keempat, Kekuatan Doa Bersama Lintas Agama. Menyentuh ranah spiritual yang dalam, Kakanwil berharap seluruh tokoh agama dari berbagai iman dapat menyerukan inisiatif doa bersama.
"Marilah kita ketuk pintu rahmat Tuhan dengan doa yang tulus, dari seluruh umat beragama, agar musibah ini segera berlalu dan para korban diberikan ketabahan," ujarnya. Langkah ini digaungkan sebagai bentuk dukungan spiritual yang menyatukan.
Kelima, Refleksi Keagamaan di Tengah Cobaan. Bencana alam ini,menurut Mustafa, hendaknya menjadi momen refleksi bersama bagi seluruh umat manusia. Ia mengingatkan agar kita senantiasa mawas diri, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan senantiasa berusaha mengikuti petunjuk hidup yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt.
Keenam, Teguhkan Optimisme dan Perkuat Ketahanan. Di penghujung pesannya, Mustafa menyampaikan pesan ketahanan dan optimisme. "Dalam menghadapi cobaan, kita harus tetap optimis dan kuat. Perkuat juga ketahanan sarana peribadatan dan pendidikan kita dari risiko bencana di masa depan," imbaunya.
Kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan, seperti lereng bukit, bantaran sungai, dan daerah yang berpotensi longsor, Mustafa mengingatkan untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan sinergi pemerintah daerah. Khususnya peran tokoh agama dalam memberikan ketenangan kepada masyarakat melalui ceramah atau khotbah yang relevan dalam menghadapi bencana dan hikmah yang terkandung didalamnya. "Selalu pantau informasi dari pihak berwenang dan bersiaplah untuk mengungsi jika diperlukan. Dan yang tak kalah penting, mari kita panjatkan doa bersama agar musibah serupa tidak terulang lagi," tutupnya.
Saat ini, operasi penanganan bencana dan evakuasi masih terus dilakukan pihak yang berwenang. Enam langkah Kemenag Sumbar tersebut diharapkan Kakanwil dapat menjadi panduan bersama, tidak hanya bagi umat beragama, tetapi juga bagi seluruh masyarakat, untuk bergotong-royong menghadapi ujian berat ini. (Vera)