Padang, Humas — Di tengah derasnya arus informasi dan masifnya penggunaan media sosial di kalangan aparatur, Kementerian Agama mengingatkan pentingnya kehati-hatian ASN dalam bersikap, bertutur, dan berperilaku di ruang digital.
Pesan itu disampaikan Kepala Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Wawan Djunaidi saat memberikan pembinaan aparatur sipil negara di lingkungan Kanwil Kemenag Sumatera Barat, Kamis (17/10/2025).
Turut hadir Kabag TU, Edison, Kasubbag Tata Usaha Biro SDM, Januar Nurcahyo, Kepala Bidang, Pembimas, Kakan Kemenag, perwakilan madrasah, KUA dan Penyuluh se Sumatera Barat.
Pembinaan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi ASN Kemenag Sumbar untuk meneguhkan kembali semangat pengabdian, sekaligus memahami isu-isu strategis kepegawaian yang kini menjadi perhatian nasional.
Dengan gaya penyampaian yang hangat namun tegas, Kabiro SDM mengurai sejumlah hal penting yang harus dipahami ASN agar tidak terjebak pada pelanggaran disiplin dan kesalahan etika di tengah perubahan zaman.
Salah satunya terkait mutasi pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Wawan menjelaskan, setiap PNS telah menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI serta tidak mengajukan pindah selama 10 tahun.
“Bagi PPPK, belum ada regulasi tentang mutasi. Maka, yang terbaik adalah memperbanyak rasa syukur. Masih banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi itu,” ujarnya mengingatkan.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian ASN yang melaporkan persoalan ke pihak eksternal sebelum diselesaikan secara internal. Menurutnya, sikap demikian justru dapat merugikan dan menjatuhkan marwah institusi.
“Kalau ada masalah, selesaikan dulu secara internal. Jangan sampai persoalan kita justru lebih dulu diketahui pihak luar. Itu sama saja mempermalukan rumah kita sendiri,” tegasnya.
Tak kalah penting, Wawan menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam pelayanan publik. ASN diingatkan untuk fokus bekerja selama jam layanan, karena di era digital setiap gerak dan perilaku mudah terekam masyarakat.
“Masyarakat menilai bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari bagaimana kita melayani. Jangan ada aktivitas di luar pekerjaan saat jam layanan, karena semua mata kini terbuka,” pesannya.
Terkait fenomena viral di media sosial, Kabiro SDM berpesan agar ASN mampu menempatkan diri dengan bijak dan tidak ikut-ikutan tren tanpa memahami konteks.
“Tidak semua yang viral patut ditiru. ASN harus bisa membaca ruang dan waktu. Misalnya, jangan tepuk sakinah sebelum akad nikah—itu sakral. ASN harus memberi keteladanan dan pendidikan kepada masyarakat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wawan menyoroti etika bermedia sosial. Menurutnya, ASN tetap boleh aktif di ruang digital, asalkan mampu menjaga batas profesionalitas dan etika bernegara.
“Kalau bermedsos, jangan gunakan simbol PNS untuk hal yang tidak pantas. Tapi kalau untuk edukasi dan memberi manfaat kepada masyarakat, silakan. Buat konten yang mencerahkan, seperti pegawai imigrasi yang membuat wawancara pelayanan paspor—itu contoh ASN cerdas dan adaptif,” jelasnya.
Melalui pembinaan ini, Kabiro SDM berharap ASN Kemenag semakin bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta mampu menjaga kehormatan lembaga di mana pun berada.
“Di dunia nyata maupun maya, kita tetap ASN. Di setiap langkah, ucapan, dan tindakan, melekat nama Kementerian Agama. Maka jagalah itu dengan sebaik-baiknya,” tutupnya penuh makna
Melalui pembinaan ini, Kabiro SDM berharap ASN Kemenag semakin bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta mampu menjaga kehormatan lembaga di mana pun berada.
“Di dunia nyata maupun maya, kita tetap ASN. Di setiap langkah, ucapan, dan tindakan, melekat nama Kementerian Agama. Maka jagalah itu dengan sebaik-baiknya,” tutupnya penuh makna.
Suasana berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat bersama untuk terus memperkuat profesionalitas, integritas, dan keteladanan ASN Kementerian Agama di tengah tantangan era digital. Rina