Hadapi Persaingan Global, Stafsus: Kemenag Dorong Pembenahan Pesantren, Dari Bahasa Inggris hingga Peta Talenta Santri

Padang – Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumelar, menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia ke depan semakin kompleks. Menurutnya, persaingan yang dihadapi bukan lagi sekadar di tingkat nasional, melainkan telah memasuki era "perang talenta" atau talent war global.

"Bukan hanya Indonesia, tapi hari ini adalah kita perang talenta. Talent war, perang talenta. Jadi kita siapkan soft skill, hard skill, kemudian dari human capital-nya kita siapkan," tegas Gugun dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren. Kegiatan yang berlangsung di Gedung J UIN IB Sungai Bangek Senin (24/11/25) dihadapan Kakanwil Mustafa didampingi Rektor UIN Marthin K dan Kabid Papkis Joben.

Gugun, yang juga merupakan alumni pesantren, menyoroti sejumlah langkah strategis yang harus segera diimplementasikan di lingkungan pesantren untuk menjawab tantangan ini. Fokus utamanya adalah pada penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing internasional.

Hal mendesak yang pertama disoroti adalah penguasaan bahasa Inggris. Gugun mengakui bahwa meski banyak orang Indonesia yang berkarya di Amerika dan Eropa, nilai TOEFL (Test of English as a Foreign Language) seringkali menjadi kendala.

"Yang paling utama adalah kita siapkan bahasa Inggris, yang kurang adalah bahasa Inggris. Mari kita, kalau kita persiapkan dengan bahasa, kita bisa menerjemahkan para ulama-ulama terkemuka dari Minangkabau. Di sini, Sheikh Al-Minangkabawi, Sheikh dari Al-Kalembang, Kalimantan, Jawa," ujarnya, menekankan bahwa dengan bahasa, khazanah keilmuan ulama Nusantara yang go international.

Selain bahasa, pembenahan fasilitas pesantren menjadi pilar kedua. Gugun menekankan pentingnya gedung pesantren yang layak dan unik bagi para ustadz dan kiai, yang berpengaruh signifikan terhadap kualitas pendidikan. Ia mengungkapkan komitmen pemerintah, dalam hal ini Presiden Prabowo Subianto, Menteri Agama, dan Menteri Keuangan, untuk membangun pesantren dengan dana APBN.

"Kita akan membangun dengan dana APBN bagaimana layaknya pesantren. Selain dengan standar, ada yang di atas Rp. 1.000, di atas Rp. 5.000. Itu akan di-asses oleh Kementerian PUPR bersama dengan Kementerian Agama," jelasnya, seraya menyebutkan bahwa Nota Kesepahaman (MOU) antar kementerian terkait telah ditandatangani bulan sebelumnya.

Pilar ketiga adalah pemenuhan gizi. Gugun menyambut baik program makan bergizi gratis yang diusung oleh Presiden Prabowo.

 "Bagaimana kita bisa bersaing dengan dunia internasional apabila kita tidak mempersiapkan gizi yang sehat bagi para ustadz, para kiai, para ulama?" tuturnya.

Di hadapan para pengurus pesantren, Gugun juga menyampaikan pesan khusus bagi para santri. Ia merumuskan tiga hal kunci yang harus dimiliki. Diantaranya mimpi, integritas, dan passion.

Dreams (Mimpi) adalah Santri dan ustadz harus memiliki mimpi besar untuk membangun peradaban, tidak hanya di konteks Indonesia, tetapi secara internasional. Gugun mengkritik posisi Indonesia dalam survei OECD yang masih rendah dalam hal daya baca, daya saing, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). "Ini otokritik bagi kita di pemerintahan," katanya.

Kedua, Prinsip dan Integritas. Meneladani sifat amanah, tabligh, dan fatonah, Gugun menegaskan bahwa integritas adalah pondasi.

Ia menyebut sejumlah nama seperti Yusuf Kala dan Yesyafie Marief, bahkan Menteri Agama sebagai contoh cendekiawan intelektual dunia yang lahir dari pesantren.

Ketiga, passion (Gairah/Minat Bakat): Di era meritokrasi, setiap santri harus memiliki pengakuan terhadap bakat dan minatnya masing-masing. Gugun menolak standarisasi yang kaku.

"Sekarang kita tidak semua bisa menekankan seorang santri harus hafal alfiah, harus hafal ini atau menjadi tahfiz, nggak bisa. Jadi setiap santri punya spesifikasi, tradisi, keilmuan, karakter yang berbeda-beda."jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong agar setiap pesantren melakukan mapping talent atau pemetaan bakat untuk setiap santri.

"Karena sekarang eranya meritokrasi sistem. Berdasarkan prestasi. Jadi saya ingin para santri, para ustad, para guru madrasah berprestasi di bidangnya masing-masing," tegasnya.

Terpisah, menanggapi pertanyaan mengenai Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), Gugun menegaskan bahwa program tersebut terbuka untuk umum, tidak terbatas pada kalangan pesantren atau ASN.

"Nah sekarang BIB itu terbuka untuk umum. Jadi mau ASN, non-ASN, mau P3K, mau guru passing grade, banyak sekali. Termasuk Beasiswa Riset untuk para santri, ulama, dan dosen. ASN tidak harus NIDN, tidak harus. Semuanya terbuka," pungkasnya mengakhiri paparan.

Menurutnya langkah-langkah komprehensif ini, bukti Kementerian Agama bertekad memposisikan pesantren sebagai pencetak talenta-talenta unggul yang siap bersaing dan berkontribusi dalam talent war global, sekaligus mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

Hadir Jajaran Pejabat Struktural dan fungsional lingkup UIN, Ketua FKUB, para ulama, pimpinan Pondok Pesantren, JFT dan JFU Bidang Kanwil Kemenag Sumbar serta mahasiswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Editor: Vethria Rahmi
Fotografer: Dila/zul