Padang, Humas— Kementerian Agama terus berupaya menghadirkan wajah dakwah dan pendidikan Islam yang lebih sejuk, inklusif, dan berakar pada nilai kemanusiaan. Upaya itu salah satunya diwujudkan melalui Uji Publik Silabus Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Majelis Taklim
Kegiatan ini dihadiri Direktur Pemberdayaan KUA sekaligus Plt. Direktur Penerangan Agama Islam (Penais), Ahmad Zayadi, Plt. Kakanwil Kemenag Sumbar, Kabid Penais Zawa, Abrar Munanda, serta pengurus majelis taklim dan ormas keagamaan, yang digelar di Aula AB II Kanwil Kemenag Sumbar, Senin (3/10).
Dalam arahannya, Ahmad Zayadi menegaskan bahwa gagasan Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep, melainkan fondasi spiritual dan sosial dalam membangun masyarakat beragama yang penuh kasih.
Zayadi menjelaskan, Menteri Agama mengidentifikasi ada lima dimensi cinta, diantaranya; cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, dan cinta tanah air.
"Kalau semua layanan berbasis cinta, maka tidak akan ada persaingan tidak sehat, tapi persaingan yang saling mendukung karena dilandasi semangat cinta,” ujarnya.
Zayadi juga menjelaskan, lima dimensi cinta ini akan menjadi dasar pembentukan karakter insan Indonesia yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan penuh kasih. Ia mencontohkan, Rasulullah SAW sendiri telah meneladankan kemanusiaan universal yang melampaui sekat keyakinan.
“Ketika Rasul berdiri memberi penghormatan pada jenazah non-Muslim, itu bukti bahwa nilai kemanusiaan melampaui identitas agama. Humanisme Islam adalah inti dari ajaran cinta itu,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai-nilai cinta harus diintegrasikan dalam seluruh layanan Kementerian Agama — mulai dari pendidikan, dakwah, hingga pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, setiap ruang layanan publik menjadi wadah yang ramah, menyenangkan, dan menumbuhkan kesejahteraan lahir batin.
Zayadi juga menekankan bahwa konsep cinta kepada lingkungan dan tanah air tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas Islam. Manusia, kata dia, hanyalah penjaga sementara bumi yang dipinjamkan untuk generasi mendatang.
“Cinta lingkungan berarti menjaga keseimbangan alam. Jangan sampai anak cucu kita kehilangan hak menikmati bumi ini karena ulah kita hari ini,” pesannya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa semangat KBC juga sejalan dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, yang menjadi dasar bagi seluruh dimensi kehidupan berbangsa.
“Nilai Ketuhanan dalam sila pertama melandasi seluruh sila lainnya. Maka Indonesia sejatinya adalah bangsa yang religius, bangsa yang bertuhan,” ujarnya.
Zayadi berharap Kurikulum Berbasis Cinta menjadi jawaban strategis dalam melahirkan generasi Indonesia Emas 2045, yakni generasi yang beragama dengan penuh kesadaran, menghargai martabat kemanusiaan, dan hidup selaras dengan alam.
“Kalau ruang-ruang majelis taklim dibangun dengan semangat cinta, maka layanan dakwah akan terasa hangat, aman, dan menyejukkan. Inilah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya,” tutupnya.
Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di majelis taklim menjadi langkah baru untuk menghadirkan dakwah yang menentramkan dan mendidik dengan kasih. Dari ruang-ruang taklim inilah, nilai-nilai cinta diharapkan tumbuh subur—mewarnai cara umat belajar, berdialog, dan beribadah dengan hati yang lapang.