Padang, Humas – Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan kepedulian yang nyata terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah yang sedang berduka. Dalam kunjungan kerja penuh makna, Irjen Kemenag RI Khairunas, memimpin langsung acara pembinaan sekaligus penyerahan bantuan bagi ASN Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatra Barat yang terdampak bencana. Bantuan yang diserahkan mencapai nilai lebih kurang Rp 8,6 miliar, menjadi simbol solidaritas dan dukungan konkret bagi para abdi negara yang sedang menghadapi ujian.
Acara yang berlangsung pada Selasa (30/12/25) di Aula Amal Bhakti I Kanwil Kemenag Sumbar ini tidak hanya sekadar bersifat materiil. Khairunas menyampaikan pesan pembinaan yang mendalam, menekankan pada ketahanan spiritual dan integritas moral sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas.
Di hadapan para ASN, ia mengajak seluruh aparatur untuk senantiasa memperkuat tali spiritual dengan beristighfar, berdzikir, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
"Ketaatan beragama adalah sumber integritas tertinggi," tegas Khairunas. Ia merujuk pada lirik Mars Kementerian Agama yang menginspirasi, bahwa seorang aparatur harus mampu menunjukkan ketaatan melalui amalan-amalan sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW.
"Mari kita praktikkan dan hidupkan bersama salat berjamaah, puasa Senin-Kamis, salat dhuha. Dari sinilah akan lahir ketangguhan mental dan integritas yang kokoh dalam menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai ASN Kemenag," ujarnya.
Irjen juga mengingatkan tentang makna mendalam di balik sumpah jabatan yang pernah diikrarkan setiap ASN. Sumpah tersebut, menurutnya, bukanlah sekadar ritual kata-kata, melainkan komitmen suci yang harus diwujudkan dengan kejujuran, tanggung jawab penuh, dan disiplin tinggi dalam setiap detik bekerja.
Ia menggarisbawahi pentingnya implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS, khususnya Pasal 3 dan 4, Pasal 28 yang harus menjadi pedoman wajib dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
"Kehadiran kami hari ini adalah wujud dari fungsi early warning system dan pembinaan. Tujuannya saling mengingatkan, menguatkan, dan berupaya maksimal melakukan pencegahan hal-hal yang tidak diinginkan, baik dari aspek kedisiplinan maupun aspek lainnya," jelas Khairunas tentang esensi kunjungannya.
Penyerahan bantuan senilai Rp 8,6 miliar ini difokuskan untuk meringankan beban ASN yang rumah atau hartanya rusak bahkan hilang akibat bencana yang melanda Sumatra Barat beberapa waktu lalu. Bantuan diharapkan dapat menjadi pemulih semangat dan alat untuk mempercepat proses recovery, sehingga para ASN dapat kembali fokus mengabdi kepada masyarakat dengan tenaga dan pikiran yang lebih baik.
Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari Kakanwil Kemenag Sumbar Mustafa. Mustafa menyatakan bahwa bantuan ini bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga secara psikologis dan spiritual. Pesan-pesan pembinaan dari Irjen dinilai sebagai "vitamin rohani" yang sangat dibutuhkan di tengah tantangan berat pasca-bencana.
Di tengah suasana pemulihan pasca bencana banjir yang masih menyisakan duka, dinilai Mustafa kehadiran seorang putra terbaik Sumatra Barat membawa angin segar sekaligus bantuan konkret.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatra Barat Mustafa, atas nama seluruh jajaran dan masyarakat, menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI, yang berkesempatan ke Sumatera Barat.
“Bapak adalah putra asli Sumatra Barat. Ranah Minang adalah tanah kelahiran yang membentuk nilai, watak, dan semangat pengabdian Bapak,” ujar Mustafa dalam sambutan yang penuh keharuan.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Irjen Khairunas saat ini terasa sangat istimewa dan sarat makna, karena membawa pesan empati dan kepedulian yang dalam dari seorang saudara untuk kampung halamannya yang sedang berduka.
Dengan mengutip petuah adat Minangkabau yang sakral, “Dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Aakik samo diraso, sanang samo ditangguang,” Mustafa menggambarkan rasa solidaritas yang menyatu. “Apa yang dirasakan masyarakat Sumatra Barat hari ini duka, kehilangan, dan harapan dirasakan pula oleh urang awak di mana pun berada,” tambahnya.
Kehadiran Irjen diharapkan Kakanwil menjadi penegas bahwa dalam ikatan budaya Minang, tidak ada jarak antara anak nagari dengan tanah kelahiran.
Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Barat telah menyebabkan kerusakan yang luas, tidak hanya pada rumah penduduk, tetapi juga melanda institusi pendidikan agama seperti madrasah dan pondok pesantren, rumah ibadah, serta kantor urusan agama. Dalam kondisi ini, semangat “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang” (berat sama dipikul, ringan sama dijinjing) dihidupkan kembali.
Pada momen yang penuh simbolik ini, Kementerian Agama RI menyalurkan bantuan pemulihan dengan total nilai mencapai Rp 8.660.000.000 (delapan miliar enam ratus enam puluh juta rupiah). Bantuan tersebut dialokasikan secara komprehensif dan inklusif diantaranya sebagai berikut:
1. Rp 6,4 miliar untuk rehabilitasi madrasah.
2. Rp 510 juta untuk masjid dan musala.
3. Rp 600 juta untuk pondok pesantren.
4. Rp 500 juta bagi ASN/pegawai terdampak bencana (Kemenag Peduli).
5. Rp 450 juta untuk Kantor Urusan Agama (KUA).
6. Rp 200 juta untuk rumah ibadah Kristen.
“Bantuan ini bukan sekadar angka dan nominal, tetapi merupakan wujud nyata kehadiran negara, cerminan nilai kemanusiaan, serta bukti bahwa Kementerian Agama berdiri untuk seluruh umat, lintas agama dan golongan,” tegas Mustafa.
Ia pun menyelipkan pepatah Minang lain, “Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh,” yang melambangkan ketahanan dan nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh keadaan.
Melalui pembinaan yang disampaikan Irjen, diharapkan seluruh ASN Kemenag di Sumatra Barat dapat semakin menguatkan integritas, moral, dan keikhlasan pengabdian.
“Dalam suasana pascabencana, ASN Kementerian Agama dituntut tidak hanya profesional dalam bekerja, tetapi juga hadir dengan hati, menjadi teladan, dan penguat umat di tengah masyarakat,” pungkas Mustafa.
Kunjungan ini menjadi simbol kuat dari penyatuan antara tugas negara, tanggung jawab moral, dan ikatan kultural. Sebuah “pulang kampung” yang tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga mengobarkan semangat kolektif bahwa dengan gotong royong dan kepercayaan yang kokoh, Sumatera Barat akan bangkit lebih kuat.
Mustafa mengharapkan agar semua bantuan dan pembinaan yang diberikan menjadi berkah, menguatkan soliditas internal Kemenag, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan kepada masyarakat Sumatra Barat.(vera)