Kakanwil Mustafa Tekankan Guru Jadi “Muaddib”, Cetak Generasi Cerdas dan Berkarakter di Era Adaptif

Padang, Humas– Dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus bergerak, para pendidik dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan, termasuk perubahan kurikulum. Sejarah mencatat, Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan kurikulum.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat Mustafa, dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 1 Kota Padang, Rabu (19/11/25).

FGD yang mengusung tema “Implementasi Deep Learning Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)” ini dihadiri Kakankemenag Kota Padang Edy Oktafiandi, para narasumber, puluhan GTK MAN 1 Padang dan menjadi ajang silaturahmi sekaligus motivasi dari pimpinan.

Mengawali sambutannya, Kakanwil Mustafa menekankan pentingnya silaturahmi dan kolaborasi sebagai fondasi. Menjalin keakraban dengan menyatakan dirinya merupakan alumni mahasiswa magang di MAN 1 Padang selama tiga bulan. Ikatan emosional ini menjadi pembuka yang hangat bagi arahan yang disampaikannya.

Pasca dilantik sebagai Kakanwil oleh Menteri Agama RI, Mustafa kembali mengingatkan pentingnya pondasi kolaborasi yang kuat.

“Pentingnya kolaborasi, komunikasi, koordinasi, dan dukungan seluruh jajaran satuan kerja (satker) Kemenag,” ujarnya, menekankan bahwa kemajuan pendidikan harus diraih melalui kerja sama tim yang solid.

Lebih lanjut, Mustafa mengatakan perubahan adalah keniscayaan, kompetensi guru kunci utama. Mantan Kakankemenag Kota Solok menyampaikan bahwa bagi seorang pendidik, perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan.

Tujuannya jelas, agar output peserta didik yang lulus dapat mengikuti perkembangan dan memenuhi kebutuhan zaman yang terus berubah.

“Untuk itu, guru perlu terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian,” pesannya. Namun, ia menggarisbawahi keunikan dan kekuatan pendidikan di lingkungan Kemenag.

“Kita di Kemenag, selain empat kompetensi ini, dibungkus dengan kompetensi spiritual. Inilah yang membuat kekuatan dan ketersambungan rohani kita dengan Allah SWT.” Ujarnya.

Dalam pesan intinya yang inspiratif, Kakanwil Mustafa mendorong para guru untuk tidak berpuas diri. “Bapak ibu adalah mudarris (pengajar), mu’allim (pemberi ilmu), tetapi jangan berhenti sampai di situ, naikkan menjadi muaddib,” tegasnya.

Konsep muaddib ini, menurutnya, adalah kunci untuk menjawab tantangan pendidikan karakter. Seorang muaddib tidak hanya melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi yang lebih utama adalah transfer nilai dan karakter (transfer of value).

“Tidak ada gunanya ketika siswa atau santri memiliki pemikiran cerdas, tapi kering dengan karakter. Makanya, kalau sudah muaddib, maka transfer knowledge dan transfer value akan beriringan sejalan,” paparnya dengan penuh keyakinan.

Peran sebagai muaddib inilah yang diharapkan dapat mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademis tetapi juga mulia secara akhlak.

“Hal ini menandai komitmen bersama untuk terus memajukan pendidikan madrasah di Sumatera Barat, dengan memadukan kecerdasan intelektual dan spiritual dalam setiap proses pembelajaran.” Tandas Mustafa.

Sementara itu, Kepala MAN 1 Kota Padang Afrizal, dalam laporannya menyampaikan perkembangan dan prestasi yang telah dicapai madrasahnya. Ia menyampaikan harapan dan komitmen bersama untuk terus berkembang, termasuk upaya penambahan ruang kelas baru (RKB).

“Kita upayakan bersama komite dan masyarakat, bagaimana kita bisa membuat tambahan 2 rombel lagi, sehingga penerimaan siswa kita menjadi 9 rombel,” ujar Afrizal.

Dari segi kegiatan kesiswaan dan akademik, Afrizal mengaku geliat MAN 1 semakin sangat signifikan. “Dengan partisipasinya dalam event-event nasional, untuk kategori madrasah non-berasrama, kami menunjukkan progres yang membanggakan,” tambahnya.

Buktinya, seminggu sebelum FGD, MAN 1 Padang berhasil menyabet 9 kategori kejuaraan dalam Pentas Robotik Nasional yang digelar oleh Universitas Negeri Padang (UNP). Prestasi di tingkat nasional ini menjadi bukti nyata peningkatan kualitas siswa.

“Dari semua kegiatan yang ada, alhamdulillah pada iven yang digelar UIN Imam Bonjol Padang siswa tidak ada yang pulang dengan tangan kosong, selalu membawa prestasi walaupun peringkat III,” katanya bangga.

Semua prestasi ini diyakini Afrizal berkat peran serta dan kebersamaan seluruh ASN MAN 1 Kota Padang yang bertekad untuk terus berkompetisi.

“Kami bertekad menabuh genderang, selalu siap mengikuti event nasional dan internasional nantinya,” tegas Afrizal dengan semangat.

Di akhir sambutannya, Afrizal menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran dan motivasi dari Kakanwil.

“Ini merupakan pertemuan pertama Bapak Kakanwil dengan keluarga besar MAN 1 Padang, dan madrasah pertama yang dikunjungi oleh Bapak Kakanwil yang baru. Semoga MAN 1 Padang bisa menjadi madrasah yang maju, unggul, dan mendunia,” tutupnya penuh harap.

Kegiatan FGD ini dilanjutkan dengan sesi diskusi yang interaktif bersama narasumber dari LPMP UNP Padang.(vera) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Editor: Vethria Rahmi
Fotografer: vera/nurul/zul