Lembaran Sejarah Refleksi 80 Tahun Kemenag, Kakanwil: Membangun Harmoni, dari Upacara hingga Donasi Sosial Bencana

Padang, Humas- Hari ini ASN Kemenag memperingati Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama dengan mengusung tema "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju." Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan.

Demikian diutarakan Kakanwil Mustafa usai pelaksanaan Upacara HAB Kemenag, Sabtu (03/01/26) siang.

Kakanwil Mustafa, dengan suara tenang penuh wibawa, memulai narasinya bukan dengan klaim pencapaian, tetapi dengan ungkapan syukur yang dalam kepada Allah SWT. Sabtu, 3 Januari 2026, bukan tanggal biasa.

“ Ini adalah momen di mana waktu membungkuk hormat, menyatukan dua era semangat 03 Januari 1946 yang membara dan kematangan 80 tahun setelahnya.” Ujar Mustafa.

“Delapan puluh tahun,” lanjutnya seolah menimbang beratnya makna sebuah perjalanan. “Jika ini adalah usia manusia, ia telah mencapai puncak kebijaksanaan. Dan seperti manusia bijak, inilah saatnya kita berhenti sejenak, bercermin, bermuhasabah.” Katanya lagi.

Kakanwil mengajak setiap ASN Kementerian Agama yang hadir baik secara fisik maupun hati untuk bertanya pada diri sendiri. Sejauh mana kontribusi kita nyata terasa dalam denyut nadi kehidupan umat beragama. Di mana jejak kita dalam membangun harmoni, mengukir toleransi, dan menjadi penyejuk di tengah dahaga spiritual bangsa.

Pertanyaan itu bukan untuk dijawab dengan cepat, melainkan untuk digali dalam-dalam. Mustafa melanjutkan, menelusuri lembaran tua dan baru sejarah Kemenag.

“Dengan demikian, senjakala usia Kemenag ini menjadi pemantik. Apa yang telah kita perbuat dengan baik, kita syukuri. Apa yang masih tertinggal, kita akui dengan rendah hati. Dan yang terpenting, apa yang menjadi mimpi dan inovasi kita untuk melangkah lebih gagah di masa depan?” Kata ‘inovasi’ di sini bukan sekadar teknologi, tetapi inovasi hati, pendekatan, dan keberpihakan yang lebih tulus untuk umat.

Kemudian, narasi bergeser dari renungan agung ke realitas penuh semangat siang itu. Perayaan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di Sumatera Barat diwarnai bukan dengan kemeriahan seremonial, tetapi dengan aksi nyata yang menyentuh langsung kemanusiaan.

Upacara bendera di bawah arahan Gubernur, yang membacakan amanat Menag, sebut Mustafa menjadi simbol keselarasan antara otoritas negara dan spirit keagamaan.

Ruang upacara pun diisi oleh mozaik kebhinekaan yang indah. dari pimpinan daerah, tokoh ulama yang menjadi mercusuar moral, para tokoh adat kearifan lokal, hingga Bundo Kanduang yang menjadi simbol martabat dan kebijaksanaan perempuan Minang.

“Mereka semua hadir, menyatakan bahwa bangunan agama tak berdiri sendiri, tetapi bersenyawa dengan tata sosial dan budaya.” Tambah Mustafa.

Namun, esensi perayaan justru bersemi lebih awal, dalam aktivitas yang lebih personal dan penuh empati. Donor darah di mana setiap tetesnya adalah wakaf kehidupan untuk sesama yang tak dikenal. Olahraga bersama yang menyegarkan raga dan merekatkan kebersamaan internal ASN Kemenag Sumbar. Ini adalah perayaan yang sederhana, namun bermakna lapis.

Dan esoknya, semangat itu terus mengalir. Jalan sehat akan menjadi parade kebersamaan yang mengakar di masyarakat. Lebih dari itu, ada pengumpulan donasi sebuah gerakan mengumpulkan kepedulian yang akan ditransformasikan menjadi bantuan nyata bagi masyarakat yang terdampak kesulitan.

“Di sini, agama tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi turun ke jalan, menjenguk, dan mengulurkan tangan.”ungkapnya.

Mustafa menutup renungannya dengan sebuah harapan yang terdalam, seperti doa yang dipanjatkannya.

“Semoga di usia ke-80 ini, Kementerian Agama semakin dewasa dan matang. Kedewasaan yang bukan hanya diukur dari tahun, tetapi dari kedalaman kontribusi. Kematangan yang terasa bukan dalam upacara, tetapi dalam manfaat dan dampak yang benar-benar menghunjam di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk ini.”jelasnya.

Narasi ini pun menurut Mustafa meninggalkan pesan 80 tahun adalah sebuah tonggak sejarah yang gemilang, tetapi juga sebuah permulaan baru.

Dari refleksi muncul kejernihan, dari muhasabah lahir tekad, dan dari aksi sederhana seperti donor darah hingga jalan sehat, terpancar cahaya misi abadi Kemenag, menjadi pelayan umat, perekat bangsa, dan penjaga api spiritual Indonesia yang terus menyala-nyala.

“Selamat Hari Amal Bakti ke-80. Semoga setiap tahun yang bertambah, adalah langkah yang semakin mendekat pada hati masyarakat,” harapnya. (vera)

 

 


Editor: Vethria Rahmi
Fotografer: Vera/dilla