Padang, Humas– Rapat koordinasi (Rakor) dinilai sebagai instrumen krusial dalam menyelaraskan persepsi dan menggali potensi madrasah di daerah. Semangat kolektif untuk memajukan pendidikan madrasah hanya akan tercipta jika koordinasi dan komunikasi antar-pemangku kepentingan terbangun dengan solid.
Pesan tersebut ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Barat dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) se-Sumatera Barat, Selasa (10/02/26). Kegiatan yang digelar di Padang ini dihadiri oleh 105 kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) dari berbagai kabupaten/kota.
“Sejumlah tantangan yang muncul di tiap daerah tentu perlu direspons dengan paradigma yang sama untuk menghasilkan solusi progresif dan signifikan. Rakor seperti ini perlu diintensifkan,” ujar Kakanwil di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Kakanwil menekankan bahwa di samping semangat berkompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat), peningkatan mutu madrasah juga memerlukan kolaborasi dengan seluruh elemen, termasuk Komite Madrasah dan pihak terkait lainnya.
Ia memberikan apresiasi kepada MI, termasuk Raudhatul Athfal (RA) yang dinilai mandiri dan gesit dalam menciptakan peluang kegiatan, mulai dari skala lokal hingga nasional.
“Kami mengakui dedikasi MI dan RA di Sumatera Barat. Animo masyarakat hari ini jauh lebih tinggi untuk menyekolahkan anak mereka ke MI atau RA. Kepercayaan ini adalah amanah yang harus kita tunaikan dengan baik,” tegasnya.
Di tengah tingginya kepercayaan masyarakat, Kakanwil Mustafa mengingatkan pentingnya pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan, meski diakui adanya keterbatasan anggaran. Ia juga menekankan tata kelola komunikasi dan pengelolaan dana komite yang harus transparan dan sesuai regulasi.
“Bagaimana menjalin hubungan dengan komite, menghimpun dan menggunakan dana dengan tepat, itu sangat penting. Jangan sampai terjadi kesalahan,” pesannya.
Kepada seluruh aparatur dan pimpinan madrasah, Kakanwil meminta untuk lebih fokus pada tugas manajerial dan pengembangan lembaga.
“Luangkan dan maksimalkan potensi yang ada. Jalin komunikasi dengan lintas sektor sehingga banyak program dapat dijalankan sesuai harapan dan aturan.”
Kolaborasi dan kekompakan, menurutnya, adalah kunci mengatasi perbedaan pendapat. “Bangun jembatan hati. Jika ada yang tidak setuju dengan suatu ide, komunikasikan dan bangun kebersamaan. Jangan pernah lari dari masalah di madrasah, hadapi karena setiap madrasah punya keunikan sendiri,” lanjutnya.
Menutup arahan, Kakanwil berharap rakornya menjadi langkah awal yang efektif. “Mari kita sukseskan program-program kita. Jadikan rakor ini titik awal kolaborasi yang lebih erat, khususnya dengan Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad). Mari bersama wujudkan madrasah yang semakin hebat dan bermartabat untuk menjawab kepercayaan masyarakat Sumatera Barat,” pungkasnya.
Mengokohkan visi kolektif yang berorientasi pada outcome pendidikan yang tangguh dan relevan, Kakanwil berharap rakor yang berlangsung dinamis ini diharapkan mampu memantik terobosan-terobosan baru dalam pengelolaan madrasah.
Termasuk memperkuat jaringan, dan secara konkret mengakselerasi peningkatan kualitas pendidikan madrasah ibtidaiyah di ranah Minang.
Sebelumnya Ketua Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Sumatera Barat M. Yusuf memaparkan peta kekuatan dan capaian yang telah dibangun oleh forum strategis ini.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa jaringan madrasah ibtidaiyah di ranah Minang terdiri dari 62 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan 85 Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
"Dari total keseluruhan tersebut, hari ini kita hadirkan 105 perwakilan kepala madrasah dalam forum yang berlangsung di Aula Bakti I ini," ujarnya, menegaskan komitmen keikutsertaan yang tinggi.
Yusuf menjelaskan bahwa kepengurusan KKMI Sumbar yang dibentuk pada Maret 2025 telah menunjukkan dinamika positif. Pasca pembentukan, telah diselenggarakan dua kali workshop peningkatan kapasitas.
Rakor kali ini, selain menjadi ajang silaturahmi dengan Kakanwil yang baru, juga menandai perjalanan sinergi yang kian intensif.
"Ini adalah rangkaian rakornya. Sebelumnya telah dilaksanakan di Pasaman Barat, MIN Kota Payakumbuh, dan MIN 1 Solok Selatan. Hari ini di Padang, dan ke depan insyaallah Agam akan menjadi tuan rumah selanjutnya," paparnya, menunjukkan pola kerja yang terstruktur dan menjangkau berbagai wilayah di Sumbar.
Tidak hanya fokus pada koordinasi internal, KKMI Sumbar juga aktif mendorong kreativitas dan kesadaran lingkungan melalui program perlombaan.
"Kami telah menyelenggarakan lomba video bertema ekoteologi, yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian lingkungan. Juara I diraih oleh perwakilan dari Padang, disusul Bukittinggi di posisi kedua, dan Dharmasraya di posisi ketiga," lapor Yusuf, menambahkan dimensi inovasi dalam gerakan peningkatan mutu.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seluruh kegiatan yang bersifat provinsi maupun kabupaten/kota telah dan akan selalu berusaha untuk bersinergi dengan Pemerintah Daerah setempat.
"Koordinasi dan kemitraan dengan pemda adalah keniscayaan untuk memperkuat legitimasi dan dukungan operasional," jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Yusuf juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas TKA dan kontinuitas pendidikan dasar. Ia menegaskan bahwa fondasi yang dibangun di MI sangat menentukan arah dan daya saing alumni madrasah ketika harus berinteraksi dan bersaing dengan lembaga pendidikan agama maupun umum lainnya di tingkat selanjutnya.
"Harapan kami, seluruh program dan aspirasi yang dirancang KKMI dapat terintegrasi dengan kebijakan pihak terkait dan Pemerintah Daerah. Kolaborasi nyata inilah yang pada akhirnya akan melahirkan lulusan madrasah yang tidak hanya bermutu secara akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki karakter moderat, adaptif, dan berdaya saing tinggi di masa depan," tutup M. Yusuf.
Dengan demikian, rakornya tidak hanya berhenti pada tukar pikiran, tetapi telah menunjukkan jejak kerja nyata dan peta jalan kolaboratif yang jelas, memperkuat posisi madrasah sebagai institusi pendidikan unggulan yang progresif dan terhubung dengan semua pemangku kepentingan.(vera)