Meneguhkan Kembali Makna Sholat Isya dan Subuh Berjamaah di Peringatan Isra Mikraj

PADANG, Humas – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 H di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat digelar dalam suasana khidmat melalui kegiatan wirid mingguan, Jumat (23/01/2026). Bertempat di Masjid Mambaul Ikhlas, kegiatan ini menjadi momentum refleksi bersama bagi aparatur untuk kembali meneguhkan nilai-nilai ibadah, terutama pentingnya menjaga sholat berjamaah.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, lalu dilanjutkan dengan siraman rohani yang mengangkat tema keutamaan sholat Isya dan Subuh berjamaah. Dua waktu sholat yang kerap terasa berat, namun justru menyimpan nilai yang besar di sisi Allah.

“Kalau manusia benar-benar tahu keutamaan sholat Isya dan Subuh berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya walau harus merangkak,” disampaikan penceramah, Zulheldi dalam tausiyahnya.

Menurutnya, keutamaan dua sholat tersebut bukan semata soal pahala, tetapi juga menjadi penanda kejujuran iman. Sholat Isya dan Subuh berjamaah, kata dia, adalah benteng yang menjaga seseorang dari sifat munafik.

Ia menjelaskan, sholat berjamaah memiliki keutamaan yang berlipat. “Sholat berjamaah itu pahalanya dua puluh tujuh derajat. Setiap langkah ke masjid, satu derajat diangkat, satu dosa kecil dihapus,” ujarnya.

Langkah menuju masjid, lanjutnya, tidak pernah sia-sia. Setiap langkah bisa dimaknai sebagai bertambahnya kedamaian, kenikmatan hidup, dan keberkahan. Bahkan, selama seseorang berada di dalam masjid dan belum berhadas, malaikat terus mendoakannya.

Dalam ceramah tersebut juga disampaikan peringatan keras Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang enggan mendatangi masjid. Nabi pernah bersabda tentang keinginannya menunjuk seseorang menjadi imam, lalu beliau mendatangi rumah orang yang tidak sholat berjamaah untuk dibakar.

“Yang dimaksud dibakar itu bukan api secara fisik, tapi bisa berupa hilangnya ketenangan dan keberkahan di dalam rumah,” jelas penceramah.

Keutamaan sholat berjamaah, kata dia, juga ditegaskan langsung dalam Alquran. Salah satunya melalui Surah An-Nisa ayat 102 yang menjelaskan perintah sholat berjamaah dalam kondisi perang.

“Dalam Surah An-Nisa ayat 102, Allah memerintahkan sholat berjamaah meski dalam kondisi perang. Pasukan dibagi dua, bergantian sholat dan berjaga sambil membawa senjata. Artinya, sholat berjamaah tidak gugur dalam keadaan apa pun,” ujarnya.

Ceramah kemudian ditutup dengan kisah seorang sahabat Nabi yang buta. Sahabat tersebut datang kepada Rasulullah SAW dan meminta keringanan untuk tidak sholat berjamaah karena tidak ada yang menuntunnya ke masjid.

“Awalnya Rasulullah membolehkan. Tapi ketika sahabat itu berjalan pulang, beliau dipanggil kembali dan ditanya, ‘Apakah engkau mendengar azan?’ Ketika dijawab bisa, Rasulullah berkata, ‘Maka penuhilah panggilan itu,’” tuturnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat yang diwakili Kepala Bidang Papki, Joben, menyebut materi yang disampaikan menjadi pengingat keras bagi seluruh aparatur.

“Apa yang kita dengar hari ini menjadi tamparan besar bagi kita semua, bahwa sholat berjamaah terutama sholat Isya dan Subuh. Jika bisa dijaga, hal itu akan berpengaruh pada peningkatan iman dan takwa, terlebih lagi kita sebagai aparatur Kementerian Agama.,” ujar Joben.

Ia juga mengapresiasi peran para penyuluh agama dan kepala KUA yang aktif mengisi peringatan Isra Mikraj di masjid dan musala.

“Ini sejalan dengan tugas Kementerian Agama, bagaimana nilai-nilai keimanan dan ketakwaan itu tidak hanya disampaikan ke masyarakat, tapi juga benar-benar hidup dalam diri aparatur,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti Ketua Tim Kerja, pejabat Jabatan Fungsional Tertentu dan Umum, CPNS, serta mahasiswa Praktik Lapangan.


Editor: Eri
Fotografer: zul