Payakumbuh, Humas - MTsN 2 Payakumbuh mulai bersiap menyongsong tahun ajaran baru dengan cara yang serius dan terarah. Selama dua hari, madrasah ini menggelar In House Training (IHT) bertema implementasi pembelajaran mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan pembelajaran korikuler, sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan madrasah yang maju, bermutu, dan mendunia.
Kegiatan yang berlangsung di ruang tertutup MTsN 2 Payakumbuh itu dibuka pada Sabtu (24/1/2025) dengan menghadirkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa, sebagai pemateri. Kehadiran orang nomor satu di Kemenag Sumbar ini menjadi penanda bahwa penguatan kualitas pembelajaran di madrasah memang mendapat perhatian serius.
Mustafa mengapresiasi langkah MTsN 2 Payakumbuh yang menyiapkan guru sejak awal, terutama dalam memahami pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta. Menurutnya, perubahan dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. “Perubahan itu keniscayaan, tapi harus kita sikapi dengan kesiapan, baik dari sisi pemahaman guru maupun dukungan sarana,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Mustafa menekankan pentingnya kesamaan pemahaman di kalangan guru. Ia mengajak peserta IHT untuk tidak sekadar mengikuti istilah yang berkembang, tetapi memahami maknanya secara utuh. “Deep learning ini bukan kurikulum baru, tapi pendekatan. Karena itu guru perlu paham perbedaannya,” kata Mustafa, sembari menjelaskan lima istilah penting dalam pembelajaran, mulai dari model hingga teknik.
Berbicara soal kurikulum, Mustafa menyebut bahwa apa pun bentuk kurikulumnya, selalu ada unsur dasar yang menjadi pegangan. “Empat hal ini tidak boleh hilang, tujuan, konteks, metode, dan evaluasi,” ujarnya. Jika unsur tersebut dipahami dengan baik, guru tidak akan gagap menghadapi perubahan kurikulum yang sudah berkali-kali terjadi di Indonesia.
Ia juga menyinggung Keputusan Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 yang menjadi dasar penerapan pendekatan pembelajaran mendalam di madrasah. Menurut Mustafa, pendekatan ini mendorong peserta didik untuk tidak sekadar menghafal. “Yang kita harapkan, siswa benar-benar paham konsep, mampu berpikir kritis, reflektif, dan bisa menerapkan ilmunya,” katanya.
Di tengah materi, Mustafa menyelipkan pesan lain yang tak kalah penting dengan menyinggung Asta Protas Menteri Agama, khususnya ekoteologi. Ia mengajak madrasah memberi perhatian lebih pada isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab pendidikan. Menurutnya, madrasah tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga kepekaan terhadap alam dan sekitarnya.
“Madrasah punya peran menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, dan itu bisa dimulai dari ruang kelas,” ujar Mustafa. Ia mendorong kepala madrasah dan tenaga pendidik untuk menginsersi nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan belajar mengajar, baik melalui materi pelajaran maupun praktik sederhana di lingkungan sekolah, sehingga kepedulian lingkungan tumbuh sebagai kebiasaan, bukan sekadar wacana
didampingi Kepala Kementerian Agama Kota Payakumbuh yang diwakili Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Jufrimal dan Kepala MTsN 2 Payakumbuh Yarisman, turut hadir pengawas madrasah, jajaran tenaga pendidik, pengurus komite, serta para narasumber.