Padang — Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat dimaknai sebagai ruang refleksi dan peneguhan kembali nilai-nilai pengabdian. Melalui kegiatan tasyakuran yang digelar di Aula Amal Bhakti I Kanwil Kemenag Sumbar, Rabu (7/1/2025), jajaran Kementerian Agama berkumpul dalam suasana khidmat, penuh syukur, dan kebersamaan.
Tasyakuran ini dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa, Plt. Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumbar, M. Rifki, para Kakanwil Kemenag Sumbar pada masanya yakni Dalimi Abdullah, Ismail Usman, dan Salman K. Memed, Kepala Bagian Tata Usaha Edison, serta jajaran pejabat dan ASN Kemenag.
Turut hadir Kepala UPT BPJPH Sumbar Ikrar Abdi, Kepala UPT Asrama Haji Afrizen, Kepala Kankemenag dan Kakan Kemenhaj kabupaten/kota se-Sumatera Barat, Ketua KKMA, KKMTs, KKMI, IGRA, APRI, AKPAI, serta seluruh Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kanwil Kemenag Sumbar.
Dalam sambutannya, Kakanwil Kemenag Sumbar, Mustafa, menegaskan bahwa Hari Amal Bhakti bukan sekadar peringatan hari lahir Kementerian Agama, melainkan momentum muhasabah dan penguatan komitmen pengabdian.
“Hari Amal Bhakti bukan sekadar memperingati tanggal berdirinya Kementerian Agama, tetapi menjadi momentum refleksi, muhasabah, dan peneguhan komitmen seluruh insan Kementerian Agama dalam melayani bangsa dan negara,” ujar Mustafa.
Ia mengingatkan, delapan puluh tahun silam Kementerian Agama lahir dari rahim sejarah perjuangan bangsa. Sejak awal, Kementerian Agama hadir sebagai penyangga moral, penjaga harmoni, dan pelayan umat dalam kehidupan beragama yang rukun, damai, dan bermartabat.
“Hingga hari ini, Kementerian Agama tetap berdiri tegak memikul amanah besar untuk merawat keberagaman, memperkuat persatuan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan yang berakar pada kemanusiaan,” lanjutnya.
Memasuki usia ke-80, menurut Mustafa, Kementerian Agama terus bertransformasi sejalan dengan Asta Protas Menteri Agama, yang menegaskan arah penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, layanan keagamaan yang berdampak, pendidikan keagamaan yang unggul dan ramah, serta penguatan nilai ekoteologi dan moderasi beragama.
Di Sumatera Barat, nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dan berurat berakar dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. “Ini adalah modal sosial sekaligus modal spiritual yang sangat berharga untuk terus memperkuat peran Kementerian Agama sebagai pelindung dan penguat kehidupan berbangsa,” ujarnya.
Dalam suasana pemulihan pascabencana yang masih dirasakan di sejumlah daerah Sumatera Barat, Mustafa menegaskan bahwa Kementerian Agama dituntut hadir tidak hanya sebagai institusi administratif, tetapi juga sebagai pelayan kemanusiaan—penguat harapan dan penyejuk batin masyarakat.
Sejalan dengan itu, rangkaian peringatan HAB ke-80 di lingkungan Kanwil Kemenag Sumbar juga diisi dengan berbagai aksi kepedulian, termasuk penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak bencana. Hal tersebut menjadi wujud nyata menghadirkan nilai-nilai keimanan dalam tindakan, memperkuat ukhuwah, serta meneguhkan semangat kerukunan dan cinta kemanusiaan.
Mengutip falsafah Minangkabau barek samo dipikul, ringan samo dijinjiang, Mustafa menegaskan bahwa duka tidak boleh dipikul sendiri, dan luka harus disembuhkan bersama. “Inilah nilai yang ingin terus kita rawat dan hidupkan,” katanya.
HAB ke-80, lanjutnya, dimaknai sebagai ajakan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat empati, dan memperluas kebermanfaatan, agar kehadiran Kementerian Agama benar-benar menjadi rahmat dan penguat harapan bagi sesama.
“Mari kita jadikan tasyakuran ini sebagai ungkapan rasa syukur atas segala capaian, sekaligus muhasabah atas kekurangan. Kita perbarui niat, luruskan pengabdian, dan perkuat integritas sebagai ASN Kementerian Agama,” tutup Mustafa.
Ia berharap, di usia ke-80 ini Kementerian Agama semakin matang dalam pengabdian, semakin kokoh dalam integritas, dan semakin dicintai oleh umat.