Solok, Humas — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat menegaskan pentingnya peran Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam menyukseskan berbagai program prioritas Kementerian Agama.
Penegasan tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Kepala Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) tingkat Provinsi Sumatera Barat yang digelar di MTsN 6 Solok.
Kakanwil menekankan bahwa madrasah tidak hanya dituntut adaptif terhadap perubahan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menerjemahkan kebijakan kementerian ke dalam praktik pendidikan yang nyata dan berdampak.
Salah satu program yang menjadi perhatian utama adalah ekoteologi. Menurutnya, program ini bukan sekadar konsep, tetapi harus hidup di lingkungan madrasah. Ia mendorong agar nilai-nilai ekoteologi diinsersikan ke dalam setiap mata pelajaran, meskipun tidak berdiri sebagai mata pelajaran khusus.
“Ekoteologi harus terasa dalam denyut kehidupan madrasah. Bagaimana kita menciptakan ruang belajar yang asri, lingkungan yang bersih, pengelolaan sampah yang baik, hingga kebiasaan sederhana menata ruang kerja agar nyaman dan menenangkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, madrasah harus diperlakukan sebagai rumah kedua yang dirawat dengan penuh cinta. Lingkungan yang tertata, menurutnya, akan membentuk suasana belajar yang sehat dan produktif, sekaligus menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada peserta didik sejak dini.
Selain ekoteologi, Kakanwil juga menekankan pentingnya implementasi kurikulum berbasis cinta. Ia menyampaikan bahwa kurikulum ini memiliki irisan kuat dengan pendekatan deep learning dan menjadi ciri khas kebijakan pendidikan di Kementerian Agama.
Ia mengingatkan agar para pendidik tidak bersikap resisten terhadap perubahan kurikulum. Menurutnya, perubahan adalah keniscayaan dalam dunia pendidikan agar lulusan madrasah mampu bersaing di tingkat global.
“Kurikulum yang kita jalankan hari ini sejatinya sudah seharusnya diterapkan sejak lama. Jika kita tertinggal, dampaknya adalah daya saing lulusan yang melemah. Karena itu, kurikulum berbasis cinta harus kita sukseskan bersama, juknisnya pun sudah tersedia,” tegasnya.
Penekanan berikutnya adalah terkait pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kakanwil menyampaikan bahwa TKA merupakan kebijakan nasional yang harus dipahami dan dilaksanakan secara serius oleh seluruh satuan pendidikan, termasuk madrasah.
Ia mengapresiasi capaian Sumatera Barat di tingkat SLTA, di mana MAN Insan Cendekia Padang Pariaman menjadi satu-satunya madrasah yang mampu tampil dan bersuara di level nasional mewakili Sumatera Barat.
“TKA ini tidak bisa tidak harus kita sukseskan. Baik di MAN, MTs, maupun MI. Tentu diperlukan pemahaman yang utuh terkait tujuan, arah, dan strategi pelaksanaannya,” ungkapnya.
Ia berharap, melalui Rakor KKMTs ini, para Kepala Madrasah memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai TKA, sehingga mampu menyiapkan langkah-langkah strategis di masing-masing madrasah.
Menutup arahannya, Kakanwil menegaskan bahwa Rakor KKMTs harus menjadi ruang produktif untuk merumuskan langkah bersama. Ia berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan kesepahaman dan keputusan strategis demi penguatan mutu pendidikan madrasah di Sumatera Barat.